Saat Prabowo Mulai Dilupakan

Pilpres 2019 benar-benar telah usai. Prabowo tak lagi berada dalam episentrum perhatian publik. Kini panggung kembali untuk Jokowi.

1
687

“Kami menghargai kesadaran kolektif yang sekarang tumbuh di internal Gerindra. Kami apresiasi sikap dan langkah Pak Prabowo yang tegas bersikap terhadap mereka-mereka yang selalu mendorong Gerindra pada posisi kombatif dan konfrontatif,” demikian ungkapan Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno tepat seminggu sebelum perayaan HUT Kemerdekaan RI yang ke-74.

Apresiasi yang dimuat dalam media detik pada Minggu 11 Agustus 2019 terbilang menjadi berita yang biasa-biasa saja. “Tidak banyak yang memperhatikan”, demikian analisis platform Big Data Evello.

Berita tersebut menjadi berita dengan peringkat sebaran ke-21 dari 100 berita tentang Prabowo yang paling banyak disebar netizen. Pantauan tersebut dilakukan pada periode 11-18 Agustus. Berapa jumlah sebarannya? Evello menemukan angka 21. Artinya tautan berita tersebut hanya dibagikan sebanyak 21 kali di media sosial.

Melalui analisa terhadap efek viral 100 berita tentang Prabowo pada 11-18 Agustus 2019, diperoleh sebarannya hanya 2.690. Sementara, pada periode yang sama 100 berita tentang Jokowi disebar sebanyak 24.429 kali.

Gambar I. Share Index Sebaran Berita Prabowo Subianto Periode 11-18 Agustus 2019 Berbanding Sebaran Berita Joko Widodo.

Tak hanya sebaran berita, analisa melalui media sosial paling ramai alias twitter menunjukkan kecenderungan yang sama. Pada periode pantau yang sama, jumlah akun yang terlibat dalam membicarakan Prabowo adalah 10.526. Sementara jumlah kicauan ditemukan sebanyak 25.552.

Pada periode yang sama, jumlah akun yang terlibat memperbincangkan Jokowi adalah 92.318 dengan jumlah kicauan mencapai 200.605 tweet.

Gambar II. Perbandingan Jumlah Akun Unik Prabowo dan Jokowi di Twitter.

Pada periode pantau yang sama, Evello juga menemukan bahwa jumlah akun unik yang terlibat dalam percakapan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lebih besar dibandingkan Prabowo. Pantauan pada kanal twitter menemukan Anies diperbincangkan oleh 41.114 akun twitter.

Pada periode yang sama, jumlah akun yang terlibat dalam percakapan tentang Rocky Gerung mencapai 14.843 akun unik. Lebih besar dibandingkan Prabowo.

Demikian juga mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Percakapan tentang Ahok melibatkan 17.901 akun twitter.

Hasil tersebut tidak berbeda dengan analisa Evello melalui metrik media sosial terbesar di Indonesia, Facebook. Jumlah sebaran untuk Prabowo tertinggal jauh dengan sebaran Jokowi.

Prabowo pada periode 11-18 Agustus 2019 memiliki sebaran sebanyak 126.147 berbanding Jokowi sebanyak 583.069 sebaran.

Gambar III. Perbandingan Jumlah Sebaran Percakapan Prabowo dan Jokowi Periode 11-18 Agustus 2019.

Benarkan Prabowo Mulai Dilupakan?

Data-data yang disampaikan sebelumnya menunjukkan bahwa rival Jokowi, Prabowo Subianto mulai sepi dari perhatian publik. Jika dibandingkan data pada periode 11-18 Juli 2019 penurunan perhatian publik terhadap Prabowo benar adanya.

Pada periode 11-18 Juli 2019, 100 berita Prabowo tersebar sebanyak 61.604. Jika dibandingkan pada periode yang sama dengan Agustus 2019 telah terjadi penurunan sebaran berita sebanyak 75% terhadap Prabowo.

Demikian pula pada keterlibatan jumlah akun unik di media sosial twitter. Pada 11-18 Juli 2019, jumlah akun unik yang terlibat membicarakan Prabowo mencapai jumlah 65.104 akun. Sementara pada periode yang sama di Agustus 2019 tersisa 10.526.

Kondisi yang sama juga terlihat dari sebaran percakapan Prabowo di media sosial terbesar di Indonesia, FB. Pada periode 11-18 Juli 2019, sebaran percakapan tentang Prabowo mencapai angka 943.855. Pada periode yang sama di Agustus 2019 sebaran percakapan Prabowo tersisa 126.147 sebaran.

Pada dasarnya penurunan perhatian publik tidak saja terjadi pada Prabowo. Jokowi pun mengalami penurunan intensitas perhatian publik. Jika pada 11-18 Juli 2019 sebaran percakapan Jokowi mencapai 1.354.395, maka pada periode yang sama di Agustus 2019 turun menjadi 583.069 sebaran.

Meskipun demikian, penurunan pada Jokowi tidak seekstrim penurunan terhadap sebaran percakapan Prabowo.

Cebong dan Kampret Dalam Pertarungan Prabowo vs Jokowi

Dalam sebuah kesempatan, Prabowo dan Jokowi meminta agar penggunaan istilah cebong dan kampret dihentikan.

Pada 22 April 2019, dalam wawancara bersama wartawan senior iNews Ariyo Ardi, Jokowi menanggapi istilah cebong dan kampret.

“Sudahlah. Kehendak rakyat sudah ditentukan di 17 April kemarin, di hari pencoblosan sudah. Nah setelah itu, sudahlah enggak usah ada lagi istilah cebong, kampret. Stop,” ucap Jokowi kala itu.

“Sudahlah, enggak ada lagi cebong-cebong. Enggak ada lagi kampret-kampret,” ujar Prabowo saat konferensi pers bersama Joko Widodo di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7/2019).

Himbauan keduanya disebut-sebut banyak pihak akan menjadi momentum berhentinya pertikaian dan saling serang kelompok cebong dan kampret di media sosial.

Video I. Sejumlah Pengamat Menyebutkan Pertemuan Jokowi-Prabowo Menghentikan Pertikaian Kelompok Cebong dan Kampret.

Sementara Hasil penelitian Evello menunjukkan bahwa penurunan percakapan dan perhatian terhadap Jokowi dan Prabowo tidak menunjukkan bahwa kelompok cebong dan kampret telah bubar.

Melalui analisa terhadap kasus pembongkaran Getah-getih yang viral di media berita dan media sosial menunjukkan bahwa lapangan pertempuran kelompok cebong dan kampret tidak lagi didominasi rivalitas politik Jokowi dan Prabowo. Pertempuran cebong dan kampret justru makin seru dan spesifik dalam konteks perebutan pengaruh di DKI Jakarta. Posisi Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta menjadi lahan baru pertikaian cebong dan kampret.

Gambar IV. Berita Permintaan Maaf PSI Terkait Penyerobotan Trotoar Menjadi Berita ke-16 Terbanyak Disebar Pada Rabu, 14 Agustus 2019

Ramainya percakapan tentang polusi dan sampah di DKI Jakarta juga tidak lepas dari pindahnya pertarungan cebong dan kampret. Bahkan isu-isu spesifik seperti trotoar menjadi pertempuran kelompok cebong dan kampret.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here