Ternyata! Cebong Penguasa Youtube, Kampret Penguasa Medsos

Perbandingan Jumlah Sebaran Konten Bertemakan Cebong vs Kampret di Media Sosial

Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden 2019 melahirkan beragam istilah baru. Salah satu istilah yang kuat mengemuka adalah cebong dan kampret. Istilah cebong mengacu kepada pendukung Jokowi dan kampret identik dengan pendukung Prabowo.

Tak hanya cebong dan kampret, pilpres 2019 juga melahirkan banyak istilah. Kaum sumbu pendek, bani micin, kaum bumi datar, mukidi dan jaenudin naciro adalah beberapa istilah yang mendadak populer imbas dari pilpres 2019.

Fenomena ini tak luput dari perhatian Clara Endah Triastuti. Peneliti di Pusat Kajian Komunikasi UI seperti dikutip dari BBC Indonesia menyebutkan pengguna internet memang tidak hanya mengkonsumsi konten tapi juga menjadi menciptakan konten.

“Pergerakan politik menurut saya sekarang berubah. Mereka yang melakukan propaganda politik mulai melihat pasar juga dan mulai mengubah bentuk-bentuk propagandanya. Jadi politik itu tidak diletakkan dalam ranah formal, tapi dalam ranah yang populer,” ujar Clara menjelaskan fenomena lahirnya beragam istilah dalam Pilpres 2019.

Diantara banyaknya istilah baru dalam pilpres 2019, cebong dan kampret bisa dikatakan adalah istilah terpopuler. Para pelaku politik pun lekat dengan kedua istilah tadi. Tak terkecuali Jokowi dan Prabowo.

Pada 22 April 2019, dalam wawancara bersama wartawan senior iNews Ariyo Ardi, Jokowi menanggapi istilah cebong dan kampret.

“Sudahlah. Kehendak rakyat sudah ditentukan di 17 April kemarin, di hari pencoblosan sudah. Nah setelah itu, sudahlah enggak usah ada lagi istilah cebong, kampret. Stop,” ucap Jokowi kala itu.

Tak hanya Jokowi, istilah cebong dan kampret juga akrab bagi Prabowo. “Sudahlah, enggak ada lagi cebong-cebong. Enggak ada lagi kampret-kampret,” ujar Prabowo saat konferensi pers bersama Joko Widodo di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7/2019).

Dalam rekaman layanan Big Data Evello, istilah cebong dan kampret kerap mewarnai kerasnya para pendukung Pilpres 2019 di media sosial. Evello mencatat pada periode Juni 2019, video bertema cebong dan kampret menuai komentar lebih dari 77 ribu kali.

Asal Muasal Cebong dan Kampret

Dirangkum dari berbagai sumber, istilah cebong dan kampret merupakan kelanjutan dari istilah panasbung dan panastak pada gelaran Pilpres 2014. Saat itu, istilah Pasukan Nasi Bungkus (Panasbung) kerap dilekatkan pada kubu Prabowo-Hatta. Nasi bungkus mengacu pada dukungan ormas tertentu pada Prabowo-Hatta yang dianggap kerap melakukan demo dan mendapatkan jatah nasi bungkus.

Sementara Pasukan Nasi Kotak (Panastak) merupakan olok-olok yang dilekatkan pada kubu Jokowi-JK dengan baju kotak-kotak sebagai simbol kampanye mereka.

Penggunaan istilah-istilah dalam perhetalan politik pun berlanjut. Panasbung dan Panastak berganti menjadi cebong dan kampret. Istilah cebong lahir sebagai respon terhadap kebiasaan Jokowi kala itu yang dianggap gemar memelihara kodok. Akibatnya, label kecebong atau cebong kerap digunakan untuk mengolok pendukung Jokowi.

Tak mau kalah, istilah kampret mulai digunakan oleh pendukung Jokowi. Istilah ini lahir dikarenakan nama koalisi yang dipakai oleh Prabowo-Hatta saat Pilpres 2014, KMP atau Koalisi Merah Putih. Saat itu, KMP kerap diplesetkan menjadi KMPret yang kemudian berkembang menjadi kampret.

