Diabetes Terbanyak Diberitakan Media Dibanding Kolesterol

Angka penyakit diabetes di Indonesia semakin meningkat. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), hingga November 2018, angka diabetes naik dari 6,9 persen di 2013, menjadi 8,5 persen di 2018.

Selain angka penyakit yang terus meningkat, pola dan karakteristik penderitanya pun kini telah berubah. Apabila dulu diabetes identik dengan penyakit orang tua, kini diabetes semakin menyasar usia muda atau usia produktif, termasuk kaum milenial.

Situs HelloSehat menyebutkan ada tiga hal yang menjadi penyabab tingginya penderita Diabetes di Indonesia. Pertama karena tingginya konsumsi nasi. Bahkan risiko terkena diabetes akan meningkat untuk mereka yang menkonsumsi nasi 3-4 kali sehari.

Penyebab kedua adalah tingginya konsumsi gula, terutama gula pasir. Tak hanya ditemukan pada teh dan kopi, saat ini hampir semua jajanan mengandung gula yang tinggi.

Penyebab ketiga adalah malas gerak. Hal ini diperparah oleh hasil riset Universitas Stanford yang menyebutkan masyarakat Indonesia kurang gerak.

Diabetes Terbanyak Diberitakan Media

Hasil penelitian Evello pada periode 11 April – 11 Oktober 2019 menemukan bahwa tak hanya diabetes, tema kolesterol, darah tinggi dan asam urat menguasai berita media daring soal kesehatan. Jumlah berita tentang keempat penyakit tersebut mencapai 14.498 artikel berita.

Dari 14.498 artikel berita tersebut, diabetes adalah topik terbanyak diangkat oleh media daring. Jumlah berita tentang diabetes mencapai 7.050 artikel atau 48,6%.

Pemberitaan tentang kolesterol menempati urutan kedua diangkat oleh media daring setelah diabetes. Kolesterol diberitakan sebanyak 3.774 artikel pada periode pantau yang sama. Prosentase pemberitaan tentang Kolesterol mencapai 26%.

Berada pada urutan ketiga adalah tema darah tinggi. Penyakit dengan kondisi ketika tekanan darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi ini diberitakan sebanyak 2.796 artikel.

Gambar 1. Berita bertema diabetes menguasai jumlah sebaran di media daring pada periode April – Oktober 2019.

Jika berita-berita tentang keempat penyakit tersebut dibagi menjadi satuan mingguan, Evello menemukan tak hanya diabetes terbanyak diberitakan. Pada minggu kedua Juni 2019 dan minggu kedua Agustus 2019 berita tentang kolesterol tertinggi diberitakan mengalahkan berita diabetes.

Pemilu, KPPS dan Darah Tinggi

Pemberitaan tentang darah tinggi sempat menjadi berita terbanyak dibagikan masyarakat, terutama ke media sosial. Hal ini tidak lepas dari meninggalnya petugas KPPS saat pelaksanaan pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Data Evello pada periode April – Oktober 2019 menemukan sebaran berita tentang darah tinggi dipicu wafatnya petugas KPPS seperti diangkat oleh media tribunnews.com.

Gambar 2. Berita tentang darah tinggi ramai disebar netizen setelah kabar wafatnya petugas KPPS diduga karena kelelahan dan mengidap penyakit darah tinggi.

Sebaran Berita di Media Sosial

Hasil penelitian evello juga menunjukkan bahwa berita tentang diabetes tidak hanya unggul dalam hal jumlah, melainkan sebarannya di media sosial. Sebanyak 7.050 berita tentang dibetes telah tersebar sebanyak 55.728 kali di kanal media sosial.

Berada pada urutan kedua adalah darah tinggi. Tema berita darah tinggi tersebar sebanyak 32.229 kali sebaran.

Sementara kolesterol tersebar di media sosial sebanyak 25.027 kali dan asam urat memiliki sebaran sebanyak 15.257 kali.

Gambar 3. Matriks jumlah berita dan sebarannya di media sosial. Diabetes adalah tema penyakit dengan pemberitaan terbanyak dan sebaran tertinggi media sosial.

Aksi Mahasiswa Indonesia Tayang 167 Juta Kali Di Youtube

Evello Jumlah Akun Unik Twitter

Diperbincangkan melibatkan lebih dari 240 ribu akun twitter menunjukkan kalau aksi demonstrasi mahasiswa Indonesia jelang akhir September 2019 sebagai isu terbesar sepanjang tahun 2019. Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden 2019 yang baru saja lewat tidak pernah menarik begitu banyak pemilik akun twitter untuk ikut-ikutan menggerakkan jempolnya.

