Pergolakan di Papua: Kerusuhan Berlatar Free West Papua

0
1387

Isu rasisme dinilai sebagai pemicu terjadinya konflik di tanah Papua. Big Data Evello turut membenarkan hal itu dengan menampilkan percakapan tentang rasis, masih merajai perbincangan dan pemberitaan sepanjang periode pemantauan Agustus 2019.

Distribusi percakapan seputar pergolakan Papua, periode 1-31 Agustus 2019

Perhatikan bahwa pada tanggal 21, isu rasis menjadi semacam trigger yang memicu terjadinya kerusuhan di berbagai wilayah di Papua. Sementara itu, sepanjang periode pemantauan percakapan warganet di linimasa twitter juga terlihat masih menyoal rasisme. Isu rasisme mulai surut pada akhir periode pemantauan, berganti dengan isu “Free West Papua”.

Pergolakan di Papua Bukan Sekedar Rasisme dan Diskriminasi

Presiden Jokowi angkat bicara soal kerusuhan yang terjadi di Papua, Jokowi baru-baru ini menghimbau agar warga Papua dapat meredam gejolak amarah. Lewat pernyataannya Jokowi juga meminta agar public di Papua bisa memaafkan terkait ujaran rasis. Jokowi selaku pemimpin negara tentu mengetahui akar masalah yang sebenarnya terjadi di Papua, bukan sekedar ujaran rasis namun juga persoalan-persoalan lain.

Sejalan dengan pernyataan Presiden Jokowi tersebut, Gubernur Lukas Enembe pun mengungkap hal sama. Namun demikian, Enembe menegaskan bahwa persoalan dan masalah di Papua jauh lebih rumit, tak bisa disederhanakan atau diselesaikan hanya dengan cara seperti itu.

(Baca juga: http://evello.co.id/politik/reaksi-warganet-terhadap-pergolakan-papua-setara-hut-ri-74/)   

Kerusuhan di Papua bukan sekedar rasisme belaka? Simak hal menarik dalam Peta sebaran percakapan pergolakan di Papua berikut ini:

Sebaran percakapan di ranah digital pada topik pergolakan Papua. Perbincangan “rasis” dan “diskriminasi” justru tersebar hanya di luar pulau Papua

Terlihat bahwa sebaran percakapan warganet tentang “rasis” dan “diskriminasi” justru tersebar hanya di luar pulau Papua. Menariknya, kedua frasa tersebut ternyata memang tidak diperbincangkan publik di lingkup wilayah Papua. Warga Papua baik pendatang maupun warga asli, warga yang terlibat dan yang tidak terlibat aktivitas demo dan kerusuhan, seluruhnya nyaris hanya berbincang tentang Sorong, Fakfak dan Jayapura di mana titik kerusuhan terjadi. Lalu, apa alasan sebenarnya yang mendasari kerusuhan di Papua hari ini?

Kerusuhan Papua Dilatari Kehendak “Free West Papua”

Sebanyak 9,636 akun unik terlibat membicarakan tentang Free West Papua, sementara rasis menempatkan hanya 7,975 akun twitter, dan Jayapura dengan 4,791 akun. Keterlibatan sejumlah besar akun unik dalam percakapan isu-isu tersebut membuktikan adanya pergeseran isu dari rasisme, menuju isu Free West Papua.

Kerterlibatan akun unik didominasi dari Free West Papua di Isu Pergolakan Papua, pada periode pemantauan 23-30 Agustus 2019

Adanya anomali unik ini juga diperkuat dengan data jumlah persebaran berita dan percakapan warganet di media dan media sosial, di mana isu “Free West Papua” di seluruh media membuktikan tumbangnya dominasi isu Rasis pada sepekan terakhir Agustus 2019, atau sejak rusuh Jayapura terjadi pada 29 Agustus hingga hari ini.

Data analisa Evello ini menyimpulkan alasan utama dibalik setiap kerusuhan yang terjadi di wilayah Papua hingga hari ini. Isu Rasisme bukanlah sebenarnya, melainkan kehendak untuk memerdekakan diri merupakan alasan utama yang mendasari pergolakan di wilayah paling timur Indonesia itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here