Cebong dan Kampret Dalam Potret Big Data di Kanal Youtube

Olok-olok cebong dan kampret bisa dikatakan sangat serius di media sosial. Pendukung Jokowi dan Prabowo tidak hanya menggunakan kedua istilah dalam bentuk kata di media sosial melainkan telah mengubahnya dalam bentuk konten yang diproduksi dengan niatan serius. Berbentuk gambar bergerak dan suara alias video.

Di kanal youtube, video-video dengan embel-embel cebong dan kampret beredar sangat luas. Jumlah komentar mencapai ribuan dan jumlah tayang mencapai jutaan seperti terekam dalam pantauan Big Data Evello.

Berdasarkan analisa pada periode 1-31 Juli 2019, evello menyimpulkan bahwa pendukung Jokowi atau cebong menguasai permainan di kanal Youtube. Metrik ukuran yang diambil memperlihatkan kelompok cebong berhasil meningkatkan sebaran audiens untuk video-video bertema kampret.

Kelompok cebong pada periode Juli 2019 mampu membuat konten video sehingga kelompok kampret lebih ramai menuai komentar/olok-olok.

Gambar 1. Perbandingan Jumlah Komentar Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-30 Juni 2019 di Kanal Youtube

Video-video bertemakan kampret juga lebih ramai ditonton di kanal Youtube. Tercatat, video bertemakan kampret ditonton 58% lebih banyak dibandingkan video bertemakan cebong.

Pada periode yang sama di bulan Juni 2019, kelompok cebong terlihat menguasai penggunaan kanal youtube. Sebaran komentar video bertemakan kampret lebih banyak di youtube dibandingkan cebong menunjukkan bahwa video-video bertema kampret lebih ramai mengundang perhatian youtuber.

Hasil pembandingan data evello pada periode Juni dan Juli 2019 menunjukkan bahwa aktivitas kelompok cebong meningkat dibandingkan kelompok kampret. Data pada Gambar 1 dan 2 menunjukkan dominasi kelompok cebong di kanal youtube dibandingkan kelompok kampret.

Gambar 2. Perbandingan Jumlah Komentar Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret. Kelompok cebong dominan menciptakan opini tentang kelompok kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Kanal Youtube

Dominasi kelompok cebong di kanal youtube juga terlihat dengan tingginya jumlah tayang video bertemakan kampret. Pada periode Juli 2019, video-video bertemakan kampret ditonton sebanyak 6.118.789 kali. Sementara, video bertemakan cebong ditonton sebanyak 4.409.420 kali.

Gambar 3. Perbandingan Jumlah Tayang Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Kanal Youtube

Pantauan pada Juni 2019 menunjukkan dominasi yang kuat kelompok cebong dibandingkan kelompok kampret. Data analisa evello memperlihatkan video bertemakan kampret ditonton 87% lebih banyak dibandingkan cebong. Jumlah ini tentu lebih besar dibandingkan pada periode Juli 2019.

Pada periode Juni 2019 Kampret ditonton sebanyak 9.297.327 kali. Sementara cebong ditonton lebih sedikit dengan jumlah tayang mencapai 1.313.238 kali.

Gambar 4. Perbandingan Jumlah Tayang Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-30 Juni 2019 di Kanal Youtube

Cebong dan Kampret Dalam Potret Big Data di Media Sosial

Pertarungan cebong dan kampret di media sosial (twitter & facebook) tak kalah ramainya. Produksi konten yang lebih mudah di media sosial membuat keramaian perseteruan cebong dan kampret tak kalah seru dibandingkan ramainya komentar di youtube.

Data Evello pada Juli 2019 menunjukkan bahwa perseteruan cebong dan kampret tak lantas surut karena pertemuan rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo pada 13 Juli 2019 di stasiun MRT Lebak Bulus. Hasil analisa pada media sosial memperlihatkan perseteruan cebong dan kampret ternyata sangat mendalam.