Lalu adakah isu lainnya yang melibatkan perhatian pengguna media sosial paling ribut sedunia ini selain aksi mahasiswa? Jawabannya ada! Tetapi tidak sebesar perhatian terhadap demo mahasiswa Indonesia.

Jokowi misalnya, diperbincangkan oleh 187.983 akun twitter Indonesia. Kepolisian RI juga diperbincangkan oleh 210.702 akun twitter Indonesia. Sementara DPR RI diperbincangkan oleh 82.939 akun twitter Indonesia. Sungguh besar ketiganya menarik publik Indonesia melalui akun twitter. Akan tetapi, itupun masih terkait aksi mahasiswa Indonesia.

Gambar I berikut juga memperlihatkan bahwa opini tentang TNI pada periode pantau 22-29 September 2019 juga dibentuk oleh keramaian tanggapan publik akan aksi mahasiswa. Berbeda dengan Presiden Jokowi, DPR RI dan Kepolisian RI, keramaian publik pada TNI bersentimen positif.

Gambar I. Awan Tema TNI pada saat aksi demonstrasi mahasiswa di pelbagai wilayah Indonesia.

TNI dianggap menjadi antitesa dari perlakuan represif aparat kepolisian terhadap mahasiswa. Hal tersebut tercermin dari cuitan-cuitan netizen berdasarkan pengelompokan pada Gambar I di atas.

Jumlah akun yang terlibat membicarakan TNI berdasarkan perhitungan Evello mencapai 107.405 akun twitter. TNI berada pada posisi terbanyak keempat setelah Mahasiswa, Kepolisian dan Jokowi.

Gambar II. Pujian mengalir untuk TNI saat aksi demo mahasiswa berlangsung

Selain TNI, keikutsertaan pelajar STM dalam aksi demo mahasiswa ramai menarik perhatian publik. Dalam catatan Evello, keterlibatan akun twitter membicarakan pelajar STM mencapai 74.953 akun.

Bintang Baru di Youtube

Mahasiswa menjelma menjadi bintang baru di Indonesia, terutama di dunia Youtube. Bagaimana tidak, aksi mereka telah menyedot perhatian publik demikian luas. Tercatat 623.622 komentar dilayangkan youtuber terhadap aksi mereka. Pun komentar-komentar tersebut bersentimen positif.

Gambar III. Aksi mahasiswa berhamburan komentar dari pengguna youtube Indonesia

Selain berhamburan komentar, video-video yang menampilkan aksi, baik aksi lapangan dan forum dialog media ramai menarik perhatian pengunjung. Hanya dalam hitungan hari bahkan beberapa jam, video-video tersebut ditayangkan hingga jutaan kali.

Gambar IV. Tiga video mahasiswa dengan jumlah tayang tertinggi di kanal youtube.

Jumlah video bertemakan mahasiswa yang tersebar di youtube hingga Minggu, 29 September 2019 mencapai 1.837 video. Aksi mahasiswa di youtube telah tayang sebanyak 167.320.744.

Angka ini melebihi jumlah tayang isu apapun di Indonesia pada periode pantau 22-29 September 2019. Bahkan, jika mengacu pada jumlah tayang, aksi mahasiswa Indonesia lebih popuper di youtube dibandingkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Berdasarkan pantauan Evello, Trump disaksikan sebanyak 93.815.017 dengan jumlah video sebanyak 542.

Big Data Analytic: Masyarakat Indonesia Tidak Lupakan TKW

#UsutTuntasKasusLilyWahidin demikian tulis seorang netizen di dinding media sosial yang dimilikinya. Ia meyakini bahwa kematian seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal kota tempatnya tinggal di Ternate tidak wajar.

Dengan mengunggah foto Lily dengan jahitan panjang ditubuhnya, pria bernama Dimas Wahid ini menulis “Mohon maaf kepada pihak Korban Almarhumah Lily Wahidin, TKW Malaysia asal Kota Ternate, saya terpaksa posting salah satu foto Korban yang sangat privasi, sebelumnya sudah diposting terlebih dahulu oleh salah satu akunt kerabat korban ketika jenazah Almarhumah tiba di Kota Ternate kemarin.”

