Membedah Isi Surat Wasiat Pelaku Teror Lewat Deep Learning

Analisa Evello Big 5 Personality

AKSI terorisme yang terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan dan Mabes Polri, Jakarta dalam waktu hampir berdekatan, menambah panjang aksi terorisme yang terjadi di Indonesia.
Lembaga riset Big Data, Evello mengungkapkan temuan menarik seputar surat wasiat yang ditinggalkan oleh pelaku teror bom Makassar dan penyerang Mabes Polri.

Melalui analisa menggunakan teknologi deep learning yang dimiliki, Evello mengungkapkan bahwa emosi Joy mendominasi kedua pelaku saat menuliskan surat wasiat tersebut. Namun, di sisi lain, emosi sad (sedih) juga terekam cukup tinggi melalui analisa deep learning. CEO Evello Dudy Rudianto mengungkapkan, emosi joy Muh Lukman Alfahiz (pelaku teror makassar) mencapai skor 62,63% dan Zakiah Aini (penyerang mabes Polri) memiliki skor lebih tinggi untuk emosi Joy, yaitu 65,09%. Untuk emosi sad, Muh Lukman Alfahiz mencapai 43,31% dan Zakiah Aini mencapai 47,57%.

“Emosi joy menunjukkan ketika menulis surat wasiat tanpa tekanan. Sedangkan emosi sadness wajar mengingat mereka memilih untuk meninggalkan keluarga mereka selama-selamanya. Lagi pula berdasarkan analisa Semantic, kata Sayang, Ibadah dan Ibu mendominasi penekanan isi surat wasiat,” papar Dudy dalam keterangannya.

Lebih jauh, melalui analisa menggunakan Big 5 Personality, ditemukan bahwa kedua pelaku memiliki skor Extraversion sangat rendah. Yaitu 29% untuk Zakiah Aini dan 10% untuk Muh Lukman Alfahiz.

“Skor ini menunjukkan jika Muh Lukman Alfahiz adalah pribadi yang lebih pendiam, tertutup dan lebih independen terhadap kehidupan sosial dibandingkan Zakiah Aini” papar Dudy.  Tak hanya itu, Emotional Range kedua pelaku terbilang rendah, yaitu 13% untuk Muh Lukman Alfahiz dan 17% untuk Zakiah Aini.

Semakin rendah skor emotional range menunjukkan jika kedua pelaku tidak mudah takut dan gugup serta tenang.  Analisa karakter pribadi kedua pelaku cenderung sama berdasarkan Big 5 Personality. Hanya saja ada perbedaan dimana Muh Lukman Alfahiz cenderung tradisional dibandingkan Zakiah Aini.

“Hal ini terlihat dari skor Openness Zakiah Aini yang lebih besar jika dibandingkan dengan Muh Lukman Alfahiz” Ujar Dudy.

Indonesia Gawat Darurat Hoaks?

Analisa Konten Hoaks Melalui Trending Video Evello

Sebulan lalu, 26 Mei 2021 tim analis evello tengah terkekeh saat membaca data. Melalui analisa lewat fasilitas Trending Video, kami terkekeh saat menemukan dua buah video yang mengandung konten hoaks. Kebetulan dua video tersebut bercerita tentang tokoh reformasi Amien Rais.

Video pertama terbit pada 24 Mei 2021. Video yang diunggah melalui channel youtube Pojok Dunia mengabarkan bahwa Amien Rais meninggal. Judulnya secara gamblang mengabarkan wafatnya Amien Rais: Berita Terkini ~ Innalillahi! Amien Rais Tak Tertolong ~ Tangis Keluarga Tak Terbendung.

Thumbnail Hoaks Amien Rais Meninggal
Thumbnail Hoaks Amien Rais Meninggal

Video kedua ditemukan sehari setelahnya pada 25 Mei 2021. Video hoaks ini tak kalah bombastis karena mengulas penyebab kematian Amien Rais. “Berita Terkini ~ Meng3jutk4n! Penyebab K3m4ti4n Amien Rais ~ Tak Di Duga Ternyata Karna Ini”. Pada thumbnail juga terlihat Presiden Joko Widodo seolah-olah hadir dalam investigasi penyebab kematian Amien Rais. Video ini juga diproduksi oleh channel youtube Pojok Dunia.

