Ditinggal Pergi Dorce Gamalama, Apa Perasaan Kecerdasan Buatan?

Artis dan komedian Dorce Gamalama wafat pada Rabu (16/2/2022) pukul 07.30 WIB. Media mengabarkan jika artis serba bisa ini meninggal karena Covid-19. Kepergian Dorce merajai trending disemua trending Evello. Termasuk 500 ribu pencarian di pantauan Google Daily Trends.

Seperti diketahui, Dorce sendiri menderita sakit batu ginjal sejak 2019. Bahkan sejak 2020 -2021, Dorce kerap bolak-balik ke rumah sakit.

Menggunakan kecerdasan buatan, Evello mencoba membaca sentiment dan emosi berita-berita kepergian Dorce. Selain bersentimen negative sebesar 81%, kepergian Dorce terbaca oleh AI Evello lebih diterima oleh pembaca. Hal ini terdeteksi dengan tingginya skor Sadness dan Joy secara bersamaan. Skor Sadness mencapai 64% dan Joy 56%.

Kondisi ini berbeda saat #evello mencoba melakukan analisa kembali kepergian artis muda Vanessa Angel. Bersentimen negatif hingga 95%, Vanessa yang meninggal dalam kecelakaan tragis pada November 2021 lalu menuai emosi Sadness 66%. Emosi Joy terdeteksi sangat rendah yaitu 11%.

Dengan melakukan perbandingan gabungan emosi Sadness dan Joy pada Dorce Gamalama, AI evello mendeteksi kepergian Dorce lebih mudah diterima / diikhlaskan dibandingkan kepergian Vanessa Angel.

Adapun emosi Anger dan Fear untuk keduanya tidak terpaut jauh. Angka pada emosi Anger dan Fear menunjukkan emosi yang lumrah dalam setiap kepergian seseorang.

Wayang Haram? Begini Pendapat Evello Berdasarkan Teknologi AI

Pernyataan pendakwah Khalid Basalamah soal wayang haram tercatat mencapai 399 artikel berita. Beberapa berita terpantau #evello ramai tersebar di media sosial. Terutama setelah mendapat tanggapan dari beberapa pihak seperti Sudjiwo Tedjo, Dedi Mulyadi dan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Eks Keresidenan Banyumas. 

Karena ramai menimbulkan silang pendapat di publik, evello melakukan analisa lebih jauh soal polemik ini dengan menggunakan teknologi AI. 

Berita soal wayang haram berdasarkan ceramah Khalid Basalamah di kanal Youtube terdeteksi bersentimen negatif dengan skor hingga 51%. Walau bersentimen negatif ceramah tersebut didominasi oleh emosi Joy dan Sadness. Masing-masing sebesar 52% dan 51%. Jika kedua emosi cenderung berdekatan, evello mendeteksi jika tema berita cenderung menimbulkan perdebatan dan polemik. 

Meskipun demikian, pendapat bahwa wayang haram juga menimbulkan emosi Anger dan Disgust sebesar 18% dan 13%. Artinya selain menimbulkan polemik, berita wayang haram sudah dapat dipastikan menimbulkan kemarahan beberapa pihak walau tidak besar. 

Selain sentimen dan emosi, evello melakukan analisa lebih jauh menggunakan metode strength analytics. Tujuannya untuk mengetahui tekanan artikel ini seberapa kuat di publik. Hasilnya ditemukan jika berita wayang haram memiliki penekanan  analytical 62% dibandingkan Joy 52% dan Sadness 51%.

Dengan penekanan analytical 62% menunjukkan jika polemik wayang haram bukan sekedar polemik sosial biasa. Baik yang mendukung Khalid Basalamah dan pendukung wayang sebagai bagian dari budaya memiliki dasar masing-masing untuk bersikap. Masing-masing pihak bisa dikatakan akan sangat confident dalam bersikap. Polemik tidak akan pernah berakhir jika diteruskan.

