Jangan Remehkan Kemampuan Cebong: Perspektif Big Data

Perbandingan Komentar Facebooker

Dipercakapkan sebanyak 801.738 kali sejak 1 Januari hingga 16 Januari 2020 menyebabkan banjir di awal tahun 2020 menjadi momen paling spesial. Puncak percakapan bertemakan banjir 2020 terjadi pada Kamis 2 Januari 2020 dengan jumlah percakapan mencapai 161.791 tweet di media sosial twitter.

Banjir memang menjadi topik paling ramai memasuki tahun 2020 diluar percakapan Natuna, skandal asuransi Jiwasraya dan Asabri. Di kanal twitter, banjir dipercakapkan oleh 260.730 akun twitter.

Jika diperbandingkan dengan jumlah keterlibatan akun twitter, tema banjir diperbincangkan 69,90% lebih banyak dibandingkan isu Natuna dan Jiwasraya. Natuna dipercakapkan 59,522 akun twitter dan skandal Jiwasraya dipercakapan 52,717 akun twitter (Gambar 1)

Gambar 1. Perbandingan jumlah akun twitter yang terlibat dalam perbincangan bertema banjir, natuna dan jiwasraya periode 1-16 Januari 2020.

Sejumlah pihak menuding keramaian percakapan tentang banjir tak melulu obyektif. Perbincangan soal banjir dituding banyak pihak digunakan untuk kepentingan politik. Terutama untuk menjatuhkan Gubernur DKI saat ini, Anies Baswedan oleh kelompok yang kontra bernama cebong. Tentang kecurigaan ini, Evello pernah menyampaikan analisanya pada Kamis 2 Januari 2020 (Gambar 2).

https://twitter.com/EvelloCorp/status/1212544785447145472
Gambar 2. Kicauan Evello pada Kamis 2 Januari 2020

Mengacu pada Gambar 2, data yang dilansir pada 1 Januari 2020 memperlihatkan perbandingan antara keramaian percakapan banjir dan Anies.

Pada data terlihat meskipun banjir menerjang wilayah Jawa Barat, percakapan tentang Ridwan Kamil tidak signifikan. Keramaian percakapan lebih banyak membahas seputar kejadian di Jakarta dan tentu saja Gubernurnya, Anies Baswedan.

Lebih jauh data Evello memperlihatkan politisasi kasus banjir tak hanya menimpa Anies Baswedan, Presiden RI Joko Widodo juga terseret. Munculnya nama Jokowi dalam lautan tema percakapan banjir memperlihatkan pertempuran cebong vs kampret memang terjadi.

Dalam artikel Saat Prabowo Mulai Dilupakan, evello menemukan fakta bahwa pertempuran cebong dan kampret justru makin seru dan spesifik dalam konteks perebutan pengaruh di DKI Jakarta. Posisi Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta menjadi lahan baru pertikaian cebong dan kampret.

Data evello menunjukkan bahwa banjir awal tahun 2020 tak hanya meramaikan jagad media sosial Indonesia. Pemberitaannya pun masif bertebaran di internet. Pada periode 1-16 Januari 2020 jumlah berita dengan tema banjir mencapai 23.813 artikel berita.

Di kanal facebook, berita-berita bertema banjir telah tersebar alias dibagikan oleh pengguna facebook sebanyak 77,597 kali. Adapun jumlah reaksi diberikan oleh pengguna facebook terhadap berita-berita banjir mencapai angka 134.474. Total nilai engagement untuk berita-berita banjir di facebook mencapai angka 180.372.

Jelinya Kelompok Cebong Bertarung Opini

Ada banyak tema menarik yang bisa diamati dalam pantauan mesin big data evello berkaitan dengan banjir awal tahun 2020. Salah satunya mengamati perilaku kelompok cebong dalam peperangan opini memanfaatkan isu banjir.

Sesaknya pertarungan opini tentang tanggung jawab banjir di kanal twitter dimanfaatkan oleh kelompok cebong dengan memanfaatkan cara lain. Menyebarkan berita dengan sentimen emosi ke kanal facebook.

