Akun @msaid_didu Pembentuk Opini Negatif Terbesar Bayar SPP Pakai Gopay

Dirilisnya informasi Gobills bisa untuk SPP tanggal 17 Februari, memicu kegaduhan yang menyeret Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang juga mantan CEO Gojek. Pada 19 Februari Nadiem memberikan penjelasan, bahwa dirinya tidak terkait dengan ekspansi bisnis Gopay, dan rencana ini memang sudah lama masuk dalam agenda bisnis Gojek. Apakah klarifikasi Nadiem Makarim ini bisa diterima masyarakat? Mari kita ulas dengan beberapa fitur Evello.

Pembayaran SPP sekolah sudah dapat dilakukan melalui GoPay diaplikasi GoJek. Senior Vice President Sales GoPay, Arno Tse mengatakan pada media (17/2 – 2020), metode pembayaran biaya pendidikan ini memudahkan orang tua murid karena dapat dilakukan dimana saja.

Pembayaran itu dapat dilakukan melalui aplikasi Gojek di fitur GoBills. Tidak hanya membayar SPP, pembayaran pendidikan lain seperti buku, seragam, dan kegiatan ekstrakurikuler juga dapat dibayar dengan GoPay.

Secara umum media menurunkan berita berkaitan dengan bayar SPP via Gopay yang dikaitkan dengan Nadiem Makarim. Media juga membahas hasil survei Indobarometer, lengkapnya seperti pada Gambar di bawah ini, petikan data tanggal 17-18 Februari 2020.

Sementara respon warganet beragam, pada tangkapan layar theme cloud Evello di bawah ini. Urutan tiga besar melibatkan akun @asumsico, @msaid_didu & @Kemdikbud_RI

Apa isi cuitan @asumsico yang di retweet pengguna twitter sampai 4,427 kali?

Cuitan yang menyebutkan bahwa dulu ketika Nadiem Makarim didaulat Mendikbud-netizen membuat meme, bisa bayar SPP dengan Gopay-kini menjadi kenyataan.

Akun msaid_didu membuat postingan tertanggal 18 Februari 2020. Seperti pada gambar di atas, msaid_didu menyebutkan adanya konflik kepentingan dengan ‘penunjukan’ Gopay untuk pembayaran SPP. Konten ini sudah di cuitkan 665 kali. Pada akun@Kemdikbud_RI isi cuitan seputar program Kemdikbud. Pembentuk opini negatif terbesar berasal dari akun msaid_didu. Sementara milik akun @asumsico lebih bersifat netal. Selain itu ada juga komentar positif yang membela, dari akun @kurawa, yang menyatakan fitur ini sebelumnya juga sudah ada di Tokopedia.

Nadiem Makarim kemudian angkat bicara terkait polemik pembayaran sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) mengunakan GoPay. Menurut Nadiem, metode pembayaran SPP seperti apa pun untuk sekolah swasta bukanlah urusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Itu kan enggak ada urusannya sama Kemendikbud sama sekali. Sekolah-sekolah kayak swasta kan menerima apa pun cara pembayaran, dia mau pilih bank apa,” kata Nadiem dalam acara satu dekade Mata Najwa di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Rabu 19 Februari 2020, seperti yang dimuat Kompas. Penjelasan sejenis juga di muat beberapa media lainnya.

Bagaimana respon masyarakat pasca pernyataan Nadiem Makarim? Fitur Result Evello bisa menjelaskan ini seperti gambar di bawah, cuplikan data 15-22 Februari 2020.

Timeline agregat percakapan di media sosial dan jumlah media coverage milik Nadiem Makarim di interest Menteri Kabinet, terlihat ada peningkatan pada tanggal 18 Februari. Lonjakan perbincangan di 18/2 tersebut karena tingginya respon pada topik bayar SPP pakai Gopay. Kemudian keluar penjelasan Nadiem tanggal 19 Februari. Grafik warna ungu Nadiem cenderung berangsur turun setelahnya. Sampai hari ini, tanggal 22 Februari.