Sepanjang Juli 2019, aksi saling menertawakan antara kelompok cebong dan kampret mencapai jumlah luar biasa. Emoticon saling menertawakan mencapai angka 84.838.

Data evello menunjukkan emoticon tawa untuk cebong lebih tinggi 74% lebih banyak dibandingkan 26% untuk kampret. Emoticon untuk cebong 63.022 dan 21.816 untuk kampret. Angka-angka ini menunjukkan bahwa sebaran konten dengan nada ejekan untuk cebong lebih banyak ditertawakan dibandingkan dengan sebaran konten untuk kampret.

Gambar 5. Perbandingan Jumlah Emoticon Tawa Untuk Masing-Masing Kelompok Cebong vs Kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Media Sosial

Sejalan dengan tingginya penggunaan emoticon tawa, persebaran unggahan di media sosial tentang cebong dan kampret terbilang masih sangat tinggi pada Juli 2019. Total sebaran mencapai angka 508.219 shared.

Dalam hal sebaran konten, analisa data evello menunjukkan bahwa kelompok kampret dominan dibandingkan kelompok cebong. Kampret mampu membuat sebaran konten lebih tinggi 58% dibandingkan dengan sebaran yang dibuat oleh kelompok cebong dengan capaian 42%.

Gambar 6. Perbandingan Jumlah Sebaran Konten Bertemakan Cebong vs Kampret di Media Sosial
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Media Sosial

Lalu bagaimana warganet lainnya menanggapi sebaran konten cebong dan kampret. Analisa terhadap jumlah komentar di media sosial menunjukkan bahwa konten bertemakan cebong lebih banyak dikomentari dibandingkan kampret.

Konten-konten bertemakan cebong menuai komentar 67% lebih banyak dibandingkan dengan konten kampret. Jumlah tersebut setara dengan 159.320 komentar. Dilain pihak, konten bertema cebong dikomentari sebanyak 78.241 komentar.

Gambar 7. Perbandingan Jumlah Komentar Terhadap Sebaran Konten Bertemakan Cebong vs Kampret di Media Sosial
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Media Sosial

Kesimpulan

  1. Data periode Juli 2019 menunjukkan perseteruan antara cebong dan kampret tidak lantas menurun seiring dengan pertemuan rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo. Polarisasi cebong dan kampret ini diperkirakan akan terus berlangsung walaupun Jokowi dan Prabowo telah bersepakat tak ada lagi cebong dan kampret.
  2. Agenda politik lainnya selain Pilpres diperkirakan dapat menjadi pemicu perseteruan cebong dan kampret akan terus berlangsung. Misalnya dalam agenda Pilkada Gubernur DKI Jakarta (Baca: Mengapa Getah Getih Anies Baswedan Viral?)
  3. Data evello memperlihatkan bahwa kelompok kampret pada Juli 2019 dominan di media sosial dibandingkan cebong. Sementara, cebong memiliki kreativitas yang lebih dominan di kanal youtube dibandingkan kampret.

Ikan Asin Tayang 23 Juta Kali di Youtube Bukti Masyarakat Suka Gosip

Selain menyebut miss v Fairuz A Rafiq bau ikan asin, Galih Ginanjar juga menyebut kalau ia merasakan ukuran miss v sang mantan berbeda. Dari ukuran berbeda itu, Galih yakin kalau sang mantan sering gonta-ganti pasangan.

“Pas gue bukan ukurannya berbeda. Misalnya gini deh, misal lu suka pakai mobil Pablo (suami Rey Utami), ukuran jok berubah dong. Pablo masuk nih, nih siapa yang make nih mobil, nah gitu. Kok ngeblong. Semakin sempit kan semakin bagus, tapi ini makin blong. Perawatan apa yg makin blong?” kata Galih Ginanjar.

Demikian kutipan pernyataan Galih Ginanjar, seorang pesinetron dan mantan suami Fairuz A Rafiq seperti telah dirangkum oleh media Suara.com mengisahkan prahara rumah tangga mereka.

