Persepsi Bea Cukai Bagi Pengguna Youtube Berdasarkan Komentar Video Rhenald Kasali

Video Podcast Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali di Youtube ternyata ramai menarik perhatian publik. Video berdurasi 8 Menit 27 Detik ini ditonton sebanyak 245.009 kali tayang.

Mengangkat tema yang sedang ramai jadi perhatian publik, video berjudul “Wahai Bea Cukai, Masih Perlu Uang Receh?” menuai interaksi 7.102 Likes dengan percakapan sebanyak 2.042 komentar. Apakah Rhenal Kasali ikut-ikutan marah terhadap Bea Cukai?

Menggunakan pendekatan Psychology AI, Evello menemukan bahwa video yang dibuat Rhenald Kasali dan narasi didalamnya bersifat rasional. Walaupun bobot rasionalitasnya 82%. Judulnya pun bersentimen negatif. Frasa “Wahai Bea Cukai, Masih Perlu Uang Receh?” ternyata bersentimen negatif dengan bobot mencapai 85%. Dengan sentimen negatif setinggi ini, Evello tertarik untuk menganalisa lebih jauh pendapat netizen melalui kolom komentar.

Sentimen negatif tertinggi dengan bobot 99% tentang Bea Cukai adalah saat netizen menyatakan takut berhadapan dengan petugas Bea Cukai. Hal ini terjadi pada mereka yang sedang balik ke tanah air. “Setiap kali saya pulang, selalu ada perasaan takut lewat Bea Cukai.” ungkap salah seorang netizen.

Sentimen negatif dengan bobot yang sama, yaitu 99% berisikan narasi seorang netizen tersenyum melihat spanduk integritas/anti korupsi saat melewati bea cukai. Pemeriksaan barang dengan mengacak-acak oleh petugas Bea Cukai menjadi salah satu penyumbang sentimen negatif. Dengan bobot mencapai 89%, seorang netizen yang mengaku TKI mengeluh “Kita sebagai TKI kadang sering di rugikan oleh pihak bea cukai”. Netizen lainnya bahkan mengeluh dengan nada sarkastik jika PNS adalah raja dan rakyat adalah babu. Walaupun terdengar sangat kasar, evello mendeteksi pernyataan ini dengan skor sentimen negatif 78%. Tidak semua komentar bersentimen negatif.

Beberapa komentar memiliki bobot sentimen positif. Walaupun demikian, hal tersebut tidak langsung berhubungan dengan kinerja Bea Cukai di mata netizen. Salah satu komentar bersentimen positif adalah ungkapan terima kasih netizen kepada Rhenald Kasali. Dengan bobot positif 58%, netizen menganggap video Rhenald Kasali mewakili pandangan dan suara masyarakat kebanyakan.

Bentuk sentimen positif lainnya adalah keinginan agar Bea Cukai memberikan pelayanan yang lebih manusiawi. Dengan bobot mencapai 68%, netizen meminta agar Bea Cukai lebih manusiawi kepada warga negaranya sendiri. Menariknya, bentuk pelayanan yang diinginkan terhadap Bea Cukai memiliki komparasinya tersendiri. “Kayaknya pegawai Bea Cukai pemeriksa barang harus belajar dari satpam BCA, ramah sekali” ujar netizen. Frasa ini terbaca oleh algoritma Evello bersentimen positif dengan bobot 95%.

Psychographic Segment : Pengakuan Soimah Berpotensi Merusak Citra Petugas Pajak

“suarakan fakta apa adanya Mba Soimah karena kejujuran itu mahal harganya dan berkaryalah untuk bangsa agar maju budayanya !”. Demikian ungkap seorang warganet setelah menyaksikan kesaksian Soimah dalam podcast Blakasuta.

Ungkapan ini berdasarkan analisa Communication Style Evello cenderung berbobot Action-Seeking 76%. Terminologi Action-Seeking merujuk gaya komunikasi yang bertujuan untuk memicu tindakan seseorang. Ini artinya, sang warganet meyakini bahwa apa yang disuarakan oleh Soimah adalah benar dan layak menjadi referensi pihak lain.

Pengakuan Soimah yang merasa diperlakukan tidak pantas oleh petugas pajak bersentimen negatif dengan bobot mencapai 93%. Tak hanya itu, pengakuan Soimah terlihat didominasi perasaan takut dengan bobot 83%. Tingginya bobot emosi menunjukkan bahwa Soimah secara emosional tertekan.

Evello juga mendeteksi jika pengakuan Soimah sangat emosional dengan bobot mencapai 89%. Alih-alih menceritakannya secara rasional, Soimah jusru fokus pada pengalaman emosionalnya berhadapan dengan petugas pajak.

Sebagai seorang figur publik, pengakuan Soimah tentu membawa dampak pada persepsi publik. Bobot detract terdeteksi evello saat melakukan analisa Brand Image. Detract berarti kuatnya opini buruk yang dibentuk Soimah terhadap citra petugas pajak.

Pada akhirnya, bobot gabungan sentimen negatif, personalitas yang emosional dan citra detract akan membentuk segmentasi tersendiri di publik terhadap petugas pajak. Skor At-Risk menunjukkan tingkat frustrasi terhadap petugas pajak yang jauh dari harapan.

Skor At-Risk seperti tercermin dalam pandangan Soimah tentang perilaku petugas pajak pada akhirnya akan membentuk Segmentasi Psikografis. Mereka yang berada pada barisan ini percaya gambaran petugas pajak seperti apa yang dituturkan oleh Soimah.