Lebih lanjut kita bisa lihat pada theme cloud di periode 20-22 Februari. Jumlah cuitan pasca dirilisnya pernyataan Mendikbud tidak sampai ribuan. Post/re-tweet di twitter tiga terbesar melibatkan akun @EnggalPMT, @Kemdikbud_RI dan @NataliusPigai2.

Jumlah cuitan yang hanya ratusan dibandingkan sebelum ada keterangan Nadiem Makarim, merupakan indikasi klarifikasi telah diterima masyarakat dan paham dengan kondisi yang sebenarnya. Mendikbud memang tidak ada kaitan, hanya saja kebetulan sebelumnya pernah menjadi CEO Gojek, sehingga ada sebagian warganet yang mengaitkan hal ini.

Isi cuitan dari theme cloud juga sudah berubah, walaupun masih ada yang mengaitkan Nadiem berada dibalik pembayaran SPP pakai Gopay ini.

Namun jika dilihat pada theme cloud, akun twitter resmi Mendikbud, Nadiem Makarim tidak menjadi akun utama yang dilibatkan warganet. Akun resmi Nadiem bukan menjadi sumber informasi utama, seperti pada Menhan Prabowo Subianto. Akun resmi Prabowo Subianto menjadi episentrum percakapan di media sosial.

 

Kesimpulan:

  1. Akun @msaid_didu menjadi akun utama pembentuk opini negatif terbesar dari bayar SPP pakai Gopay, dengan postingan ‘adanya konflik kepentingan dengan ‘penunjukan’ Gopay untuk pembayaran SPP’.
  2. Pernyataan Mendikbud pada Rabu 19 Februari 2020, seperti yang dimuat Kompas, meredakan kegaduhan di masyarakat, meskipun belum diterima sepenuhnya oleh warganet.
  3. Absennya akun resmi Nadiem Makarim, berarti Mendikbud belum menjadi sumber utama opini di media sosial. Akun resmi Nadiem Makarim tidak dikenal netizen. Jika melihat menteri lain, seperti Menhan Prabowo Subianto, maka akun resmi twitter Prabowo Subianto, @Prabowo menjadi akun utama sumber informasi.

 

 

 

 

 

Ketika Korban Banjir Minta Bantuan di Medsos

Linimasa media sosial ramai dengan permintaan tolong untuk korban banjir di awal Januari 2020. Netizen menyampaikan informasi darurat korban yang belum tertolong atau permintaan donasi di twitter seperti pada Gambar 1 di di atas.

Cara ini di tempuh karena nomor telepon contact center bantuan tidak dapat dihubungi. Sebagaimana petikan pengguna twitter @yasnnin: “Gak tau ada yang baca atau enggak. Tapi mohon dgn sangat kalo ada yg punya nomor darurat yg bisa dihubungi (nomor SAR, Damkar, BPBD selalu sibuk) untuk evakuasi teman saya sekeluarga kejebak banjir. Alamat: pisangan Tambun Utara, Bekasi.#Banjir

Dari pemantauan Evello, 1-3 Januari 2020, akun resmi pemerintah penanganan bencana bukanlah akun yang paling aktif dalam memberikan informasi terkait bencana banjir, bantuan banjir dan korban banjir. Absennya akun itu menandakan jalur media sosial belum dimaksimalkan pemerintah sebagai salah satu saluran berkomunikasi saat terjadi bencana.

Misalnya di Jakarta-merupakan demografi pengguna internet terbesar di Indonesia-sebenarnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta telah memiliki akun resmi di twitter. Namun seperti terlihat pada gambar 1, sebagian warga Jakarta lebih memilih meminta bantuan melalui jaringan pertemanan mereka, daripada langsung me-mention @DKIJakarta atau @BPBDJakarta. Bisa jadi warganet tidak aware dengan kehadiran dua akun ini atau informasi yang disebarkan ke masyarakat tidak mencantumkan kontak pengaduan melalui akun media sosial. Seperti informasi dari media massa yang hanya mencantumkan nomor telepon darurat yang bisa dihubungi ketika menghadapi banjir.