Kedua video memiliki pengaruh yang sangat kuat. Terbukti jumlah penayangan keduanya tembus mencapai angka jutaan tayang. Video pertama telah ditonton lebih dari 2 juta kali tayang dan video kedua lebih dari 1 juta kali tayang.

Dengan jumlah tayang sebesar itu, wajar seminggu kemudian ketika orang tua penulis secara sadar menyebutkan “almarhum Amien Rais” ketika sedang ngobrol via telepon. Saat ditanya, darimana beliau tahu kabar meninggalnya Amien Rais, dengan pasti dijawab dari youtube.

Thumbnail Hoaks Penyebab Amien Rais Meninggal
Thumbnail Hoaks Penyebab Amien Rais Meninggal

Kami di evello mengamati produksi hoaks melalui jejaring berbagi video youtube sangat aktif dilakukan. Bahkan video-video ini mulai menyebar sejak pagi dengan jumlah ditonton (view) yang tinggi. Kami menyimpulkan bahwa penyebar konten hoaks tersebut sangat siap. Baik dari kesiapan SDM dan juga perangkat kerja.

Konten hoaks yang disebar juga bersifat provokasi massa. Sebagai contoh dalam sepekan pemantauan (18-23 Juni 2021), evello menemukan beberapa konteks hoaks dengan seruan turunkan Jokowi, adanya jutaan massa Rizieq Shihab yang turun ke jalan dan SBY siap pasang badan jika terjadi poeple power terhadap Jokowi.

Selain bersifat provokasi massa, konten hoaks yang disebarkan kerap membalikkan fakta. Sebagai contoh, evello menemukan adanya video dengan thumbnail Anies Baswedan dan SBY ditangkap oleh pihak kepolisian. Tidak hanya itu, evello juga menemukan video M Qodari duduk di kursi roda karena kakinya dilumpuhkan kepolisian.

Tidak hanya itu, konten yang disebarkan juga banyak bersifat membenturkan opini dan fisik dari kekuatan sosial politik yang ada. KPK, TNI, Polisi dan Umat Islam adalah kelompok yang kerap dibenturkan dengan pihak lain.

Kesimpulan

  1. Produksi konten hoaks yang disebarkan melalui jejaring berbagi video youtube sebagian besar didominasi oleh konten yang bersifat pembalikan fakta dan provokasi massa.
  2. Sebagian besar konten hoaks diproduksi secara profesional oleh tim dengan kesiapan yang matang mengingat konten-konten tersebut telah diunggah sejak pagi hari.
  3. Dapat dipastikan tidak ada satu hari pun tanpa konten hoaks disebarkan berdasarkan pantauan mesin evello.
  4. Video-video tersebut ditonton dalam jumlah sangat besar sehingga dapat dipastikan jumlah orang yang terpapar konten hoaks tidak sedikit.

Natal, Tiktok dan Platform Masa Depan – Perspektif Big Data

Jumlah Video dan View Natal di Tiktok

Perayaan Natal 2020 kali ini terasa berbeda. Mendahului perayaan-perayaan keagamaan besar lainnya, situasi pandemi Covid 19 membuat perayaan keagamaan tahun 2020 dilaksanakan dalam situasi normal baru. Hikmat, tetapi dengan protokol Kesehatan ketat. Isu keamanan tak lagi menyeruak seperti pada tahun-tahun sebelumnya, melainkan kesederhanaan penuh hikmat.

Natal kali ini juga terasa berbeda. Karena dua hari sebelum perayaan natal, umat beragama di Indonesia mendapat hadiah dari Presiden Joko Widodo. Menteri Agama Baru. Namanya memang tak asing. Kerap dipanggil dengan sebutan Gus Yaqut, Ia bernama lengkap Yaqut Cholil Qoumas.

Mengapa hadiah? Konon Yaqut disukai oleh Presiden Jokowi karena keberaniannya sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) membela kelompok minoritas. Ia dan organisasi GP Ansor  selalu berani ‘pasang badan’ untuk membela kaum minoritas.

Seandainya Presiden Jokowi membaca analisa ini, harapannya terhadap Gus Yaqut bukanlah pepesan kosong. Tak berselang lama dari pelantikan, Menag tertangkap oleh platform Big Data Evello sebagai News Maker membela kelompok minoritas. Bagaimana tidak? Pernyataannya akan lindungi Syiah dan Ahmadiyah seperti dimuat oleh media CNN Indonesia viral dibagikan pengguna Facebook Indonesia.