Seperti diketahui, metode ini sangat efektif dilakukan di era yang disebut sebagai Post-truth. Post-truth sendiri merujuk pada keadaan di mana emosi dan keyakinan pribadi lebih berpengaruh membentuk opini publik daripada fakta-fakta objektif. Hal ini terlihat dari 3 berita terbanyak disebar pengguna facebook tentang Anies periode 1-16 Januari 2020. Ketiga berita seperti pada Gambar 3 memiliki nilai sentimen yang tinggi. Baik menguntungkan ataupun merugikan Anies.

Gambar 3. Tiga berita terbanyak disebar pengguna facebook tentang Anies Baswedan memiliki sentimen tinggi, baik sentimen positif buat Anies (berita ke-2) dan sentimen negatif (berita 1 dan 3).

Berdasarkan gambar 3 di atas, artikel kompasiana berjudul “Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta” dengan gambar Jokowi menempati berita terbanyak disebar facebooker berkaitan dengan Anies dan banjir Jakarta. Artikel ini sendiri telah dibaca sebanyak 106.255 kali hingga berita ini dimuat.

Jika ditelaah lebih jauh, artikel ini tidak memuat sumber yang dapat dipercaya bahwa penanganan banjir Jakarta memang diambil alih oleh pemerintah pusat. Isi artikel lebih banyak mengulas pendapat pribadi dari penulisnya soal penanganan banjir. Judul dari tulisan inilah yang menarik disebar untuk membentuk opini bahwa Anies tidak bisa menangani banjir Jakarta. Gambar berikut memperlihatkan bahwa artikel tersebut menjadi bahan propaganda bagi kelompok kontra Anies (cebong).

Gambar 4 memperlihatkan bagaimana artikel tersebut disebar di facebook dengan narasi kegagalan Anies menangani banjir Jakarta. Komentar yang bertebaran sebagian besar menganggap Anies telah gagal. Seperti kutipan salah satu komentar akun facebook bernama Tumiran: “Itu bukti pusat gak percaya dgn anis sebagai gubernur DKI. Jika punya muka mending anis mundur”. Jika ditelisik berdasarkan biodata yang ada, akun Tumiran mengaku tinggal di Jember Jawa Timur.

Gambar 4. Sebaran artikel kompasiana yang dilakukan oleh kelompok cebong di kanal Facebook. Artikel ini mendapat dukungan luas dari kelompok kontra Anies sebagai bahan pembentukan opini.

Judul artikel ini menarik. Pada 3 Januari 2020, artikel ini selain dibagikan sebanyak 3.448, dikomentari sebanyak 15.460 dan menuai 38.384 reaksi facebooker. Total nilai engagement artikel ini pada 3 Januari 2020 mencapai 57.292.

Jika dilakukan perbandingan sebaran artikel tersebut per tanggal 3 Januari hingga 16 Januari 2020, persebaran artikel tidak berhenti. Pengguna facebook tetap membagikan artikel tersebut di dinding akun dan atau grup facebook seperti terlihat pada Gambar 5 berikut.

Gambar 5. Perbandingan sebaran artikel berjudul Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta per 3 Januari dan 16 Januari 2020.

Pada periode 3 Januari 2020, artikel kompasiana berjudul “Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta” merupakan berita dengan jumlah komentar terbanyak di facebook untuk kategori kata kunci pencarian “banjir” dan “anies baswedan”. Gambar 5 memperlihatkan adanya sebaran lebih dari 2000 akun facebook untuk antara tanggal 3 hingga 16 Januari 2020.

Gambar 6. Artikel kompasiana berjudul Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta per 3 Januari 2020 menuai 15.460 komentar pengguna facebook.

Tingginya sebaran artikel kompasiana seperti pada Gambar 6 di atas mendorong tingginya jumlah komentar pengguna facebook. Pantauan pada periode 16 Januari 2020 jumlah komentar pengguna facebook meningkat menjadi 31.457 komentar dari sebelumnya 15.460 komentar.

Jumlah reaksi pengguna facebook terhadap artikel kompasiana “Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta” juga ramai sepanjang periode 3 hingga 16 Januari 2020. Reaksi tersebut menunjukkan berita tersebut viral di facebook ditengah ramainya saling serang soal banjir Jakarta di twitter (Gambar 7).

Gambar 7. Perbandingan reaksi pengguna facebook untuk artikel berjudul Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta per 3 Januari dan 16 Januari 2020.