Adapun 10 akun yang paling aktif terkait banjir, bisa dilihat pada gambar 2 di bawah ini. Akun resmi milik instansi pemerintah yang aktif hanya milik @TMCPoldaMetro, dengan 214 cuitan. Akun lainnya milik pribadi dan media massa, seperti @RadioElshinta, @komps.com dan @okezonenews.com

Gambar 2. Akun utama yang paling berpengaruh berdasarkan jumlah cuitan, terkait bencana banjir periode 1-3 Januari 2020

Penggunaan media sosial untuk bencana bisa mengacu pada Wendling, C., J. Radisch and S. Jacobzone (2013), tentang “The Use of Social Media in Risk and Crisis Communication”, OECD], disebutkan fungsi media sosial saat bencana, selain meningkatkan kesiapsiagaan dan meningkatkan kesadaran publik tentang risiko dan krisis, media sosial dalam manajemen risiko bencana dapat digunakan untuk:

  1. Sebagai media pengawasan, pemantauan, kewaspadaan situasi dan sistem peringatan dini
  2. Memberikan informasi dan instruksi, dengan peringatan real time.
  3. Memobilisasi sukarelawan selama dan setelah bencana.
  4. Mengidentifikasi survivor dan korban, membantu mengetahui kondisi keluarga dan teman-teman apakah aman dan selamat.
  5. Untuk men-counter liputan pers tidak akurat, sebagai sumber informasi pembanding.
  6. Menggalang donasi dan bantuan
  7. Membangun kepercayaan dengan memberikan informasi yang akurat
  8. Meningkatkan manajemen pemulihan
  9. Pasca bencana, mengidentifikasi di mana manajemen stres paling dibutuhkan dalam fase pemulihan
Gambar 3. Akun Twitter yang paling banyak terlibat pada target pemantauan bencana banjir periode 1-3 Januari 2020

Gambar 3 menunjukkan akun twitter yang paling banyak terlibat dengan bencana banjir pada periode 1-3 Januari 2020. Tampak akun twitter @DKIJakarta hanya terdapat pada 3.010 post, masih kalah besar dari akun-akun milik personal, sebagai pertanda akun ini kurang dikenal masyarakat. Pada fitur Theme Cloud Evello ini terdapat akun milik pemerintah yang sudah dikenal netizen. Terlihat akun @BNPB_Indonesia, yang dimention sebanyak 4.084 kali dan akun @TMCPoldaMetro yang cuitkan Tweaps sebanyak 9.624 kali.

Kesimpulan :

  1. Institusi yang menangani korban bencana harus mempunyai akun media sosial yang aktif, selain telepon. Karena saat terjadi keadaan darurat, ribuan orang akan menelpon call center, akibatnya telpon menjadi tidak bisa dihubungi. Akun media sosial menjadi solusi untuk menerima ribuan pengaduan.
  2. Akun resmi @DKIJakarta dan @BPBDJakarta kurang dikenal masyarakat, sehingga saat terjadi bencana 1-3 Januari 2020, masyarakat lebih banyak meminta bantuan dijaringan pertemananan, daripada langsung ke akun resmi tersebut
  3. Akun resmi media sosial yang menangani keadaan darurat harus terus disosialisasikan-selain no telpon, agar jangkauan badan pemerintah penanganan bencana lebih besar.

Pemimpin Paling Disukai

Seperti artikel sebelumnya, bahwa alasan pemilih suka atau tidak suka atau memutuskan memilih kandidat peserta pemilu, bisa digolongkan menjadi tiga, yaitu:

  1. Performa individu dalam memimpin/bekerja
  2. Faktor Personal (agama, suku, karakter, latar belakang, dll)
  3. Respon terhadap isu-isu spesifik

Ternyata alasan memilih ini juga bisa menjadi indikator seberapa besar engagement antara pemilih dan kandidat. Engagement yang tinggi bertransformasi menjadi aksi advokasi pendukung. Salah satu cara menidentifikasi advokat adalah dengan adanya alasan emosional atau evaluasi terhadap faktor personal (poin pertama). Misalnya saat pilpres kemarin, untuk Joko Widodo ada sabar dan sederhana, sedangkan Prabowo Subianto tegas dan nasionalis.