Berita berjudul “Menag Yaqut Akan Lindungi Ahmadiyah dan Syiah” melalui tautan https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201225033208-20-586146/menag-yaqut-akan-lindungi-ahmadiyah-dan-syiah menjadi berita ketiga terbanyak dibagikan facebooker Indonesia sepanjang 25 Desember 2020.

Dibagikan sebanyak 1.704 kali, berita ini sukses mendulang 11.607 komentar pengguna facebook dan reaksi sebanyak 15.924. Angka ini sekaligus mengukuhkan Gus Yaqut menjadi Menteri terbanyak meraih perhatian netizen dibandingkan lima Menteri lainnya. Tingginya sebaran berita ini sekaligus sebagai bukti kecil soal agama dan keyakinan masih menjadi problem di negara ini.

Soal agama dan keyakinan beragama memang menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Dalam setiap perayaan keagamaan, media sosial masyarakat Indonesia selalu mengalami lonjakan percakapan.

Di Twitter, ucapan perayaan Natal 2020 berdasarkan catatan Big Data Evello mencapai jumlah 484.316 kicauan pada periode 22-28 Desember 2020. Evello mencatat cuitan lebih dari 484 ribu kicauan ini berasal dari 46.451 akun twitter. Jumlah sebesar ini menunjukkan soal keagamaan adalah soal penting di Indonesia.

Itu tak seberapa. Di jejaring platform anak-anak muda Indonesia, video dengan tagar #Natal mencapai jumlah sangat fantastis. 407.024 video beredar melalui jejaring Tiktok dengan jumlah views alias ditonton sebanyak 976.715.689 kali ditonton.

Anak-anak muda ini konon adalah anak-anak yang tidak lagi nonton TV dan tidak baca koran. Dalam pandangan Evello, Tiktok adalah platform literasi generasi mendatang. Disinilah mereka mendapatkan banyak informasi. Jumlah views sebanyak 976 ribu tentang Natal akan disimpan sebagai ingatan jangka panjang.

Apa yang diingat? Evello membaginya dalam lima jenis ingatan. Ingatan yang menyenangkan (Joy), Menyedihkan (Sad), Menakutkan (Fear), Menjijikkan (Disgust) dan Kemarahan (Anger).

Tak percaya? Mari lakukan survey kecil-kecilan di sekitar pembaca. Tanyakan pada anak-anak SMU dan yang sederajat apakah mereka tahu tentang Omnibus Law dan DPR? Dari 10 anak SMU yang penulis tanyakan, 5 menjawab mendengar tentang Omnibus Law dan DPR. Darimana mereka tahu? Tiktok kata mereka.

Penulis sendiri tak heran. Berdasarkan penelusuran Evello, video dengan tagar #OmnibusLaw beredar sebanyak 36.378 video di jejaring Tiktok. Video sebanyak itu telah ditonton sebanyak 1.227.144.286 kali.

Sementara, video dengan tagar DPR telah tersebar dengan jumlah mencapai 62.252 video. Jumlah views video-video tersebut mencapai angka ditonton sangat fantastis, yaitu 1.515.864.611 kali. Lalu darimana lonjakan itu terjadi? Silahkan tonton sendiri video-video bertema Omnibus Law di Tiktok.

Duh, video-video itu dianggap tidak berpihak kepada DPR kata seorang teman. Nah, itulah ingatan jangka panjang anak-anak kita sekarang tentang DPR. Di platform inilah mereka membangun dunia literasi mereka. Apalagi kala pandemi mendera berkepanjangan. Tak ada lagi lagu bangun tidur kuterus mandi.

New Normal Politik Ditengah Pandemi Corona: Analisa Big Data

Pantauan Ipoleksosbudhankam

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah menetapkan tahapan penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020 di era pandemi Virus Corona. Sejumlah protokol kesehatan pun akan diterapkan pada tahapan-tahapan pilkada.

Keputusan itu diberlakukan seiring dengan dikeluarkannya Peraturan KPU (PKPU) Nomor 5 Tahun 2020 mengenai perubahan ketiga atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 Tahun 2019 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Pilkada Tahun 2020.

