Natal, Tiktok dan Platform Masa Depan – Perspektif Big Data

0
221
Jumlah Video dan View Natal di Tiktok
Jumlah Video dan View Natal di Tiktok

Perayaan Natal 2020 kali ini terasa berbeda. Mendahului perayaan-perayaan keagamaan besar lainnya, situasi pandemi Covid 19 membuat perayaan keagamaan tahun 2020 dilaksanakan dalam situasi normal baru. Hikmat, tetapi dengan protokol Kesehatan ketat. Isu keamanan tak lagi menyeruak seperti pada tahun-tahun sebelumnya, melainkan kesederhanaan penuh hikmat.

Natal kali ini juga terasa berbeda. Karena dua hari sebelum perayaan natal, umat beragama di Indonesia mendapat hadiah dari Presiden Joko Widodo. Menteri Agama Baru. Namanya memang tak asing. Kerap dipanggil dengan sebutan Gus Yaqut, Ia bernama lengkap Yaqut Cholil Qoumas.

Mengapa hadiah? Konon Yaqut disukai oleh Presiden Jokowi karena keberaniannya sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) membela kelompok minoritas. Ia dan organisasi GP Ansor  selalu berani ‘pasang badan’ untuk membela kaum minoritas.

Seandainya Presiden Jokowi membaca analisa ini, harapannya terhadap Gus Yaqut bukanlah pepesan kosong. Tak berselang lama dari pelantikan, Menag tertangkap oleh platform Big Data Evello sebagai News Maker membela kelompok minoritas. Bagaimana tidak? Pernyataannya akan lindungi Syiah dan Ahmadiyah seperti dimuat oleh media CNN Indonesia viral dibagikan pengguna Facebook Indonesia.

Berita berjudul “Menag Yaqut Akan Lindungi Ahmadiyah dan Syiah” melalui tautan https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201225033208-20-586146/menag-yaqut-akan-lindungi-ahmadiyah-dan-syiah menjadi berita ketiga terbanyak dibagikan facebooker Indonesia sepanjang 25 Desember 2020.

Dibagikan sebanyak 1.704 kali, berita ini sukses mendulang 11.607 komentar pengguna facebook dan reaksi sebanyak 15.924. Angka ini sekaligus mengukuhkan Gus Yaqut menjadi Menteri terbanyak meraih perhatian netizen dibandingkan lima Menteri lainnya. Tingginya sebaran berita ini sekaligus sebagai bukti kecil soal agama dan keyakinan masih menjadi problem di negara ini.

Soal agama dan keyakinan beragama memang menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Dalam setiap perayaan keagamaan, media sosial masyarakat Indonesia selalu mengalami lonjakan percakapan.

Di Twitter, ucapan perayaan Natal 2020 berdasarkan catatan Big Data Evello mencapai jumlah 484.316 kicauan pada periode 22-28 Desember 2020. Evello mencatat cuitan lebih dari 484 ribu kicauan ini berasal dari 46.451 akun twitter. Jumlah sebesar ini menunjukkan soal keagamaan adalah soal penting di Indonesia.

Itu tak seberapa. Di jejaring platform anak-anak muda Indonesia, video dengan tagar #Natal mencapai jumlah sangat fantastis. 407.024 video beredar melalui jejaring Tiktok dengan jumlah views alias ditonton sebanyak 976.715.689 kali ditonton.

Anak-anak muda ini konon adalah anak-anak yang tidak lagi nonton TV dan tidak baca koran. Dalam pandangan Evello, Tiktok adalah platform literasi generasi mendatang. Disinilah mereka mendapatkan banyak informasi. Jumlah views sebanyak 976 ribu tentang Natal akan disimpan sebagai ingatan jangka panjang.

Apa yang diingat? Evello membaginya dalam lima jenis ingatan. Ingatan yang menyenangkan (Joy), Menyedihkan (Sad), Menakutkan (Fear), Menjijikkan (Disgust) dan Kemarahan (Anger).

Tak percaya? Mari lakukan survey kecil-kecilan di sekitar pembaca. Tanyakan pada anak-anak SMU dan yang sederajat apakah mereka tahu tentang Omnibus Law dan DPR? Dari 10 anak SMU yang penulis tanyakan, 5 menjawab mendengar tentang Omnibus Law dan DPR. Darimana mereka tahu? Tiktok kata mereka.

Penulis sendiri tak heran. Berdasarkan penelusuran Evello, video dengan tagar #OmnibusLaw beredar sebanyak 36.378 video di jejaring Tiktok. Video sebanyak itu telah ditonton sebanyak 1.227.144.286 kali.

Sementara, video dengan tagar DPR telah tersebar dengan jumlah mencapai 62.252 video. Jumlah views video-video tersebut mencapai angka ditonton sangat fantastis, yaitu 1.515.864.611 kali. Lalu darimana lonjakan itu terjadi? Silahkan tonton sendiri video-video bertema Omnibus Law di Tiktok.

Duh, video-video itu dianggap tidak berpihak kepada DPR kata seorang teman. Nah, itulah ingatan jangka panjang anak-anak kita sekarang tentang DPR. Di platform inilah mereka membangun dunia literasi mereka. Apalagi kala pandemi mendera berkepanjangan. Tak ada lagi lagu bangun tidur kuterus mandi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here