Dengan bantuan Evello Big Data Analitik, kita mencoba mencari siapakah kepala daerah yang paling disukai. Pertama dengan menemukan siapa gubernur yang paling populer? Kemudian, dominan topik apa yang diperbincangkan? apakah positif atau negatif? Dari analisis aspek sentimen, bisa diketahui tingkat kedalaman engagement terhadap kandidat. Pada kesempatan ini, kami batasi hanya memilih dari lima kepala daerah, yakni:

  1. Anies Baswedan
  2. Ridwan Kamil
  3. Ganjar Pranowo
  4. Sri Sultan Hamengkubuwono X
  5. Khofifah Indar Parawansa

Dari data Map Evello di gambar 1, periode pemantauan 1 Januari-19 November 2019, Anies Baswedan tampak tersohor di ranah digital dari Sabang sampai Merauke. Namun Jawa Tengah masih tetap milik Ganjar Pranowo, seperti yang terlihat pada Map. Pemilihan periode monitor yang panjang guna mendapatkan data yang cukup mewakili untuk setiap kontestan.

Gambar 1. Distribusi percakapan di media sosial, Anies Baswedan sejak Januari menguasai opini publik, kecuali di Jawa Tengah

Sejak Januari sampai November 2019, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menarik perhatian masyarakat. Isu di Jakarta kerap menjadi isu nasional, misalnya saat gaduh anggaran DKI, anggaran lem aibon dan ketika pelepasan atap JPO Sudirman. Menariknya, hal yang berbeda terjadi di Jawa Tengah, warna merah menandakan Ganjar Pranowo dominan menjadi bahasan publik. Map Evello diatas waktu penarikan datanya, sejak Januari sampai November 2019. Bagaimana dengan data pada 25/Nov/2019 – 02/Dec/2019, apakah sama?

Gambar 2. Pada pemantauan 25 November s.d. 2 Desember, Ganjar Pranowo masih berpengaruh di Jawa Tengah dan justru dominasinya melebar ke daerah lain

Gambar 2 menunjukkan hasil yang sama, Gubernur Jawa Tengah tetap mentereng di kandang banteng. Pada beberapa provinsi di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi & Maluku terlihat merah. Menandakan Ganjar Pranowo, pengaruhnya menguat dan melebar keluar dari Jawa Tengah.

Gambar 3. Jumlah percakapan yang melibatkan gubernur di setiap daerah

Gambar 3 memperlihatkan bahwa warga Jawa Tengah kurang tertarik dengan isu nasional dan lebih suka membincangkan topik yang melibatkan kepala daerahnya sendiri, akibatnya sejak Januari s.d November Ganjar Pranowo memuncaki percakapan Jawa Tengah.

Warga Ibukota, tentu saja ramai membahas Anies Baswedan. Di Jawa Barat, masih unggul Anies Baswedan bukan Ridwan Kamil yang utama dibicarakan. Khofifah Indar Parawansa urutan ke-4 dalam menarik animo penduduk Jawa Timur. Sri Sultan Hamengkubuwono X, sepi dari atensi publik Yogyakarta dan berada di urutan ke-5.

Analisis Aspek Sentimen

Gambar 4. Komparasi jumlah aspek sentimen positif & negatif tiap kandidat dari media online

Jika diadu dengan seluruh kandidat, Anies Baswedan paling banyak mengoleksi jumlah aspek sentimen positif dan negatif. Posisinya berada di kuadran kanan-atas berarti jumlah sentimen negatif hampir sama banyak dengan aspek sentimen positif. Agregat aspek sentimen ini sangat besar selisihnya sehingga tampak Anies terpisah sendiri di sebelah kanan, sementara kandidat lain berada di sebelah kiri kuadran. Kondisi jumlah aspek sentimen dari setiap gubernur lebih jelas terlihat pada gambar 4 di atas.

Berada di kiri kuadran berarti, publikasi di media massa yang melibatkan Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Sultan Hamengkubuwono X & Khofifah Indar Parawansa lebih banyak mengandung berita positif daripada berita negatif.

Salah satu cara menemukan figur yang disukai adalah dengan melakukan analisis terhadap aspek sentimen. Kita coba mengenali apa saja sentimen yang muncul di media online.

