Emosi Joy Dominasi Usulan Susi Pusjiastuti Bubarkan Kemendag

Emosi Joy Dominasi Usulan Susi Pusjiastuti Bubarkan Kemendag

Permintaan Susi Pudjiastuti untuk mengatasi impor jagung dengan cara membubarkan Kementerian Perdagangan mendapat respon publik cukup mendalam. Evello mendeteksi usulan tersebut bersentimen negatif cukup besar, yaitu skor 48,68%.

Meski bersentimen negatif, emosi Joy mendominasi perasaan publik terhadap usul Susi. Dengan skor emosi Joy 37%, usulan tersebut walau dianggap ekstrem (sentimen negatif) cukup mewakili perasaan publik.

Selain emosi Joy, emosi Sadness juga terlihat dominan dengan skor 36%. Dalam terminologi evello, setiap isu bersentimen negatif dengan emosi Joy dan Sadness bergandengan akan cenderung menjadi polemik publik.

Evello juga mendeteksi skor Strength Analyzer cukup besar untuk solusi mengatasi impor jagung oleh Susi. Dengan skor Analytical mencapai 90%, pendapat Susi dan alasan yang melatarbelakangi usulan tersebut menarik perhatian publik dan menuai percakapan cukup intens.

Dari Taxonomy Analyzer evello membagi tema pemberitaan dan percakapan menjadi 3 tema besar. Ketiga tema tersebut adalah Agriculture dengan skor 90%, Crops & Seeds dengan skor 80% dan Food & Drink dengan skor 63%.

Di media sosial, Susi Pudjiastuti adalah influencer berpengaruh. Melalui fitur Tiktok Fact Check, Evello menemukan Susi telah ditonton lebih 103 juta kali tayangan.

Selengkapnya? #TanyaEvello

Membaca Reaksi Publik Saat Twitter Berpindah Tangan Ke Elon Musk

Setelah lama menjadi kontroversi di ruang publik, twitter akhirnya berpindah pemilik ke tangan ke Elon Musk. Dengan harga pembelian mencapai 44 Miliar Dollar, Evello mendeteksi aksi ini dengan sentiment positif dengan skor meyakinkan, 48,35%.

Di jagad Twitter, Elon adalah publik figure paling dipuja oleh netizen. Selama sepekan pantauan, akun @elonmusk telah berinteraksi sebanyak 6.307.106 kali dalam bentuk retweet, reply, quote tweet dan likes.

Keputusan manajemen twitter atas tawaran Elon Musk disambut dengan hangat oleh netizen sejagat. Melalui strength Analyzer, evello mendeteksi kecenderungan Analytical 79%. Dengan skor Analytical 79% Evello meyakini bahwa netizen cenderung mencari tahu alasan Elon untuk membeli Twitter.

Seperti diketahui, Elon beralasan pembelian twitter dilakukan untuk menjamin kebebasan berpendapat, meningkat kemampuan dan fitur twitter dan mengautentikasi pengguna seluruhnya sebagai manusia. Latar belakang Elon membeli twitter juga membuat netizen cenderung Joy dengan skor mencapai 53%.

Keramaian percakapan pembelian twitter oleh Elon didominasi oleh emosi Joy dengan skor mencapai 32%. Langkah Elon banyak menuai dukungan netizen dunia. Tak terkecuali oleh pendiri dan mantan CEO Twitter, Jack Dorsey. Dorsey mendukung alasan Elon membeli twitter dan menyebutnya sejalan dengan cita-cita twitter.

Meskipun demikian, tak sedikit netizen yang khawatir dengan langkah twitter. Banyak aktivis dan pegiat HAM yang menganggap di tangan Elon, ujaran kebencian akan berkembang. Keramaian percakapan ini terdeteksi oleh Evello dengan emosi Sadness mencapai 19%.

Pembelian twitter juga terbaca oleh Evello dengan emosi Anger 7%. Hal ini terlihat karena banyak yang curiga jika twitter akan menjadi ladang subur bagi propaganda, penyebaran informasi palsu, disinformasi dan ujaran kebencian. Banyak juga yang terlihat marah karena tak ingin pendukung Trump kembali dengan sikapnya yang rasis.

Di Indonesia, penggemar Elon Musk di jagad Twitter terbilang tidak kecil. Selama pantauan periode 20-26 April, netizen asal Indonesia berinteraksi dengan akun @elonmusk sebanyak 125.802 Tweet dan sekaligus menempatkan Indonesia negara Asia kedua setelah India yang netizennya banyak beriteraksi melalui akun @elonmusk.

Selengkapnya? #TanyaEvello

Publik Menikmati Tempelengan Will Smith

Ditonton hingga 303 juta kali di jaringan Tiktok, tempelengan Will Smith Pada Chris Rock bersentimen positif. Bahkan emosi Joy mendominasi perasaan warganet selain emosi Sadness & Disgust. Tingginya Emosi Disgust menunjukkan warganet tak ingin kejadian ini berulang.

Indonesian Instagram Residents Are More Concerned About the Condition of Palestine Than Ukraine

Clashes between Palestinians and Israeli authorities at Jerusalem’s Al-Aqsa Mosque compound have attracted more attention than Russia’s siege of Ukraine’s Mariupol.

This clash between Palestinian protesters and israeli police diverted the attention of Indonesian citizens over the Russian-Ukrainian war. On Instagram, the number of views of the tragedy content at the Al-Aqsa Mosque compound was watched by 5.6 million views. At the same time, Ukraine was watched by 1.9 million viewers.