Ungkapan tak pantas dari masalah rumah tangga ini pun bergulir menjadi kasus hukum dengan tema “Ikan Asin”. Media, baik berita daring maupun elektronik pun tak urung ramai mengangkat kasus ini.

Evello mencatat, sejak kasus ini mencuat sejak awal Juli 2019, tercatat pemberitaan dengan tema ikan asin telah dimuat sebanyak 6.755 berita.

Berita dan unggahan status tentang kasus ikan asin tercatat telah disebar sebanyak 275.805 kali di media sosial. Jumlah sebaran kasus ikan berdasarkan penelitian Evello lebih banyak disebar masyarakat di media sosial dibandingkan isu Pendidikan, Kesehatan, Budaya, Keamanan dan Ekonomi.

Video bertemakan polemik Ikan Asin dengan jumlah View berdasarkan data Evello
Video bertemakan polemik Ikan Asin dengan jumlah View berdasarkan data Evello

Di kanal Youtube, video-video bertemakan kasus ikan asin telah diunggah sebanyak 214 video. Jumlah penayangan mencapai 23.353.407 view. Komentar pun berhamburan disampaikan Youtubers. Jumlahnya mencapai 52.643 komentar.

Video kasus ikan asin juga disukai sebanyak 220.202 jempol dan 21.227 jempol menyatakan tidak suka. Tingginya jumlah jempol pada video-video ikan asin mencapai jumlah lebih banyak dibandingkan jumlah jempol suka pada video-video politik pada periode pantau yang sama.

Mengapa Getah Getih Anies Baswedan Viral?

Barangkali nama Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta adalah salah satu tokoh paling banyak diperbincangkan netizen. Melalui fasilitas yang dimilikinya, Evello sebagai aplikasi Big Data menjawab ya. Anies memang sedang ramai diperbincangkan netizen. Kapan ramainya?

Pada periode pantauan 14-21 Juli 2019 jumlah cuitan tentang Anies Baswedan mencapai jumlah 96.321 cuitan. Lalu berapa jumlah akun yang terlibat? cukup besar. Jumlahnya mencapai 38.278 akun twitter. Artinya, 96.321 cuitan Anies Baswedan berasal dari 38.278 akun twitter. Dengan rasio satu akun tiga cuitan (1:3), bisa dinilai bahwa bukan robot yang bekerja.

Gambar 1. Posisi Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI berbanding Gubernur Jabar, Jateng dan Jatim berdasarkan kuadran kicauan di twitter periode 14-21 Juli 2019.

Pada periode pantau yang sama, Anies diperbincangkan terpaut sedikit dengan Prabowo Subianto yang menjadi salah satu episentrum perbincangan politik di Indonesia. Prabowo dikicaukan oleh 43.279 akun twitter pada periode pantau yang sama. Berdasarkan pantauan Evello, perbincangan tentang Ketua Umum Partai Gerindra ini memiliki kecenderungan menurun.

Lalu apakah yang membuat Anies Baswedan ramai diperbincangkan netizen? Pertama adalah isu pembongkaran Instalasi seni bambu ‘Getah Getih’ di Bundaran HI. Kedua adalah isu politik yang berkaitan dengan jawaban Anies Baswedan soal impor besi dari Tiongkok.

Pembongkaran karya seni getah getih di bundaran HI meramaikan berita tentang Anies Baswedan berdasarkan pemantauan pada periode 14-21 Juli 2019. Bahkan berita pembongkaran getah getih adalah berita yang dominan disebar oleh netizen di media sosial berkaitan dengan Anies Baswedan.

Ramainya percakapan pembongkaran getah getih membuat Anies lebih ramai menarik perhatian publik dibandingkan isu lainnya berkaitan dengan Gubernur Jabar, Jateng dan Jatim seperti terlihat pada kuadran percakapan di twitter sesuai dengan Gambar 1.

Seberapa Viral Getah Getih di Media Sosial?