Pengungkapan tabiat terhadap seseorang ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang dimulai dari aware, engagement sampai akrab. Apabila kepercayaan sudah tinggi dan memiliki visi yang sejalan, engagement ini bisa berubah menjadi advokasi. Meskipun tidak pernah bertatap muka secara langsung, orang dengan persona yang kuat akan mampu memunculkan alasan emosional.

Anies Baswedan

Gambar 5. Sentimen Anies Baswedan, periode pemantauan 26 November – 3 Desember 2019

Pada 26 November s.d. 3 Desember 2019, aspek sentimen pemberitaan Anies Baswedan tidak cukup baik. Publikasi negatif 17,2% dari seluruh pemberitaan Anies Baswedan. Pada periode ini terdapat isu besar yang berpengaruh pada sentimen negatif Anies Baswedan secara keseluruhan.

Gambar 6. Aspek sentimen positif & negatif Anies Baswedan dari publikasi media

Isi berita jika di pecah akan menghasilkan aspek sentimen seperti pada diagram funnel di gambar 6. Reuni 212 menjadi sentimen positif terbesar bagi Anies. Sedangkan aspek sentimen negatif selain macet ada rencana pembangunan hotel di kawasan Taman Ismail Marzuki. Seluruh aspek ini merupakan evaluasi terhadap kinerja Anies Baswedan sebagai gubernur DKI Jakarta dan respon masyarakat terhadap suatu isu, belum muncul penilaian terhadap karakter/faktor emosional. Sumber media asal publikasi positif & negatif bisa dilihat pada gambar 7.

Gambar 7. Sumber berita Anies Baswedan dengan tone berita negatif (PKL, Macet & TGUPP) dan berita positif (Reuni 212)

Ridwan Kamil

Gambar 8. Sentimen Ridwan Kamil, periode pemantauan 26 November – 3 Desember 2019

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, periode 26/11 s.d. 3/12 mempunyai agregat sentimen positif lebih banyak (9,87%) daripada sentimen negatif (0,519%). Perpindahan 100 pabrik ke Jawa tengah menjadi penyumbang sentimen negatif bagi Ridwan Kamil. Minggu sebelumnya media sempat gaduh dengan pembangunan kolam renang di rumah dinas gubernur Jawa Barat yang menelan biaya 1,5 M. Kolam renang ini menjadi berita negatif bagi Ridwan Kamil. Secara keseluruhan sentimen positif jauh lebih banyak dari artikel yang mengandung berita negatif. Semua aspek sentimen ini, belum ada yang menyebut sifat/persona Ridwan Kamil, penanda munculnya advokat. Masih berkisar pada evaluasi publik pada program kerja/cara memerintah Jawa Barat.

Ganjar Pranowo

Gambar 9. Sentimen Ganjar Pranowo, periode pemantauan 26 November – 3 Desember 2019

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, secara umum mempunyai publikasi yang baik. Tulisan media bermuatan negatif sebesar 10,748%, sedangkan artikel positif 4,673%.

Gambar 10. Sentimen Ganjar Pranowo, periode pemantauan 26 November – 3 Desember 2019

Media ramai dengan pencemaran Sungai Bengawan Solo, 27 November 2019. Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Amerta Blora, Jawa Tengah yang mengambil air sungai itu sebagai bahan baku sudah menghentikan pengambilan dari Bengawan Solo.

Aliran air di sungai terpanjang di Pulau Jawa itu berwarna merah gelap akibat tercemar limbah. Akibatnya, PDAM Tirta Amerta menghentikan pengambilan air baku dari Bengawan Solo. “Akhirnya 12.000 pelanggan tidak teraliri,” ujar Direktur PDAM Tirta Amerta, Yan Riya Pramono kepada tempo.com. Publikasi tercemarnya Bengawan Solo menjadi penyumbang sentimen negatif bagi Ganjar Pranowo, disusul teror tawon vespa dan isu kemiskinan.