Instagram users have more interaction through Instagram for Palestine as many as 960 thousand Likes than interactions for Ukraine as much as 528 thousand Likes.

The number of comments for Palestine reached 47 thousand conversations on Instagram compared to comments for Ukraine of 30 thousand conversations.

One of the topics of conversation on Instagram is the unfair treatment of the United Nations and world citizens to the conditions in Palestine.

Nonetheless, in both cases three dominant emotions were detected. All three have the same emotional scoring tendencies despite more scores for Palestine. The Sadness score for Palestine reached 30%, while for Ukraine it reached 27%.

Anger’s emotions for Palestine and Ukraine are at the same score of 17%. While fear for Palestine and Ukraine is quite high for Palestine and Ukraine, which is 13% and 12%.

Akhir Kisah Sang Pembunuh Begal Amaq Sinta Berpotensi Happy Ending

Setelah ramai menuai sentimen negatif publik, kisah pembunuh begal yang menjadi tersangka, Amaq Sinta berpotensi berakhir happy ending. Melalui analisa terhadap tiga peristiwa yang mengiringi perjalanan kasus ini, Evello menangkap kecenderungan sentimen negatif turun.

Saat ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Lombok Tengah, kasus ini bersentimen negatif sangat besar. Sejalan dengan ramainya komentar satire publik, Evello mendapatkan skor bersentimen negatif mencapai 79,99%.

Sentimen negatif cenderung turun saat kasus ini diambil alih oleh Kepolisian Daerah (Polda) NTB. Skor negatif pun turun dari semula 79,99% menjadi 75,28%. Walaupun cenderung turun, kondisi ini tidak membuat publik puas. Hal ini terlihat dari emosi Joy yang tidak berubah serta penurunan skor sentimen yang tidak signifikan.

Skor sentimen negatif turun cukup tinggi saat Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komisaris Jenderal Polisi Agus Andrianto meminta kasus korban begal yang berujung menjadi tersangka untuk dihentikan. Respon public cukp kuat dengan skor sentimen negatif turun menjadi 66,69%.

Pendapat Kabareskrim jika kasus ini diteruskan akan membuat masyarakat takut melawan pelaku kejahatan menjawab ramainya komentar satire publik melalui media sosial.

Dukungan Kabareskrim untuk menghentikan kasus ini meningkatkan emosi Joy publik yang tadinya tetap bertahan pada skor 9% naik menjadi 11%. Sebelumnya saat kasus ini dilimpahkan ke Polda NTB, tidak ada perubahan skor emosi Joy.

Turunnya skor sentimen negatif dan meningkatnya kegembiraan publik pada kasus Amaq Sinta mendorong evello menyimpulkan jika kasus ini akan memenuhi keinginan publik.

Selengkapnya? #TanyaEvello

Prediksi Big Data: Upaya Dorong Jokowi 3 Periode Terus Berlanjut

Ada dua peristiwa penting terpantau Evello terkait isu penundaan pemilu 2024. Peristiwa pertama saat klaim adanya 110 juta akun media sosial soal penundaan pemilu 2024. Peristiwa kedua saat deklarasi dukungan Jokowi 3 periode oleh Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi).

Dari kedua peristiwa ini, Evello memotret sentimen dan emosi yang berkembang di media sosial. Hasilnya, upaya agar penundaan pemilu 2024 tetap bersentimen negatif. Saat deklarasi, sentimen negatif terbaca turun tipis dengan skor 50,18% dibandingkan sebelumnya.

Emosi Joy publik bisa dibilang menurun saat deklarasi Apdesi. Dari sebelumnya 28% menjadi 23%. Demikian juga emosi Sadness turun tipis dari sebelumnya 27% menjadi 26%.

Evello mencatat terjadi peningkatan emosi Anger saat deklarasi Apdesi. Dari sebelumnya 8% menjadi 12%. Walau tidak besar, emosi ini menunjukkan adanya peningkatan ketidaksetujuan Jokowi 3 periode.

Dari Strength Analytics, evello mencatat kabar baik jika perhatian publik soal isu pemerintahan Jokowi 3 periode meningkat. Peningkatan ini terlihat dari skor analytical 66% menjadi 73%.

Kedua adalah turunnya skor tentative dari 6% menjadi 5%. Skor ini menunjukkan kegamangan dalam menerima informasi turun walau belum mencapai level yakin atau percaya pemerintahan Jokowi harus dilanjutkan hingga 3 periode.

Ketiga adalah turunnya kecenderungan tidak senang alias sedih saat deklarasi Jokowi 3 periode dilakukan oleh Apdesi dari 6% menjadi 5%.

Meskipun demikian, kecenderungan ketidaksukaan terhadap deklarasi Jokowi 3 periode cenderung naik. Ada bibit perlawanan yang tumbuh karena berkembangnya pandangan pelanggaran konstitusi untuk menunda pemilu 2024.

Dari dua peristiwa ini, jalan untuk menunda pemilu 2024 masih minim dukungan publik, walaupun emosi Joy masih mencuat pada skor 23%. Siapa yang senang pemilu ditunda belum sepenuhnya ikut bersuara di publik.

Di sisi lain, ada potensi bertumbuhnya pihak-pihak yang marah jika isu ini terus berhembus. Kemarahan ini belum terlalu menguat, sehingga evello memperkirakan isu penundaan pemilu 2024 akan terus digulirkan.

Selengkapnya? #TanyaEvello