Kesimpulan

  1. Banjir pada awal Januari 2020 menjadi alat politis bagi kelompok cebong vs kampret untuk saling menjatuhkan. Data evello menunjukkan adanya penyerangan dari kelompok cebong terhadap Anies Baswedan dan pembelaan sekaligus penyerangan balik terhadap kelompok cebong.
  2. Hasil penelusuran terhadap fasilitas Virality Effect menemukan adanya artikel kompasiana dengan judul berita Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta per 3 Januari 2020 dengan sebaran sangat tinggi di Facebook.
  3. Sebaran ini menunjukan kemampuan kelompok cebong dalam menggeser opini dari riuhnya pertarungan di kanal twitter untuk menjangkau warganet lainnya melalui kanal facebook.
  4. Sebaran artikel kompasiana Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta menguntungkan Jokowi sebagai obyek kampanye dan sekaligus menyebarkan opini kegagalan Anies di DKI Jakarta.

Membedah Akun Robot Disekeliling Wakil Presiden Maruf Amin

Deteksi Akun Robot Pendukung Maruf Amin

Jelang tutup tahun 2019 perangkat analitik big data Evello menemukan keanehan dalam percakapan Wakil Presiden Maruf Amin. 10 akun terbanyak memperbincangkan Maruf Amin terlihat menghasilkan pola interaksi seragam. Melalui ciri dan pola tersebut, evello menyimpulkan akun-akun tersebut adalah robot yang bekerja mendengungkan Maruf Amin.

Berdasarkan gambar 1 dibawah, cara kerja akun-akun tersebut bisa dikatakan seragam. Jumlah tweet perhari selama periode 1-28 Desember 2019 tidak lebih dari 6 tweet. Tak hanya itu, waktu bekerja akun-akun tersebut terlihat seragam. Polanya memperlihatkan adanya penjadwalan kerja.

Wired.com dalam artikel berjudul What Is a Bot? menyebutkan adanya ciri yang disebut sebagai “bot-like activity”. Wired menyebutkan setidaknya tiga ciri untuk menentukan adanya akun robot atau bot. Ciri pertama adalah adanya puluhan bahkan ratusan aktivitas retweet dalam sehari. Ciri kedua membanjiri linimasa dengan puluhan bahkan ratusan pesan, konten dan tautan yang sama. Sementara ciri ketiga adalah penggunaan banyak akun untuk melakukan kedua aktivitas di atas.

Gambar 1. Deteksi penggunaan akun-akun robot yang digunakan untuk mendengungkan Wakil Presiden Maruf Amin periode 1-28 Desember 2019.

Jika ditelisik lebih jauh, 10 akun-akun tersebut memang memiliki tingkat keaktifan sangat tinggi. Jumlah status (tweet, retweet, mention) masing-masing akun mencapai jumlah yang sama dengan pengikut terbilang kecil.

Gambar 2. Tabel biodata 10 akun terbanyak berkicau tentang Maruf Amin. Jumlah status tinggi dengan pengikut kecil.

Untuk memastikan bahwa akun-akun tersebut adalah akun robot, penulis melakukan pengecekan terhadap konten dua akun, yaitu @FujiHans dan @RahayuShintta.

Gambar 3. Konten akun FujiHans keseluruhan hanya bercerita tentang Maruf Amin. Tidak ada interaksi diluar topik Maruf Amin.

Kicauan @RahayuShintta juga memperlihatkan konten serupa dengan akun @FujiHans. Tema percakapan keduanya tidak bergeser dari upaya mendengungkan Maruf Amin.

Gambar 4. Konten kicauan akun @RahayuShintta identik dengan kicauan konten akun @FujiHans

Menariknya, konten yang digunakan oleh akun-akun tersebut terindikasi berkaitan dengan pelaksanaan pemilu Presiden dan Wakil Presiden lalu. Dengan kata lain, akun-akun bot tersebut telah bekerja sejak Pilpres 2019 lalu.

Membandingkan Presiden dan Wakil Presiden

Wakil Presiden Maruf Amin memang tidak setenar di jagad maya dibandingkan dengan Presiden Joko Widodo. Pada periode pantau 1-28 Desember 2019, di ranah twitter, Maruf Amin berbagi Share Index dengan Jokowi sebanyak 4,7%. Di media pemberitaan, Maruf diberitakan hanya 9,8% dibandingkan Jokowi. Kedua ukuran berbanding Jokowi hanya mencapai kurang dari 10%.