“Tak ada maksud lain selain meyakinkan publik bahwa Kematian Korban yang tidak wajar ini diduga ada indikasi pembunuhan dan sindikat perdagangan organ tubuh manusia karena tubuh korban dipenuhi jahitan.”

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Ternate Jusuf Sunya mengungkapkan, dilihat dari kronologis dan laporan yang dibuat Kepolisian Kerajaan Malaysia, dipastikan Lily meninggal setelah jatuh dari lantai 3 gedung. Kecelakaan itu juga mengakibatkan ia mengalami patah kaki.

Disnaker juga mendapat informasi jika saat mengikuti pelatihan di Bekasi selama 2 bulan, mendiang Lily dilatih untuk menjadi asisten rumah tangga (ART). Namun sesampainya di Pulau Pinang, Malaysia, ia justru ditempatkan bekerja di panti jompo.

Sementara itu, hasil pantauan Big Data Evello dalam sepekan (17-24 September 2019) memperlihatkan pemberitaan tentang Lily tidak besar. Total berita Lily bercampur urusan TKI/TKW lainnya dan kinerja Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mencapai 159 artikel.

Media kompas.com adalah yang terbanyak memberitakan kematian Lily pada pekan ini dibandingkan media lainnya. 15 berita diturunkan oleh kompas.com menunjukkan tingginya perhatian media ini tehadap nasib Lily.

Walau pemberitaan tidak besar, tidak demikian dengan tanggapan netizen atas kasus kematian yang dihadapi oleh Lily Wahidin. Berita-berita kematian Lily tersebar sebanyak 3.749 kali di media sosial terbesar di Indonesia, Facebook.

Media berita Kumparan.com memiliki tingkat interaksi tertinggi dengan pengguna facebook dibandingkan media berita lainnya. Mengangkat judul “TKW asal Ternate Meninggal di Malaysia, Jasadnya Penuh Jahitan” berita tersebut memiliki tingkat interaksi di facebook sebanyak 2.851.

Tribunnews.com memiliki sebaran dan interaksi tertinggi kedua setelah Kumparan.com. Berita berjudul “BERITA POPULER: TKW Lily Wahidin yang Meninggal di Malaysia Diduga Dibunuh,Organ Tubuh Diambil Paksa” memiliki tingkat interaksi sebanyak 435.

Kesimpulan

Sebaran berita-berita tentang kematian TKW asal Ternate, Lily Wahidin bisa dikatakan tidak sebesar berita lainnya yang sedang ramai di tanah air. Satu berita tentang pergolakan di Papua berjudul “Mahasiswa Nduga: Kami Tinggalkan Indonesia Bukan Karena Takut” yang diangkat media SuaraPapua.com memiliki sebaran dan interaksi 3.417. Hampir mendekati seluruh sebaran berita tentang nasib Lily Wahidin.

Pun demikian, dengan sebaran dan interaksi sebanyak 3.749 kali, cukup bagi Evello untuk menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia menaruh perhatian terhadap nasib buruh Migran yang kadang berakhir tragis.



BJ Habibie Dalam Rekaman Big Data

Banyak ungkapan masyarakat Indonesia akan sosok bernama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie. Mulai dari kisah cintanya, prestasi, perjalanan hidup dan bahkan inspirasinya. Banyak cerita kemudian terungkap ke muka publik setelah Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng, Presiden Republik Indonesia yang ketiga wafat.

Salah satunya yang berhasil direkam melalui Big Data Evello adalah kesaksian Asep Setiawan, seorang Pramusaji Istana era Soeharto dan Habibie. Ia berbagi kisahnya selama melayani kepala negara. Asep mengisahkan betapa baik dan rendah hatinya BJ Habibie. Sampai setengah gajinya diberikan buat para pelayan di Istana.

Tak terkecuali Presiden Joko Widodo pun memberikan kesannya yang mendalam terhadap sosok dibalik industri dirgantara Indonesia ini.

“Jasad Bapak BJ Habibie telah terbaring di liang lahat nomor 120 di TMP Kalibata, berdampingan dengan pusara belahan jiwanya, mendiang Ibu Ainun Habibie. Terima kasih Pak Habibie. Engkau seorang negarawan, juga ilmuwan yang meyakini bahwa tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya.

Sementara itu, pantauan Evello menunjukkan kabar sakit hingga wafat BJ Habibie telah diwartakan sebanyak 7.756 berita (Pantauan terakhir Jumat, 13 September 2019, 19:48 WIB).