Dari data-data analisa AI di atas, ada benang merah yang bisa diambil. Jika Anda adalah pendukung wayang sebagai budaya adiluhung Jawa, jangan memilih posisi emosi Anger. Karena analisa Strength menunjukkan hasil Analytical 62%, jadikan momentum ini untuk memperkuat pengenalan wayang ke publik. Berikan data dan fakta ke publik, apa kebaikan budaya wayang bagi masyarakat.  

Selengkapnya? #TanyaEvello

Membaca Frasa Ribuan Polisi Kepung dan Tangkap Warga Desa Wadas

Selasa, 8 Februari 2022 linimasa twitter diramaikan oleh berita dari @cnnindonesia berjudul “Ribuan Polisi Kepung dan Tangkap Warga Desa Wadas, ‘Alerta” Menggema”.

Berita tersebut sontak menjadi salah satu berita terbanyak disebar di linimasa twitter dengan menggunakan hashtag #WadasMelawan.

Saat #Evello melakukan analisa lebih lanjut terhadap berita ini, sentimen negatif terdeteksi hingga 66%. Tak hanya itu, melalui analisa menggunakan Deep Learning, #evello menemukan jika emosi Disgust mendominasi hingga 44%, Fear 29% dan Anger 25%.

Tak hanya itu, taksonomi dokumen terbaca sebagai Crime 84%, War and Conflicts 83% dan Law 71%.

Jika ketiga jenis analisa digabung menjadi satu, yaitu sentiment, emotion dan taxonomy, maka pemberitaan CNN Indonesia cenderung merugikan citra kepolisian RI.

Emosi Disgust Warnai Analisa Ceramah Oki Setiana Dewi

Nama kakak selebgram #RiaRicis, Oki Setiana Dewi jadi trending di media sosial. Tak hanya itu, media daring nasional pun ramai mengangkat namanya setelah potongan ceramahnya beredar. Ia dikecam publik. Tak sedikit yang mengungkapkan kecamannya dengan nada kasar.

Sebagian besar kritik menyebut ceramah Oki adalah legalisasi dominanasi pria atas kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan banyak juga yang menyebutnya sebagai legalisasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga alias #KDRT.

Ceramah Oki terbaca oleh mesin Evello bersentimen negative. Skornya pun cukup tinggi, yaitu 64%. Tak hanya itu, analisa terhadap emosi ceramah Oki menemukan hasil dominan perasaan Disgust. Ya, #Evello memberikan skor ceramah tersebut sebesar 81% menjijikkan. Wajar jika kemudian ceramah ini mengundang kecaman deras netizen. Selain emosi disgust, #Evello juga membaca jika ceramah tersebut dominan emosi Anger sebesar 26%.

Berdasarkan hierarki taksonomi ceramah Oki, Evello menemukan terdapat dua hierarki besar. Pertama adalah hierarki Family and Relationships dan hierarki Politics & News. Ya, ceramah Oki bisa memicu gerakan sosial dan politik karena anggapan mendukung legalisasi KDRT.

Terakhir, melalui analisa Big 5 Personality, ceramah Oki adalah ceramah yang hanya cocok untuk mereka yang memiliki skor Openness rendah dan memiliki Neuroticism tinggi. Artinya, mereka yang tidak terbuka dan hidup penuh rasa was-was adalah mereka yang cenderung paling menerima isi ceramah tersebut. Pada mereka yang lebih terbuka dan memiliki rasa takut rendah adalah mereka yang hari ini lebih ramai mengecam ceramah Oki.