Berita-berita tentang Maruf Amin menimbulkan kemelekatan dengan pengguna facebook sebesar 17.601. Sementara di saat yang sama, Jokowi memiliki nilai lekatan dengan netizen sebanyak 137.972.

Di Youtube, hanya 85.744 jempol disematkan kepada Maruf Amin. Sementara pada saat bersamaan, jempol dilayangkan untuk Jokowi mencapai 1.342.854 likes.

Kesimpulan

Posisi Wakil Presiden adalah modalitas luar biasa bagi seorang Maruf Amin untuk membangun persepsi publik organik di jagad maya. Aktivitas harian Maruf Amin adalah sumber konten unik untuk diekspos lebih jauh kepada publik. Penggunaan akun robot untuk mendengungkan Maruf Amin kepada publik sebaiknya dihentikan. Ganti dengan metode kreatif, menarik dan tentu saja berbobot untuk dikonsumsi rakyat Indonesia.

#Reuni212: Anies Dilirik Facebooker 79% Dibanding Rizieq Shihab

Perbandingan Anies Baswedan vs Habib Rizieq Shihab

Berdasarkan catatan @evellocorp, pemberitaan acara Reuni 212 pada 2-3 Desember 2019 mencapai 1.871 berita. Hasil penelusuran terhadap sebaran berita-berita di media sosial facebook pada Senin 2 Desember 2019 didominasi oleh acara Reuni 212. Media Republika menguasai tiga berita dengan sebaran paling tinggi di facebook dengan berita mengabarkan reuni 212.

Gambar 1. Media Republika menguasai tiga berita dengan persebaran tertinggi di facebook. Ketiga berita bertemakan reuni 212

Kutipan tentang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang hadir dalam acara reuni 212 menempati posisi pertama berita terbanyak dibagikan facebooker. Pendapat Anies bahwa reuni 212 cerminan persatuan Indonesia menempati berita pertama dengan sebaran sebanyak 7.336 kali di facebook pada 2 Desember 2019.

Soal sampah juga masih menjadi perhatian facebooker. Berita kedua terbanyak dibagikan menceritakan peserta reuni 212 meninggalkan lokasi acara sambil memungut sampah.

Penelusuran berdasarkan jumlah komentar facebooker terhadap berita-berita yang tersebar menemukan acara reuni 212 masih dominan. Gambar 2 berikut menunjukkan 2 dari 3 berita terbanyak dikomentar pengguna facebook masih berasal dari aksi reuni 212. Dua berita tersebut memunculkan dua orang tokoh. Masing-masing Anies Baswedan dan Rizieq Shihab.

Gambar 2. Dua berita tentang reuni 212 terbanyak dikomentar pengguna facebook. Dua orang tokoh hadir dalam berita dengan komentar terbanyak.

Kehadiran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam acara reuni 212 ternyata mengundang reaksi terbesar dibandingkan sejumlah tokoh yang menghiasi pemberitaan. Berita Republika dengan judul Anies: Reuni 212 Cerminan Persatuan Indonesia menjadi berita terbesar mengundang reaksi pengguna facebook. Sepanjang Senin 2 Desember 2019, jumlah reaksi untuk Anies mencapai angka 77.558 kali.

Gambar 3. Anies Baswedan menuai reaksi paling banyak dari pengguna facebook dibandingkan tokoh lainnya yang diberitakan berkaitan dengan acara reuni 212.

Sementara itu, berdasarkan total skor engagement dengan netizen pengguna facebook, skor Anies lebih besar dibandingkan dengan Imam Besar FPI, Rizieq Shihab. Berdasarkan Gambar 4, Anies dilirik oleh pengguna facebook 79% lebih banyak dibandingkan Rizieq Shihab.

Gambar 4. Perbandingan total skor engagement antara Anies Baswedan dan Habib Rizieq Shihab berdasarkan sebaran, komentar dan reaksi pengguna facebook terhadap berita-berita reuni 212.