Perhatian masyarakat Indonesia terhadap kondisi BJ Habibie terbilang tidak kecil. Berita yang berkaitan dengan BJ Habibie tercatat disebar sebanyak 113.087 kali di media sosial terbesar di Indonesia. Facebook.

Sebaran berita ini tentu jauh mengungguli isu-isu lainnya seperti polemik KPAI dan PB Djarum ataupun revisi dan seleksi pimpinan KPK pada periode pantauan yang sama.

Rabu 11 September 2019, 18:14 WIB sebuah kabar menyentak masyarakat Indonesia. Adalah media detik.com memuat sebuah berita dengan judul ringkas “BJ Habibie Tutup Usia“.

Berita tersebut sontak menjadi berita dengan sebaran tertinggi di kanal Facebook berdasarkan pantauan Evello. Tak tanggung-tanggung. Berita detik.com tersebut dibagikan sebanyak 56.852 kali.

Menyusul dua berita terbanyak dikabarkan media Liputan6.com dan CNN Indonesia. Ketiga berita berdasarkan penelusuran evello tayang dalam perbedaan hitungan tidak berjauhan.

Gambar I. Tiga berita dengan sebaran tertinggi di kanal Facebook.

Rasa duka masyarakat Indonesia juga tercermin dalam aliran sejumlah metrik di kanal Youtube. Evello mencatat 1.515 video bertebaran di situs berbagi video Youtube hingga Jumat, 13 September 2019.

Jumlah komentar terhadap video-video tersebut terbilang sangat tinggi. 42.065 komentar. Sementara, jumlah tayang video-video tersebut mencapai 31.935.043 views.

Pesawat terakhir itu berangkat, lepas landas dan takkan kembali? ~ Youtubers

Duka masyarakat Indonesia atas kepergian Habibie tercermin kuat di media sosial Facebook. Hingga Jumat, 13 September 2019, jumlah unggahan yang dibagikan oleh facebookers mencapai jumlah 999.164 shared.

Jumlah komentar pun tak kalah besar. Sepanjang dua hari pemantauan, evello menemukan 391.006 komentar menghantarkan kepergian Habibie. Demikian juga reaksi facebooker tercatat mencapai angka 2.856.250.

Total jumlah reaksi masyarakat Facebook Indonesia berdasarkan data evello mencapai 4.246.420.

Kisah cinta Habibie dan Ainun terpantau evello menjadi salah satu kenangan mendalam masyarakat Indonesia. Tak heran seorang netizen asal Bone menuliskan dalam status Facebooknya seperti terlihat pada petikan berikut:

“Banyak suami yang ingin istri seperti Ainun, tetapi mereka lupa untuk menjadi seorang Habibie”.

Reaksi Warganet Terhadap Pergolakan Papua Setara HUT RI 74

Hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus adalah momen spesial bangsa Indonesia. Sayangnya, saat bangsa Indonesia bersukacita, tragedi protes atas perlakukan tidak adil mengguncang masyarakat Papua. Analisa evello perlihatkan bahwa sebaran protes ini terbilang tidak kecil.

Sebagai momen spesial bangsa, perayaan HUT RI ke-74 tentu ramai menjadi topik berita. Evello mencatat jumlahnya mencapai lebih dari 17 ribu berita. Pun demikian, berita protes masyarakat Papua terbilang tidak kecil. Prosentasenya mencapai 35% atau setara dengan 9 ribu berita berbanding berita perayaan HUT RI ke-74.

10 berita terbanyak tentang protes masyarakat Papua juga memiliki sebaran lebih tinggi di media sosial dibandingkan berita perayaan HUT RI ke-74. Data ini perlihatkan animo masyarakat tentang protes masyarakat Papua setara perayaan kemerdekaan RI.

Perbandingan sebaran seluruh berita kedua isu menunjukkan tren yang sama. Baik pergolakan di Papua dan HUT RI sangat tinggi. Pun demikian, isu Papua nampaknya membuat masyarakat Indonesia terperangah. Saling berbagi spontan menunjukkan isu tersebut viral. Data pada gambar memperlihatkan animo “kaget” masyarakat ditujukan pada pergolakan di Papua dibandingkan HUT RI.

Lalu bagaimana dengan sebaran unggahan di media sosial? Evello akan membahasnya berdasarkan media sosial terbesar di Indonesia, saudara tua Twitter yang hingga saat ini masih dipakai hingga ke kampung-kampung.