Pada periode 14-21 Juli 2019 jumlah berita tentang Anies tercatat mencapai 676 berita. Sebaran berita-berita tentang Anies di media sosial mencapai jumlah 16.709 kali. Dengan sebaran sebanyak itu, Anies Baswedan adalah Gubernur dengan link berita disebar terbanyak di media sosial.

Berikut adalah gambaran bagaimana sebaran berita Anies Baswedan di media sosial jika dibandingkan dengan Gubernur lainnya di pulau Jawa seperti Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo dan Khofifah Indar Parawangsa.

Gambar 2. Sebaran berita Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di media sosial jika dibandingkan dengan Gubernur Jabar, Jateng dan Jatim periode 14-21 Juli 2019.

Pertanyaannya, isu apakah yang membuat sebaran berita Anies di media sosial lebih tinggi. Berdasarkan penelusuran Evello dari 100 berita dengan sebaran terbanyak, pembongkaran instalasi bambu getah getih adalah berita dengan sebaran tertinggi di media sosial.

Gambar 3. Tiga berita tentang getah-getih dengan sebaran terbanyak di media sosial periode 14-21 Juli 2019.

Mengapa Getah-Getih Ramai?

Berita dengan sebaran tertinggi menjawab mengapa pembongkaran getah getih makin ramai dibahas di media sosial. Berita dari media detik.com adalah berita terbanyak dibagikan di media sosial dengan judul “Bambu Getah Getih Dikritik, Anies: Kalau Pilih Besi Impor dari Tiongkok” menjawab pertanyaan tersebut. Anies dituding memberikan jawaban rasis atas pertanyaan besarnya biaya intalasi seni bambu getah getih.

Jika diperhatikan lebih jauh, berita ke-9 terbanyak disebar di media sosial mengangkat kritik kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany tentang sebutan dan impor besi dari Tiongkok oleh Anies Baswedan.

Gambar 4. Berita ke-9 terbanyak disebar di jejaring media sosial mengangkat kritik kader PSI tentang penggunaan nama Tiongkok. Dalam berita disebutkan pernyataan Anies mengangkat sentimen tertentu di mata publik.

Viralnya berita getah getih di media sosial sejalan dengan apa yang dikicaukan sebagian besar netizen. Menurut mereka Anies membangkitkan sentimen di publik dengan menyebutkan impor besi dari Tiongkok.

https://twitter.com/permadiaktivis/status/1152771599851909120

Pun demikian, kritik tersebut tidak diterima oleh sebagian netizen lainnya. Sebagian netizen menyebutkan tidak ada yang salah dengan ungkapan Anies Baswedan tersebut dan tidak berhubungan dengan sentimen tertentu.

Berdasarkan analisa di atas, maka pembongkaran instalasi getah getih berbiaya 550 juta bukan satu-satunya faktor penyebab ramainya percakapan publik. Jawaban Anies tentang impor besi dari Tiongkok menjadi isu lanjutan yang membuat “getah getih” ramai menjadi percakapan.

Lalu mengapa ungkapan impor besi dari Tiongkok ramai menjadi percakapan publik? Berdasarkan analisa keterlibatan netizen dalam theme clouds, hal ini tidak lepas dari politik Pilkada DKI 2017 lalu. Dalam analisa theme Clouds, muncul akun milik mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, @basuki_BTP. Munculnya akun twitter milik Basuki Tjahaja Purnama menunjukkan ada upaya untuk membandingkan era kepemimpinan saat Ahok menjabat sebagai Gubernur dan Anies saat ini.

Gambar berikut ini memperlihatkan siapa saja yang terlibat dalam percakapan pembongkaran getah getih dan impor besi dari Tiongkok dengan pengaruh terbesar.

Gambar 5. Keterlibatan akun-akun berpengaruh terhadap percakapan tentang Anies Baswedan.

Kesimpulan

Berdasarkan data-data yang muncul seputar Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, ramainya isu pembongkaran instalasi seni bambu getah getih tidak terlepas dari isu politik. Hal tersebut terlihat dari analisa sebaran berita di media media sosial dan keterlibatan akun-akun dengan pengaruh tinggi di seputar akun Anies Baswedan.