Dilansir dari detik.com,  Mendagri Tito Karnavian meminta protokol kesehatan diterapkan secara ketat dalam proses tahapan Pilkada Serentak 2020. Acara kampanye juga diminta dibatasi hanya untuk 50 orang.

Pernyataan itu disampaikan Tito saat melakukan rapat koordinasi kesiapan Pilkada dengan Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal, KPU Papua, Bawaslu Papua, dan Forkopimda Provinsi Papua di Jayapura, Jumat (10/7/2020).

Hasil penelitian Evello sebelumnya menemukan jika ketertarikan masyarakat terhadap politik saat pandemi corona menurun drastis. Politik tidak lagi menjadi perhatian publik diluar urusan kesehatan, ekonomi dan pendidikan.

Penelitian bertajuk “Big Data: Corona Menjauhkan Masyarakat Dari Politik” menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih serius mengikuti perkembangan penyebaran virus corona.

Sementara itu, hasil penelitian terbaru Evello memperlihatkan jika sepanjang April 2020, pemberitaan bertema politik hanya menguasai share index sebesar 3,79% dibandingkan tema berita lainnya (Ipoleksosbudhankam). Jumlah komentar pengguna media sosial, utamanya facebook terhadap berita berita politik juga terbilang kecil, hanya 11,5% dibandingkan dibandingkan tema lainnya.

Berdasarkan interaksi pengguna facebook terhadap berita-berita bertema Ipoleksosbudhankam terdapat kecenderungan jika tema berita politik tidak menarik perhatian publik
Berdasarkan interaksi pengguna facebook terhadap berita-berita bertema Ipoleksosbudhankam terdapat kecenderungan jika tema berita politik tidak menarik perhatian publik

Jika dilakukan pembandingan terhadap reaksi publik pada April dan Mei 2020, pemberitaan bertema politik cenderung turun interaksinya. Walaupun pada Mei 2020 terjadi peningkatan jumlah berita dan isu politik dibandingkan April 2020. Pada gambar terlibat bagaimana isu politik yang tadinya berada pada kuadran kanan bawah, turun ke kuadran kiri bawah.

Pendapat Evello sejalan dengan pendapat Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Alwan Ola Riantoby yang menyebutkan pandemi virus corona diprediksi akan berdampak pada berkurangnya partisipasi pemilih dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Alwan menyarankan KPU gencar mengedukasi masyarakat. Sosialisasi tak hanya terkait dengan tahapan Pilkada 2020, namun juga mengenai penerapan protokol kesehatan.

Seperti diketahui, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menginginkan agar jumlah keikutsertaan masyarakat sesuai target yang ditetapkan yakni 77,5% pada Pilkada 2020.

Lalu bagaimana menjamin bahwa partisipasi masyarakat dalam Pilkada 2020 tetap tinggi. Salah satu cara yang ditempuh adalah sosalisasi secara masif, menggunakan metode kampanye digital yang terukur dan tentunya mampu menjangkau masyarakat dalam skala mikro.

Tak kalah penting adalah kesadaran entitas politik, baik peserta pilkada dan partai politik untuk berubah dan beradaptasi. Jika entitas politik masih berpikir sebagai pusat keramaian yang menarik perhatian publik, dapat dipastikan partisipasi masyarakat akan semakin rendah.

Jika tak ada upaya-upaya tersebut di atas, Evello meyakini berdasarkan tren yang ada jika partisipasi pemilih dalam Pilkada 2020 akan rendah.

Ketika Korban Banjir Minta Bantuan di Medsos

Linimasa media sosial ramai dengan permintaan tolong untuk korban banjir di awal Januari 2020. Netizen menyampaikan informasi darurat korban yang belum tertolong atau permintaan donasi di twitter seperti pada Gambar 1 di di atas.

Cara ini di tempuh karena nomor telepon contact center bantuan tidak dapat dihubungi. Sebagaimana petikan pengguna twitter @yasnnin: “Gak tau ada yang baca atau enggak. Tapi mohon dgn sangat kalo ada yg punya nomor darurat yg bisa dihubungi (nomor SAR, Damkar, BPBD selalu sibuk) untuk evakuasi teman saya sekeluarga kejebak banjir. Alamat: pisangan Tambun Utara, Bekasi.#Banjir

Dari pemantauan Evello, 1-3 Januari 2020, akun resmi pemerintah penanganan bencana bukanlah akun yang paling aktif dalam memberikan informasi terkait bencana banjir, bantuan banjir dan korban banjir. Absennya akun itu menandakan jalur media sosial belum dimaksimalkan pemerintah sebagai salah satu saluran berkomunikasi saat terjadi bencana.