Kedua topik, baik HUT RI ke-74 dan protes masyarakat Papua tersebar lebih dari 1 juta kali hingga 23/8/2019 pukul 11:23 WIB. Ada 1.198.444 kali tombol shared diketuk oleh warganet berisikan isu Papua. Jika rata-rata pertemanan di media sosial mencapai 500, maka jumlah sebaran berpotensi dilihat sebanyak 1.198.444 dikalikan 500. Jumlah yang sangat besar bukan?

Protes masyarakat Papua pun banjir komentar warganet melalui media sosial. Jumlahnya mencapai 38% dari komentar seluruh warganet Indonesia saat perayaan HUT RI ke-74.

Jumlah reaksi yang diberikan warganet terhadap protes masyarakat Papua juga terbilang besar. Jumlahnya lebih dari 1,3 juta kali.

Jika seluruh metrik reaksi publik melalui kenal media sosial ini dibandingkan, maka terlihat protes keras masyarakat Papua adalah isu yang benar2 membutuhkan perhatian serius. Jumlah engagement (reaksi dll) mencapai angka 3 juta.

Dalam periode pantauan yang sama, evello juga mencatat gejolak di tanah Papua memiliki reaksi yang lebih tinggi dibandingkan isu-isu lainnya seperti Pendidikan, Kesehatan dan Pekerjaan.

Berdasarkan data yang telah disajikan, apa yang disampaikan Gubernur Papua, Lukas Enembe agar tidak menyederhanakan masalah Papua menjadi benar adanya. Seluruh metrik yang dipantau melalui analisa evello mendukung pernyatan Lukas Enembe.

Saat Prabowo Mulai Dilupakan

“Kami menghargai kesadaran kolektif yang sekarang tumbuh di internal Gerindra. Kami apresiasi sikap dan langkah Pak Prabowo yang tegas bersikap terhadap mereka-mereka yang selalu mendorong Gerindra pada posisi kombatif dan konfrontatif,” demikian ungkapan Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno tepat seminggu sebelum perayaan HUT Kemerdekaan RI yang ke-74.

Apresiasi yang dimuat dalam media detik pada Minggu 11 Agustus 2019 terbilang menjadi berita yang biasa-biasa saja. “Tidak banyak yang memperhatikan”, demikian analisis platform Big Data Evello.

Berita tersebut menjadi berita dengan peringkat sebaran ke-21 dari 100 berita tentang Prabowo yang paling banyak disebar netizen. Pantauan tersebut dilakukan pada periode 11-18 Agustus. Berapa jumlah sebarannya? Evello menemukan angka 21. Artinya tautan berita tersebut hanya dibagikan sebanyak 21 kali di media sosial.

Melalui analisa terhadap efek viral 100 berita tentang Prabowo pada 11-18 Agustus 2019, diperoleh sebarannya hanya 2.690. Sementara, pada periode yang sama 100 berita tentang Jokowi disebar sebanyak 24.429 kali.

Gambar I. Share Index Sebaran Berita Prabowo Subianto Periode 11-18 Agustus 2019 Berbanding Sebaran Berita Joko Widodo.

Tak hanya sebaran berita, analisa melalui media sosial paling ramai alias twitter menunjukkan kecenderungan yang sama. Pada periode pantau yang sama, jumlah akun yang terlibat dalam membicarakan Prabowo adalah 10.526. Sementara jumlah kicauan ditemukan sebanyak 25.552.

Pada periode yang sama, jumlah akun yang terlibat memperbincangkan Jokowi adalah 92.318 dengan jumlah kicauan mencapai 200.605 tweet.

Gambar II. Perbandingan Jumlah Akun Unik Prabowo dan Jokowi di Twitter.

Pada periode pantau yang sama, Evello juga menemukan bahwa jumlah akun unik yang terlibat dalam percakapan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lebih besar dibandingkan Prabowo. Pantauan pada kanal twitter menemukan Anies diperbincangkan oleh 41.114 akun twitter.

Pada periode yang sama, jumlah akun yang terlibat dalam percakapan tentang Rocky Gerung mencapai 14.843 akun unik. Lebih besar dibandingkan Prabowo.

Demikian juga mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Percakapan tentang Ahok melibatkan 17.901 akun twitter.

Hasil tersebut tidak berbeda dengan analisa Evello melalui metrik media sosial terbesar di Indonesia, Facebook. Jumlah sebaran untuk Prabowo tertinggal jauh dengan sebaran Jokowi.