Pemberitaan positif berasal dari media yang menurunkan tulisan tentang produktivitas pekerja Jateng tinggi, Ganjar himbau warga Solo stop makan daging anjing, wisata investasi Jawa Tengah dan adanya perpindahan pabrik dari Jawa Barat ke Jawa Tengah.

Gambar 11. Publikasi positif Ganjar Pranowo

Pada waktu 26 November s.d. 3 Desember, semua aspek sentimen Ganjar Pranowo belum ada yang merupakan evaluasi karakter/emosional. Semua aspek adalah evaluasi kinerja dan respon pada suatu isu.

Khofifah Indar Parawansa

Gambar 12. Agregat sentimen Khofifah Indar Parawansa, periode pemantauan 26 November – 3 Desember 2019

Orang Nomor 1 Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mendapatkan publikasi media sangat baik. Periode 26 Desember-3 November terdapat 1,205% artikel positif, dan netral 98,795%, tanpa publikasi negatif. Pemberitaan positif ini berasal dari liputan media saat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim menggelar Pendampingan Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Penanganan Isu Strategis di Jatim Melalui Optimalisasi Dana Desa Tahun Anggaran 2019, di Hotel Utami, Sidoarjo. Kegiatan dilaksanakan dalam rangka mengoptimalkan alokasi dana desa untuk penurunan angka kemiskinan yang yang ada di Jatim. Penurunan kemiskinan ini mencakup yang terjadi di perdesaan maupun perkotaan.

Gambar 13. Publikasi positif Khofifah Indar Parawansa

Sri Sultan Hamengkubuwono X

Gambar 14 Publikasi media untuk Sultan HB X yang hanya memuat artikel bermuatan netral

Media coverage untuk Sri Sultan Hamengkubuwono X hanya memuat publikasi netral. Tidak ada artikel media pada masa monitor 26 November s.d. 3 Desember yang negatif maupun positif untuk Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Kesimpulan

  1. Anies Baswedan sejak Januari sampai November 2019 menguasai opini publik, kecuali di Jawa Tengah. Bahkan pada periode pemantauan 25 November s.d. 2 Desember, Anies masih mendominasi. Aspek Sentimen negatif dari pemberitaan media hampir seimbang dengan sentimen positif. Sentimen berkisar pada kinerja dan respon terhadap suatu isu.
  2. Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah merupakan satu-satunya kepala daerah yang tetap menjadi sentral perhatian masyarakatnya. Warganet Jawa tengah lebih suka membincangkan permasalahan daerahnya dibandingkan isu nasional. Aspek sentimen negatif Ganjar Pranowo membesar karena adanya publikasi tercemarnya Bengawan Solo.
  3. Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat, yang selama ini cukup aktif di media sosial ternyata masih kalah pamornya dengan Anies Baswedan dimata netizen Jawa Barat. Masyarakat Jawa Barat lebih tertarik dengan isu nasional dibandingkan isu daerahnya sendiri. Perpindahan 100 pabrik ke Jawa tengah menjadi penyumbang sentimen negatif bagi Ridwan Kamil. Secara keseluruhan pemberitaan Ridwan Kamil cukup baik pada periode 26 November s.d. 3 Desember.
  4. Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur dimasa pemantauan 26 November s.d. 3 Desember tidak mempunyai pemberitaan negatif. Tulisan positif media terkait penurunan angka kemiskinan Jawa Timur.
  5. Pemberitaan Sri Sultan Hamengkubuwono X di minggu pertama Desember tidak ada artikel yang supporting, maupun tulisan yang negatif.

Ganjar Pranowo adalah pemimpin yang paling disukai warganya. Secara konsisten di Jawa Tengah menjadi episentrum pembicaraan sejak Januari sampai November. Bahkan pada periode pemantauan yang lebih pendek, 25 November s.d. 2 Desember, Ganjar tetap mendominasi. Pilihan topik pembicaraan dimedia sosial menunjukkan kedekatan masyarakat Jawa Tengah dengan isu kedaerahan dibandingkan isu nasional. Tema lokal yang menjadi bahan perbincangan sehari-hari selama sebelas bulan menunjukkan besarnya engagement. Tahapan ini sudah bisa dikatakan sebagai awalnya muncul advokasi warga. Audience Jawa Tengah siap berperan aktif untuk terlibat menjalankan program pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Selamat untuk Pak Ganjar.