Misalnya di Jakarta-merupakan demografi pengguna internet terbesar di Indonesia-sebenarnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta telah memiliki akun resmi di twitter. Namun seperti terlihat pada gambar 1, sebagian warga Jakarta lebih memilih meminta bantuan melalui jaringan pertemanan mereka, daripada langsung me-mention @DKIJakarta atau @BPBDJakarta. Bisa jadi warganet tidak aware dengan kehadiran dua akun ini atau informasi yang disebarkan ke masyarakat tidak mencantumkan kontak pengaduan melalui akun media sosial. Seperti informasi dari media massa yang hanya mencantumkan nomor telepon darurat yang bisa dihubungi ketika menghadapi banjir.

Adapun 10 akun yang paling aktif terkait banjir, bisa dilihat pada gambar 2 di bawah ini. Akun resmi milik instansi pemerintah yang aktif hanya milik @TMCPoldaMetro, dengan 214 cuitan. Akun lainnya milik pribadi dan media massa, seperti @RadioElshinta, @komps.com dan @okezonenews.com

Gambar 2. Akun utama yang paling berpengaruh berdasarkan jumlah cuitan, terkait bencana banjir periode 1-3 Januari 2020

Penggunaan media sosial untuk bencana bisa mengacu pada Wendling, C., J. Radisch and S. Jacobzone (2013), tentang “The Use of Social Media in Risk and Crisis Communication”, OECD], disebutkan fungsi media sosial saat bencana, selain meningkatkan kesiapsiagaan dan meningkatkan kesadaran publik tentang risiko dan krisis, media sosial dalam manajemen risiko bencana dapat digunakan untuk:

  1. Sebagai media pengawasan, pemantauan, kewaspadaan situasi dan sistem peringatan dini
  2. Memberikan informasi dan instruksi, dengan peringatan real time.
  3. Memobilisasi sukarelawan selama dan setelah bencana.
  4. Mengidentifikasi survivor dan korban, membantu mengetahui kondisi keluarga dan teman-teman apakah aman dan selamat.
  5. Untuk men-counter liputan pers tidak akurat, sebagai sumber informasi pembanding.
  6. Menggalang donasi dan bantuan
  7. Membangun kepercayaan dengan memberikan informasi yang akurat
  8. Meningkatkan manajemen pemulihan
  9. Pasca bencana, mengidentifikasi di mana manajemen stres paling dibutuhkan dalam fase pemulihan
Gambar 3. Akun Twitter yang paling banyak terlibat pada target pemantauan bencana banjir periode 1-3 Januari 2020

Gambar 3 menunjukkan akun twitter yang paling banyak terlibat dengan bencana banjir pada periode 1-3 Januari 2020. Tampak akun twitter @DKIJakarta hanya terdapat pada 3.010 post, masih kalah besar dari akun-akun milik personal, sebagai pertanda akun ini kurang dikenal masyarakat. Pada fitur Theme Cloud Evello ini terdapat akun milik pemerintah yang sudah dikenal netizen. Terlihat akun @BNPB_Indonesia, yang dimention sebanyak 4.084 kali dan akun @TMCPoldaMetro yang cuitkan Tweaps sebanyak 9.624 kali.

Kesimpulan :

  1. Institusi yang menangani korban bencana harus mempunyai akun media sosial yang aktif, selain telepon. Karena saat terjadi keadaan darurat, ribuan orang akan menelpon call center, akibatnya telpon menjadi tidak bisa dihubungi. Akun media sosial menjadi solusi untuk menerima ribuan pengaduan.
  2. Akun resmi @DKIJakarta dan @BPBDJakarta kurang dikenal masyarakat, sehingga saat terjadi bencana 1-3 Januari 2020, masyarakat lebih banyak meminta bantuan dijaringan pertemananan, daripada langsung ke akun resmi tersebut
  3. Akun resmi media sosial yang menangani keadaan darurat harus terus disosialisasikan-selain no telpon, agar jangkauan badan pemerintah penanganan bencana lebih besar.