Prediksi Ramalan Tahun Macan Air Menggunakan Kecerdasan Buatan

Salah satu yang ditunggu saat Imlek adalah ramalan berdasarkan shio.
Melalui Deep Learning, Evello melakukan analisa terhadap artikel-artikel berita perayaan imlek. Tahun macan air terdeteksi Evello bersentimen positif dengan skor cukup tinggi, yaitu 44%.
Berita-berita ramalan tahun macam air menghasilkan tiga emosi besar. Yaitu perasaan senang, takut dan sedih. Emosi Joy terdeteksi evello sebagai emosi terbesar yaitu 63%. Emosi Fear berada pada posisi kedua terbesar dengan skor 56% dan emosi Sadness dengan skor 49%.
Evello juga mendeteksi hierarki taksonomi artikel. Hasilnya sebagian besar ramalan tahun macan air memiliki hierarki didominasi konflik politik 73%, isu politik 63%, hukum 60%, rumah tangga, keluarga & asmara 59%, gaya hidup sehat 57% dan kesehatan & penyakit 56%
Lebih jauh, Evello melakukan analisa karakter personal pembaca yang cocok dengan ramalan tahun macan air. Menggunakan algoritma Evello Big 5 Personality, ramalan tahun macan air cocok dengan mereka yang memiliki karakter personal dengan skor tinggi untuk karakter Openness, Agreeableness dan Conscientiousness. Skor openness tinggi menunjukkan seseorang yang terbuka terhadap perubahan dan hal baru. Skor Agreableness tinggi menunjukkan karakter seseorang ramah, simpatik dan mudah bergaul. Sementara skor Conscientiousness tinggi menunjukkan karakter ketelitian, keteraturan dan etos kerja yang kuat.
Lalu apa arti analisa ini? Mari lihat apa yang tokoh publik unggah melalui media sosial mereka saat perayaan imlek. Tak lain seputar meme tahun baru imlek. Jika menggunakan analisa ini, Evello menunjukkan apa yang menjadi harapan masyarakat saat perayaan imlek. Beri pesan yang positif kepada masyarakat. Pastikan pesan tersebut memberikan nuansa Joy. Pastikan bahwa politik, kesehatan dan hukum berjalan dengan baik. Jangan lupa pesan tersebut harus mendorong perubahan, ramah dan simpatik serta ajakan untuk meningkatkan etos kerja.
Itulah ramalan tahun macan air versi Evello yang dipandu dengan teknologi kecerdasan buatan.
Selengkapnya? #TanyaEvello

Analisa Pernyataan Faisal Basri Pemerintah Ambruk Sebelum 2024 Melalui Evello Deep Learning

Ekonom Faisal Basri membuat pernyataan mengejutkan. Pemerintah Jokowi akan ambruk secara moral sebelum 2024. Hal ini lantaran adanya konflik kepentingan di dalam tubuh pemerintah. Dia menyebut saat ini situasinya sudah berada di momen yang kritis. Dia menduga tiap elemen di pemerintah tidak akan langgeng bila merasa tidak mendapatkan ‘kue’ yang sama besar. Demikian kutipan dari berbagai media.

Saat analisa Deep Learning ini disajikan, berita Faisal Basri dengan judul “Ramalan Faisal Basri: Pemerintahan Ambruk Sebelum 2024” menjadi berita ke-10 terbanyak tersebar di media sosial berdasarkan trending news Evello.

Melalui analisa Deep Learning, Evello menyimpulkan ramainya sebaran berita tersebut dikarenakan bersentimen negative cukup besar. Evello memberikan skor sentimen negative untuk berita ini sebesar 52%. Jika sasaran dari pemberitaan ini adalah pemerintahan Joko Widodo, maka berita ini adalah asupan bersentimen negative.

Lalu bagaimana dengan emosi pembaca? Evello mendeteksi adanya dua emosi yang dominan. Yaitu emosi Joy dan Disgust. Ada yang senang dengan berita seperti ini. Ada yang jijik dengan pernyataan ini. Nilainya cukup besar, yaitu masing-masing 49%.

Evello juga mendeteksi jika pernyataan Faisal Basri terdeteksi berkonsep sebagai Scientific Method 88%, Government 88%, Scandal 78%, Prediction 77% dan Elite75%. Meskipun demikian, analisa terhadap hierarki pernyataan Faisal Basri terdeteksi berlatar belakang Politics 92% dan Political Issues 78%.

Mengingat konsep pernyataan ini adalah Prediction dengan skor sebesar 77% dan bukan merupakan fakta, #evello menyarankan agar pemerintah menanggapinya dengan konsep yang sama, yaitu Scientific Method dan Prediction.