 Jika pembaca memiliki pendapat yang berbeda, kita bisa berdiskusi dikolom komentar.

Prabowo & Jokowi Bersatu, Apa Kabar Cebong & Kampret

Selepas momen pilpres 2019-bahkan sampai saat ini, kita bisa menyaksikan betapa hebatnya kekuatan cebong dan kampret. Bagaimana perseteruan “mati-matian” mereka membela pilihannya. Mereka merupakan advocate bagi figur kesukaannya. Level keterlibatan (engagement) disini sangat tinggi sehingga mencapai advokasi.

Advocate atau promotor akan mendukung, membela dan membagikan hal yang positif tentang pilihannya melalui akun media sosial, serta mengajak /mempengaruhi orang lain agar sejalan dengan pikirannya. Sedangkan lawan promotor adalah detractor atau pencela, merupakan kritikus buruk dan mampu mempengaruhi banyak orang untuk menjauhi pilihan lawannya. Seseorang yang tidak suka dengan pemerintah dan secara terus menerus menyuarakan hal yang buruk pada pemerintah, mulai dari pajak, pembangunan, kebijakan, maka dia merupakan detractor pemerintah. Asal usul kata detractor merujuk pada kata Latin detrahere, yang bermakna “jatuhkan, tarik ke bawah, atau diremehkan.”

Tidak semua pengkritik merupakan detractor, misalnya yang tidak termasuk adalah kritik dengan tujuan membangun, memberikan opsi solusi bukan menjatuhkan. Sejarah munculnya kelompok cebong dan kelompok kampret, bisa dibaca pada hasil riset Evello sebelumnya.

Bagaimanakah pergerakan kelompok cebong dan kelompok kampret pasca dijadikannya Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan oleh Presiden Joko Widodo? Tanggal 21 Oktober 2019 Prabowo menyatakan kabar dirinya siap membantu pemerintah di bidang pertahanan. Pada momen Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah orang untuk mengisi kabinetnya. Apakah kampret merupakan promotor sejati, yang benar-benar mencintai Prabowo?

Kelompok Akun Cebong

Evello mendeteksi sepuluh akun paling aktif di Twitter milik kelompok cebong yang isinya menyerang kelompok kampret sebagai berikut :

Gambar 1. Sepuluh akun Twitter kelompok cebong yang paling aktif. Akun @Yunianti404 saat ini berstatus ‘Account suspend’. Sumber data : Pemantauan Evello Periode 1 Januari-20 Oktober 2019 di Twitter

Sepuluh akun ini konsisten mencela kelompok kampret dan Prabowo, sejak 1 Januari-20 Oktober 2019; walaupun ada beberapa akun yang postingan terakhirnya bulan Agustus 2019.

Menariknya, jika dilihat dari timeline postingan, akun-akun ini terlihat seragam waktu post-nya, atau dikenal sebagai akun bot; akun Twitter yang bekerjanya dikendalikan oleh software. Ya, Evello mampu mendeteksi akun bot ini, jelasnya bisa di lihat pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Postingan akun kelompok cebong yang cenderung seragam dan berpola.
Sumber data : pemantauan cebong dan kampret periode 1 Januari – 20 Oktober 2019

Akun ini sebelumnya di setting untuk melakukan post konten pada suatu periode waktu, misalnya sehari 3 kali post pada jam 06:00, 12:00, & 18:00. Dari pola yang seragam bisa dikatakan akun-akun ini dikendalikan orang yang sama. Dibuktikan lagi dari isi postingan yang juga sama.

Gambar 3. isi postingan kelompok cebong yang seragam. Sumber data: Pemantauan Evello Periode 1 Januari-20 Oktober 2019 di Twitter

Bagaimana reaksi kelompok cebong dengan merapatnya Prabowo ke istana, karena undangan Presiden Joko Widodo? Bisa kita lihat bersama dari capture tweap kelompok cebong periode 21-28 Oktober 2019, berikut.