Dari 10 berita dengan skor engagement tertinggi di media sosial facebook, evello mencatat hanya ada tiga tokoh yang muncul. Ketiganya berturut-turur adalah Anies Baswedan, Sobri Lubis dan Rizieq Shihab.

Ahok Masih Penuh Pesona

Ahok Masih Penuh Pesona

Namanya kembali ramai diperbincangkan publik. Bukan karena Ia ingin. Melainkan karena pemanggilan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Konon Erick menginginkan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk menempati pos sebagai petinggi di salah satu BUMN.

Sontak nama Ahok ramai tersorot publik kembali. Maklum, beberapa saat lalu, Ia juga ramai menjadi perhatian publik setelah mencuat perbincangkan kontroversi belanja pada APBD DKI Jakarta.

Pada Kamis, 14 November 2019, Ahok diperbincangkan sebanyak lebih dari 35 ribu kali di Twitter. Padahal, disaat bersamaan Presiden Jokowi dipercakapkan hanya 25 ribu kali kicauan.

Demikian dengan media berita daring. Sepanjang Kamis, 14 November 2019 Ahok diberitakan sebanyak 609 kali. Jauh mengungguli berita Menkopolhukam baru, Mahfud MD pada periode yang sama.

Di media sosial, pemanggilan Ahok mengundang kontroversi. Bagi para pendukungnya, kembalinya Ahok ke panggung jabatan publik disambut riang gembira.

“Maling dan penganut khilafah pasti gak suka kalau Ahok di BUMN. Karena BUMN bakal sehat.” ujar salah satu pendukung Ahok melalui akun twitter.

Sebaliknya tidak sedikit yang kontra. Selain partai Gerindra dan petinggi Partai Demokrat Marzuki Alie, konon penolakan juga muncul dari serikat pekerja PT. Pertamina TBK.

“Sudah mulai beredar Spanduk Penolakan dari mereka yang mengklaim Serikat Pekerja Pertamina atas rencana penunjukan Ahok di BUMN ini.” ujar pemilik akun @kurawa melalui linimasa twitter.

Pesona Ahok di Twitter

Terlepas dari pro dan kontra Ahok, kami di Evello menyebutnya sebagai pesona sebuah brand. Tidak banyak tokoh publik dengan brand image sangat kuat. Mengacu pada pengamatan Evello, selain Ahok ada Jokowi, Prabowo dan Anies yang selalu ramai menjadi perhatian publik.

Ahok sepanjang periode pantauan 1 Oktober – 15 November 2019 diperbincangkan oleh lebih dari 85 ribu akun twitter. Darimana ramainya keterlibatan akun unik twitter tersebut? Tentu publik masih mengingat ramainya percakapan tentang anggaran APBD DKI beberapa waktu lalu. Ahok adalah obyek pasif, tetapi terseret dalam ramainya percakapan.

Tidak hanya itu, pemanggilan oleh Menteri BUMN, Erick Thohir membuat netizen ikut ramai “berkerumun” mempercakapkan Ahok.

Gambar 1. Posisi Ahok dalam kuadran percakapan di linimasa twitter dibandingkan sejumlah tokoh pada periode 1 Oktober – 15 November 2019.

Menilai Ahok Dari Sebaran Berita

Lalu apa pesona Ahok? Untuk mengetahuinya evello dapat menelusuri berita-berita mana saja yang paling banyak dibagikan melalui Facebook. Mengapa? media sosial satu ini memiliki jumlah pengguna terbesar di Indonesia. Tak heran, lembaga peneliti Amerika Serikat, PEW Research Center menyebutkan 52% remaja Amerika mendapatkan berita melalui jejaring facebook.

Gambar 2. 2.654 berita tentang Ahok tersebar sebanyak 18 ribu kali di kanal Facebook.

Berdasarkan pada Gambar 2 di atas, Ahok sepanjang periode 1 Oktober – 15 November 2019 diberitakan sebanyak 2.654 kali. Cukup tinggi untuk seseorang yang sedang dalam posisi tidak memiliki jabatan publik.

Jumlah ini lebih besar dibandingkan jumlah pemberitaan yang dimiliki oleh Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo dan Khofifah Indar Parawangsa pada periode pantauan yang sama. RK diberitakan 1.327 berita, Ganjar 1.057 berita dan Khofifah sebanyak 1.272 berita.