Nunung, Narkoba dan Reaksi Netizen

Nunung menambah panjang daftar para pemain grup lawak, Srimulat yang terjerat kasus narkoba. Tercatat empat anggota Srimulat sudah lebih dulu tertangkap atas kasus narkoba.

Seperti diketahui, Nunung ditangkap di rumahnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat siang, 19 Juli kemarin. Nunung tak bisa berkelit saat polisi menggeledah dan menemukan barang bukti sabu-sabu seberat 0,36 gram di dalam kamar Nunung.

Selain Nunung, polisi juga menangkap suami Nunung, July Jan Sambiran dan seorang kurir narkoba Hadi Moherianto alias Heri. Kepada polisi, Nunung mengaku baru membeli satu paket sabu seberat dua gram. Namun, barang bukti tersebut sempat dia buang ke toilet saat polisi menggerebek rumahnya.

https://twitter.com/Timhen4/status/1152370598762258432

Penangkapan Nunung membuat reaksi netizen Indonesia seperti terekam dalam sistem Evello meningkat. Narkoba menjadi isu dengan sebaran tertinggi dibadingkan tema lainnya seperti begal atau pembunuhan.

Percakapan bertema Narkoba bisa dikatakan merata di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan. Di Medan, isu Begal masih menjadi perhatian utama dibandingkan isu Narkoba.

Sebaran percakapan netizen Indonesia berdasarkan tema kriminal pasca penangkapan terhadap komedian Nunung

Kasus begal sebelumnya ramai menjadi perhatian masyarakat setelah Tim Pegasus Polsek Medan Timur akhirnya berhasil meringkus komplotan begal sadis dengan cara menyamar menjadi emak-emak.

Sementara itu, berdasarkan data Evello, kasus pembunuhan ramai menjadi perbincangan netizen pada 18 Juli 2019. Hal ini dipicu oleh gugatan empat pengamen atas kasus pembunuhan Dicky Maulana (20) di kolong jembatan samping Kali Cipulir, Jakarta Selatan, pada 2013.

Dalam gugatan praperadilan, mereka meminta kepada PN Jaksel memerintahkan Polda Metro Jaya, Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, dan Kementerian Keuangan untuk mengaku bersalah dan memberikan ganti rugi secara material dan imateriil.

 

Begal dan Narkoba menjadi isu terbanyak diperbincangkan netizen Indonesia pada periode 13-20 Juli 2019.

Jika diperhatikan pada gambar di atas, jika tidak ada isu begal dan penangkapan terhadap komedian Nunung, maka isu Narkoba adalah isu yang konsisten ramai diperbincangkan netizen.

Pada periode pantauan yang sama, pemberitaan dengan tema narkoba menguasai jumlah berita hingga 37,7% lebih banyak dibandingkan dengan tema kriminalitas lainnya.

Berturut-turut kasus Begal, Pembunuhan dan Penipuan menjadi materi berita terbanyak diluar berita tentang narkoba.

Share Index jumlah berita isu-isu kriminal pada periode pantau 13-20 Juli 2019. Isu Narkoba menjadi topik terbanyak diberitakan dibandingkan isu kriminalitas lainnya.

Masyarakat Acuh Tanggapi Isu Poligami. Pendidikan Dianggap Lebih Penting

Wacana Pemerintah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) membuat rancangan Qanun Hukum Keluarga yang salah satu babnya membahas poligami ternyata tidak menjadi isu penting di masyarakat.

Dengan kata kunci “Poligami”, data evello menunjukkan pada periode 1-18 Juli 2019 Poligami hanya diberitakan sebanyak 361 kali berita. Sementara, tema pendidikan pada periode yang sama diberitakan sebanyak 16.100 berita.

Walaupun tidak sebanyak tema pendidikan, tema pekerjaan diberitakan sebanyak 7.389 kali berita.