Membedah Akun Robot Disekeliling Wakil Presiden Maruf Amin

Deteksi Akun Robot Pendukung Maruf Amin

Jelang tutup tahun 2019 perangkat analitik big data Evello menemukan keanehan dalam percakapan Wakil Presiden Maruf Amin. 10 akun terbanyak memperbincangkan Maruf Amin terlihat menghasilkan pola interaksi seragam. Melalui ciri dan pola tersebut, evello menyimpulkan akun-akun tersebut adalah robot yang bekerja mendengungkan Maruf Amin.

Berdasarkan gambar 1 dibawah, cara kerja akun-akun tersebut bisa dikatakan seragam. Jumlah tweet perhari selama periode 1-28 Desember 2019 tidak lebih dari 6 tweet. Tak hanya itu, waktu bekerja akun-akun tersebut terlihat seragam. Polanya memperlihatkan adanya penjadwalan kerja.

Wired.com dalam artikel berjudul What Is a Bot? menyebutkan adanya ciri yang disebut sebagai “bot-like activity”. Wired menyebutkan setidaknya tiga ciri untuk menentukan adanya akun robot atau bot. Ciri pertama adalah adanya puluhan bahkan ratusan aktivitas retweet dalam sehari. Ciri kedua membanjiri linimasa dengan puluhan bahkan ratusan pesan, konten dan tautan yang sama. Sementara ciri ketiga adalah penggunaan banyak akun untuk melakukan kedua aktivitas di atas.

Gambar 1. Deteksi penggunaan akun-akun robot yang digunakan untuk mendengungkan Wakil Presiden Maruf Amin periode 1-28 Desember 2019.

Jika ditelisik lebih jauh, 10 akun-akun tersebut memang memiliki tingkat keaktifan sangat tinggi. Jumlah status (tweet, retweet, mention) masing-masing akun mencapai jumlah yang sama dengan pengikut terbilang kecil.

Gambar 2. Tabel biodata 10 akun terbanyak berkicau tentang Maruf Amin. Jumlah status tinggi dengan pengikut kecil.

Untuk memastikan bahwa akun-akun tersebut adalah akun robot, penulis melakukan pengecekan terhadap konten dua akun, yaitu @FujiHans dan @RahayuShintta.

Gambar 3. Konten akun FujiHans keseluruhan hanya bercerita tentang Maruf Amin. Tidak ada interaksi diluar topik Maruf Amin.

Kicauan @RahayuShintta juga memperlihatkan konten serupa dengan akun @FujiHans. Tema percakapan keduanya tidak bergeser dari upaya mendengungkan Maruf Amin.

Gambar 4. Konten kicauan akun @RahayuShintta identik dengan kicauan konten akun @FujiHans

Menariknya, konten yang digunakan oleh akun-akun tersebut terindikasi berkaitan dengan pelaksanaan pemilu Presiden dan Wakil Presiden lalu. Dengan kata lain, akun-akun bot tersebut telah bekerja sejak Pilpres 2019 lalu.

Membandingkan Presiden dan Wakil Presiden

Wakil Presiden Maruf Amin memang tidak setenar di jagad maya dibandingkan dengan Presiden Joko Widodo. Pada periode pantau 1-28 Desember 2019, di ranah twitter, Maruf Amin berbagi Share Index dengan Jokowi sebanyak 4,7%. Di media pemberitaan, Maruf diberitakan hanya 9,8% dibandingkan Jokowi. Kedua ukuran berbanding Jokowi hanya mencapai kurang dari 10%.

Berita-berita tentang Maruf Amin menimbulkan kemelekatan dengan pengguna facebook sebesar 17.601. Sementara di saat yang sama, Jokowi memiliki nilai lekatan dengan netizen sebanyak 137.972.

Di Youtube, hanya 85.744 jempol disematkan kepada Maruf Amin. Sementara pada saat bersamaan, jempol dilayangkan untuk Jokowi mencapai 1.342.854 likes.

Kesimpulan

Posisi Wakil Presiden adalah modalitas luar biasa bagi seorang Maruf Amin untuk membangun persepsi publik organik di jagad maya. Aktivitas harian Maruf Amin adalah sumber konten unik untuk diekspos lebih jauh kepada publik. Penggunaan akun robot untuk mendengungkan Maruf Amin kepada publik sebaiknya dihentikan. Ganti dengan metode kreatif, menarik dan tentu saja berbobot untuk dikonsumsi rakyat Indonesia.