Sebaran berita Ahok juga terbilang sangat tinggi. Penelusuran evello menemukan berita-berita Ahok tersebar sebanyak 18 ribu kali. Jumlah komentar pun ramai dilayangkan pengguna medsos terbesar di dunia ini, lebih dari 21 ribu komentar. Jumlah emoticon yang disampaikan publik sebagai bentuk reaksi terhadap pemberitaan Ahok mencapai jumlah lebih dari 81 ribu. Sekali lagi, tidak mudah mencapai angka lebih dari 81 ribu hanya kurang dari dua bulan.

Lalu tema berita apakah yang paling ramai menarik perhatian publik? Gambar 3 berikut memperlihatkan tiga berita dengan jumlah kelekatan paling tinggi dengan warganet. Dari tiga berita tersebut dapat diketahui, isu APBD DKI Jakarta dan jabatan baru di BUMN merupakan pemicu utama ramainya perhatian publik kepada pria kelahiran Belitung Timur 53 tahun silam.

Gambar 3. Berita dengan kelekatan (sebaran, komentar dan reaksi) tertinggi di kalangan warganet mengkonfirmasi isu APBD DKI Jakarta dan jabatan di BUMN sebagai isu pemicu ramainya perhatian publik pada mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama.

Kesimpulan

Ahok adalah sedikit diantara tokoh publik dengan pesona tinggi. Selain Ahok, Anies Baswedan, Joko Widodo dan Prabowo Subianto adalah tokoh yang berdasarkan pengamatan data evello selalu ramai diperbincangkan publik. Baik perbincangan pro dan kontra.

Berdasarkan pantauan evello, Ahok selalu memiliki persebaran berita yang tinggi di media sosial dan sebaliknya keramaian di media sosial memicu tingginya pemberitaan mengenai Ahok. Pesonanya masih cukup kuat bagi para pendukungnya dan mereka-mereka yang tidak berada dalam barisan Ahok untuk saling berkomentar dan berpendapat.

Nia Ramadhani dan Kabinet Jokowi

Channel Youtube Dengan Konten Jokowi Periode Sepekan

“Selamat kepada Presiden @jokowi atas permulaan masa jabatan Presiden kedua kalinya di Indonesia, tetangga dekat maritim kita. Saya yakin bahwa di bawah kepemimpinannya yang dinamis, persahabatan kita dan Kemitraan Strategis Komprehensif kita akan semakin dalam.” (Narendra Modi, Perdana Menteri India)

Tentu tak hanya Modi, ucapan selamat atas pelantikan Jokowi untuk periode yang kedua sebagai Presiden RI terus mengalir. Tak hanya ucapan selamat, banyak opini bertebaran di media sosial menolak pelantikan Joko Widodo dan Prof Maruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Intinya, media sosial kita heboh soal pelantikan Jokowi-Maruf Amin.

Selain pelantikan, pembentukan kabinet kerja Presiden Jokowi juga paling ramai menarik perhatian publik. Bahkan tagar #KabinetJokowi pada Senin (21/10/2019) memuncaki trending topik twitter Indonesia selama beberapa jam. Melalui tagar ini, netizen membahas kedatangan beberapa nama seperti Nadiem Makarim, Mahfud MD, Erick Thohir dan Wishnutama.

Hadirnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ke Istana Negara pada Senin (21/10/2019) menjadi puncak kehebohan pembentukan kabinet Jokowi. Prabowo digadang-gadang menjadi Menteri Pertahanan.

“Keputusan kami dari Partai Gerindra, apabila diminta kami siap membantu. Dan hari ini resmi diminta dan kami sudah sanggupi untuk membantu,” kata Prabowo usai bertemu Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 21 Oktober 2019.

Di twitter, Prabowo diperbincangkan lebih dari 39 ribu akun twitter. Berita tentang Prabowo Subianto juga meningkat. Tercatat 3.392 artikel memberitakan mantan Danjen Koppassus tersebut. Kabar Prabowo sebagai menhan Joko Widodo juga menarik perhatian publik youtube. Ada 88.153 komentar dihamburkan netizen untuk Prabowo. Masih kurang heboh? evello mencatat 212.003 jempol memberikan tanda suka untuk Prabowo.