Prabowo pada periode 11-18 Agustus 2019 memiliki sebaran sebanyak 126.147 berbanding Jokowi sebanyak 583.069 sebaran.

Gambar III. Perbandingan Jumlah Sebaran Percakapan Prabowo dan Jokowi Periode 11-18 Agustus 2019.

Benarkan Prabowo Mulai Dilupakan?

Data-data yang disampaikan sebelumnya menunjukkan bahwa rival Jokowi, Prabowo Subianto mulai sepi dari perhatian publik. Jika dibandingkan data pada periode 11-18 Juli 2019 penurunan perhatian publik terhadap Prabowo benar adanya.

Pada periode 11-18 Juli 2019, 100 berita Prabowo tersebar sebanyak 61.604. Jika dibandingkan pada periode yang sama dengan Agustus 2019 telah terjadi penurunan sebaran berita sebanyak 75% terhadap Prabowo.

Demikian pula pada keterlibatan jumlah akun unik di media sosial twitter. Pada 11-18 Juli 2019, jumlah akun unik yang terlibat membicarakan Prabowo mencapai jumlah 65.104 akun. Sementara pada periode yang sama di Agustus 2019 tersisa 10.526.

Kondisi yang sama juga terlihat dari sebaran percakapan Prabowo di media sosial terbesar di Indonesia, FB. Pada periode 11-18 Juli 2019, sebaran percakapan tentang Prabowo mencapai angka 943.855. Pada periode yang sama di Agustus 2019 sebaran percakapan Prabowo tersisa 126.147 sebaran.

Pada dasarnya penurunan perhatian publik tidak saja terjadi pada Prabowo. Jokowi pun mengalami penurunan intensitas perhatian publik. Jika pada 11-18 Juli 2019 sebaran percakapan Jokowi mencapai 1.354.395, maka pada periode yang sama di Agustus 2019 turun menjadi 583.069 sebaran.

Meskipun demikian, penurunan pada Jokowi tidak seekstrim penurunan terhadap sebaran percakapan Prabowo.

Cebong dan Kampret Dalam Pertarungan Prabowo vs Jokowi

Dalam sebuah kesempatan, Prabowo dan Jokowi meminta agar penggunaan istilah cebong dan kampret dihentikan.

Pada 22 April 2019, dalam wawancara bersama wartawan senior iNews Ariyo Ardi, Jokowi menanggapi istilah cebong dan kampret.

“Sudahlah. Kehendak rakyat sudah ditentukan di 17 April kemarin, di hari pencoblosan sudah. Nah setelah itu, sudahlah enggak usah ada lagi istilah cebong, kampret. Stop,” ucap Jokowi kala itu.

“Sudahlah, enggak ada lagi cebong-cebong. Enggak ada lagi kampret-kampret,” ujar Prabowo saat konferensi pers bersama Joko Widodo di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7/2019).

Himbauan keduanya disebut-sebut banyak pihak akan menjadi momentum berhentinya pertikaian dan saling serang kelompok cebong dan kampret di media sosial.

Video I. Sejumlah Pengamat Menyebutkan Pertemuan Jokowi-Prabowo Menghentikan Pertikaian Kelompok Cebong dan Kampret.

Sementara Hasil penelitian Evello menunjukkan bahwa penurunan percakapan dan perhatian terhadap Jokowi dan Prabowo tidak menunjukkan bahwa kelompok cebong dan kampret telah bubar.

Melalui analisa terhadap kasus pembongkaran Getah-getih yang viral di media berita dan media sosial menunjukkan bahwa lapangan pertempuran kelompok cebong dan kampret tidak lagi didominasi rivalitas politik Jokowi dan Prabowo. Pertempuran cebong dan kampret justru makin seru dan spesifik dalam konteks perebutan pengaruh di DKI Jakarta. Posisi Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta menjadi lahan baru pertikaian cebong dan kampret.

https://twitter.com/EvelloCorp/status/1161604667735867393
Gambar IV. Berita Permintaan Maaf PSI Terkait Penyerobotan Trotoar Menjadi Berita ke-16 Terbanyak Disebar Pada Rabu, 14 Agustus 2019

Ramainya percakapan tentang polusi dan sampah di DKI Jakarta juga tidak lepas dari pindahnya pertarungan cebong dan kampret. Bahkan isu-isu spesifik seperti trotoar menjadi pertempuran kelompok cebong dan kampret.