Share Index tema poligami dalam pemberitaan mencapai 1.5% jika dibandingkan dengan tema Pendidikan dan Pekerjaan. Data Periode 1-18 Juli 2019.

Jika ketiga isu dibandingkan dalam perolehan berita pada periode 1-18 Juli 2019, prosentase isu poligami hanya mencapai 1.5%. Porsi berita pendidikan dominan hingga 67%.

Berita-berita berkaitan dengan pendidikan juga memiliki nilai populer/viral di masyarakat. Melalui fasilitas Virality, Evello menemukan bahwa berita pendidikan terbanyak dibagikan melalui media sosial sebesar 101.491 shared.

Tema pekerjaan dibagikan oleh pengguna media sosial mencapai 54.086 Shared. Sementara isu poligami dibagikan sebanyak 2.021 shared.

Popularitas tema berita berdasarkan jumlah sebaran berita di kanal Facebook periode 1-18 Juli 2019.

Berdasarkan sebaran sebanyak 1,2% dibandingkan tema pendidikan dan pekerjaan, tim peneliti evello menyimpulkan bahwa isu pendidikan lebih menarik masyarakat.

Kisah guru honorer dan wacana penghapusan pendidikan agama di sekolah menjadi isu yang dominan dibagikan masyarakat di kanal media sosial.

Pak Polisi, 6 Berita Ini Terbanyak Menarik Perhatian Masyarakat

Kepolisian Indonesia pada periode 1-17 Juli 2019 tercatat diberitakan sebanyak 20.365 kali. Jumlah ini mendekati lebih dari separuh jumlah pemberitaan tentang kepolisian pada periode Juni 2019. Menurut data Evello, pada Juni 2019, Kepolisian RI diberitakan sebanyak 33.457 berita. Jika membandingkan data pada Juni dan 1-15 Juli 2019, diperkirakan pemberitaan tentang Kepolisian pada Juli 2019 akan meningkat.

Berdasarkan animo publik yang terangkum dalam fasilitas Virality Evello pada Juni 2019, pemberitaan tentang Kepolisian RI lebih banyak berhubungan dengan situasi politik tanah air. Sementara, pada periode 1-17 Juli 2019, pemberitaan tentang kepolisian RI lebih banyak berhubungan dengan pelayanan kepada masyarakat dan penegakan hukum.

Tiga berita teratas pada periode 1-17 Juli 2019 dengan sebaran terbanyak di Media Sosial berkaitan dengan STNK kendaraan. Seperti diketahui, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri sedang melakukan pengkajian terkait regulasi penghapusan data kendaraan apabila surat tanda nomor kendaraan ( STNK) mati dalam waktu dua tahun berturut-turut.

Tiga Berita tentang Kepolisian RI dengan sebaran terbanyak di Media Sosial berdasarkan penelusuran Evello pada periode 1-17 Juli 2019

Tiga berita terbanyak berikutnya berkaitan dengan penegakan hukum yang dilakukan oleh Kepolisian RI. Dimulai dengan kasus wanita membawa masuk anjing ke Masjid di Bogor, penjambretan WNA asing di Medan dan TGPF Kasus Novel Baswedan.

Tiga Berita kedua tentang Kepolisian RI dengan sebaran terbanyak di Media Sosial berdasarkan penelusuran Evello pada periode 1-17 Juli 2019

Pada periode 1-17 Juli 2019, berita-berita tentang Kepolisian dengan sebaran terbanyak di Media Sosial mencapai jumlah 77.671 shared.

Jika dibandingkan dengan institusi lain seperti TNI, Kepolisian menuai jumlah berita lebih banyak pada periode yang sama. Pemberitaan tentang TNI mencapai 6.215 berita, sementara kepolisian diberitakan sebanyak 20.365 berita.

Peneliti Evello berkeyakinan, perbedaan jumlah berita seperti tersaji di atas menunjukkan bahwa peran Kepolisian baik sosial dan politik lebih tinggi dibandingkan peran TNI.