Gambar 1. Tren pemberitaan dan percakapan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Pemanggilan Prabowo ke istana oleh Jokowi memuncaki perhatian publik pada Senin (21/10/2019)

Walau ramai menarik perhatian publik, netizen Indonesia ternyata tidak mudah dijejali oleh konten bernuansa politik. Sepanjang Senin (21/10/2019), evello mendeteksi berita dengan sebaran tertinggi di kanal facebook justru datang dari Nia Ramadhani.

Berita istri pengusaha Ardi Bakrie ini menempati puncak berita terbanyak dibagikan di facebook. Tak hanya ramai dibagikan, berita Nia Ramadhani tidak bisa mengupas buah salak juga menjadi berita terbanyak dikomentari pengguna media sosial terbesar di Indonesia ini.

Gambar 2. Dua berita Nia Ramadhani tidak bisa mengupas buah salak menjadi berita terbanyak dibagikan pengguna Facebook pada Senin (21/10/2019).

Dalam pantauan evello, tiga berita terbanyak dibagikan netizen Indonesia di Facebook tidak bernuansa politik. Dua berita berasal dari kabar Nia tidak tahu cara kupas salak dan satu berita mengabarkan bahaya mi instan.

Nia juga masuk dalam berita terbanyak dikomentari netizen Indonesia sepanjang Senin kemarin (21/10/2019). Disaat netizen sedang heboh membicarakan siapa saja yang akan menjadi Menteri Jokowi, Nia menempatkan dua beritanya terbanyak dikomentari netizen.

Berdasarkan ukuran berita terbanyak dibagikan dan dikomentari, tidak satu pun berita tentang pembentukan kabinet Presiden Joko Widodo masuk dalam tiga besar.

Gambar 3. Dua berita Nia Ramadhani terbanyak memperoleh komentar pengguna facebook disaat netizen lainnya ramai membericakan kabinet Jokowi

Kesimpulan

Netizen Indonesia memang unik. Disaat kontentasi Pilpres 2019 mencapai puncaknya dengan pembentukan kabinet kerja Joko Widodo – Maruf Amin, mereka justru asyik menyebarkan berita seorang wanita cantik tidak dapat mengupas buah salak. Temuan ini menunjukkan bahwa politik tidak selalu menjadi pusat perhatian publik.

Pancasila Diberitakan 68% Lebih Banyak Dibanding Komunis dan Khilafah

Tema berita Pancasila selama pantauan periode 1 Januari – 14 Oktober 2019 mencapai 26.975 artikel atau setara dengan 68% berbanding berita tentang Komunis dan Khilafah.

Meskipun demikian, pemberitaan bertemakan Komunis tercatat mencapai 9.302 artikel berita dibandingkan Khilafah dengan 3.384 berita.

Jika mengacu pada grafik pantauan harian selama periode Januari – Oktober 2019, tema khilafah dan komunis cukup aktif mewarnai pemberitaan di media daring Indonesia.

Berdasarkan tren pemberitaan yang ada, percakapan tentang Pancasila, Komunis dan Khilafah tidak terlepas dari situasi politik di tanah air. Pantauan pada medio April 2019 menunjukkan terjadi lonjakan pemberitaan yang cukup tinggi untuk ketiga ideologi yang dipantau, baik Pancasila, Komunis dan Khilafah.

Gambar 1. Pemberitaan bertemakan Pancasila, Komunis dan Khilafah meningkat bersamaan pada periode April 2019.

Dilansir dari Viva.co.id (Kamis, 18 April 2019), Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf yang juga Kepala Staf Presiden, Jenderal (Purn) Moeldoko mengakui kekalahan pasangan 01 itu di sejumlah daerah karena isu agama.

Moeldoko juga menyebutkan Isu agama kerap dialamatkan ke Jokowi, seperti kalau terpilih maka azan akan dilarang. LGBT juga diisukan akan dilegalkan, hingga pernikahan sesama jenis. Sebelumnya Jokowi juga dihantam isu sebagai kader PKI.

Sementara itu, dilansir dari media yang sama, Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno, tegas menyatakan tidak akan memberi ruang terhadap paham komunis untuk hidup di Indonesia. Hal itu diungkapnya di hadapan ratusan ulama dan tokoh lintas etnis di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Selasa 9 April 2019.

Pantauan Evello pada periode 1-22 April juga menemukan hal menarik. Bukan kebetulan jika pada periode pantau tersebut jumlah pemberitaan bertema komunis dan khilafah cenderung sama. Gambar 2 berikut menunjukkan pemberitaan khilafah mencapai 838 artikel. Sementara pemberitaan tentang komunis mencapai 825 artikel.

Gambar 2. Jumlah pemberitaan bertema komunis dan khilafah pada periode 1-22 April 2019.

Kesamaan jumlah berita tidak terlepas dari pertarungan Pilpres 2019. Hal tersebut juga tercermin dalam surat Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Minggu, 7 April 2019. Dalam surat tersebut, SBY menyebutkan bahwa Prabowo Subianto kerap dihubungkan dengan khilafah, sementara Joko Widodo dihubungkan dengan narasi komunis.

Saya berpendapat bahwa juga tidak tepat kalau Pak Prabowo diidentikkan dengan kilafah. Sama tidak tepatnya jika kalangan Islam tertentu juga dicap sebagai kilafah ataupun radikal. Demikian sebaliknya, mencap Pak Jokowi sebagai komunis juga narasi yang gegabah.

Hasil penelaahan terhadap tren berita bertema khilafah sepanjang 2019 menunjukkan bahwa isu ini sangat lekat dengan pelaksanaan Pilpres 2019. Data tren bulanan seperti terlihat pada Gambar 3 berikut menunjukkan bahwa tren berita khilafah meningkat pada bulan Maret – April dan cenderung turun drastis sesudahnya.

Gambar 3. Tren pemberitaan bertema khilafah meningkat signifikan pada Maret-April 2019.

Sejalan dengan tren berita tentang khilafah, pemberitaan bertemakan komunis juga tidak lepas dari pelaksanaan Pilpres 2019. Berbeda dengan khilafah, tren berita komunis sudah tinggi sejak awal tahun 2019 hingga hajat pemilu usai dilakukan. Tren berita tentang komunis meningkat kembali pada akhir Agustus 2019 dipicu oleh peringatan hari kesaktian Pancasila dan G30S/PKI.

Gambar 4. Tren pemberitaan bertema komunis cenderung turun saat Pilpres 2019 dan meningkat kembali karena perayaan Pancasila Sakti dan G30S/PKI

Tren Persebaran Berita di Media Sosial

Berbeda dengan berita komunis dan khilafah, persebaran berita bertemakan Pancasila tidak selalu berkaitan dengan pelaksanaan Pilpres 2019. Meskipun demikian, melalui analisa persebaran berita terbanyak di media sosial dengan tema pancasila, evello menemukan sebagian besar berita dominan karena berkaitan Pilpres 2019.

Hasil pantauan pada 1 Januari hingga 14 Oktober 2019 menemukan tema pancasila kembali ramai dibahas dan disebar netizen Indonesia berkaitan dengan debat Arteria Dahlan dan Prof Emil Salim soal Perppu KPK.

Berita yang dilansir oleh media Republika.co.id mengambil judul “Arteria Dahlan, Emil Salim, dan Krisis Budi Pekerti” menjadi berita ke-6 terbanyak disebar netizen bertemakan Pancasila.

Berita tersebut telah disebar sebanyak 4.861 kali di media sosial, menuai 9.946 komentar dan menimbulkan reaksi sebanyak 24.472.

Pada periode pantau 1 Januari – 14 Oktober 2019 berita bertemakan Pancasila telah tersebar sebanyak 482.960 kali. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan persebaran berita bertema komunis dan khilafah. Gambar 5 berikut menunjukkan kuadran persebaran berita.

Gambar 5. Persebaran berita Pancasila, Komunis dan Khilafah di Media Sosial

Kesimpulan

Berdasarkan analisa terhadap jumlah, tren dan persebaran berita tentang Pancasila, Komunis dan Khilafah dapat disimpulkan bahwa tren berita komunis dan khilafah tidak terlepas dari isu Pilpres 2019. Meskipun demikian, isu Pancasila juga tidak terlepas dari Pilpres 2019 lalu. Isu Pancasila memiliki pemberitaan dan persebaran yang lebih tinggi dibandingkan Komunis dan Khilafah.