Gambar 4. Isi cuitan kelompok cebong yang masih konsisten bermusuhan dengan kampret dan berisi dukungan ke Joko Widodo, pasca merapatnya Prabowo ke istana

Kelompok Akun Kampret

Gambar 5. Sepuluh akun twitter paling aktif milik kelompok kampret, rekaman data Evello periode 1 Januari – 20 Oktober 2019

Pemantauan data Evello Evello periode 1 Januari – 20 Oktober 2019, menunjukkan akun-akun paling aktif milik kelompok kampret. Namun dari sepuluh akun ini ada empat akun yang disuspend, seperti akun @muslichsolo, @Elang_Sutajaya1, @hadman96 dan @muslich_amuskan yang kini sudah tidak aktif. Tercatat sebelum di suspend, akun @muslichsolo membuat cuitan sebanyak 503 kali sejak 1 Januari 2019, atau sehari 2 kali post. Pola yang terlihat dari timeline semua akun dari kelompok kampret ini, sporadis, dan random post waktunya, tidak seragam, seperti terlihat pada Gambar 6 di bawah ini

Gambar 6. Pola post dari kelompok kampret yang acak dan waktunya seperti tidak terjadwal, sejak 1 Januari sampai 20 Oktober 2019.

Berbeda dengan pola postingan akun kelompok cebong, akun kelompok kampret ini terlihat random waktu postnya dan tampak tidak beraturan jumlah postnya. Pada periode pemantauan 1 Januari-20 Oktober 2019, akun ini post konten tidak seragam seperti ditunjukkan pada gambar 7 di bawah ini.

Gambar 7. Isi postingan kubu kampret berbeda satu dengan lainnya, seperti tidak ada kordinator aksi dan cenderung sporadis

Pasca 21 Oktober, postingan kelompok kampret ada yang mendukung Prabowo menjadi Menteri Pertahanan, ada juga yang pasif. Berikut rekaman Evello dari twitter periode 21-28 Oktober 2019.

Gambar 8 Respon kelompok kampret beragam menyikapi merapatnya Prabowo ke istana.

Epilog

Promotor tumbuh dari rasa sekadar aware menjadi kesukaan yang sangat, sampai rela berkorban demi junjungannya. Sebaliknya detractor hadir karena adanya rasa tidak suka pada sebuah figur/institusi. Ketidaksukaan ini bisa berasal dari perfoma individunya, ketidakpuasan kinerja atau respon terhadap suatu isu. Evello merekam semuanya dalam perseteruan kelompok cebong vs kelompok kampret; yang kini juga disebut sebagai togog & kadrun (kadal gurun).

  1. Top ten postingan terbanyak dari kubu Cebong menggunakan akun yang diprogram untuk merilis post Twitter dengan konten yang seragam. Berbeda dengan kelompok kampret yang terlihat tidak dikordinir dimana waktu, konten serta jumlah post dilakukan secara acak.
  2. Kejadian penting yang bisa dianggap sebagai upaya rekonsiliasi
    • Presiden Joko Widodo dan rivalnya di Pilpres 2019 Prabowo Subianto akhirnya bertemu. Pertemuan terjadi di stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7/2019)
    • Dimintanya Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan oleh Presiden Jokowi yang pertama kali resmi di sampaikan di halaman istana negara tanggal 21 Oktober 2019
  3. Dua peristiwa ini tidak mampu meredam perseteruan cebong-kampret. Tidak terbukti bahwa kelompok cebong dan kelompok kampret melebur dan bergandengan tangan, pasca 21 Oktober.
  4. Poin ke-4 dibuktikan dari isi postingan kedua kubu pasca 21 Oktober, dimana kedua kubu masih saling serang. Isi cuitan kelompok cebong masih konsisten bermusuhan dengan kampret dan berisi dukungan ke Joko Widodo, pasca merapatnya Prabowo ke istana. Begitu juga dengan respon kelompok kampret ada yang mendukung Prabowo menjadi menteri pertahahan dan tetap istiqomah menyerang kelompok cebong.
  5. Mengamati dari tanggapan kubu kampret pasca 21 Oktober, golongan ini terpecah jadi dua; faksi yang memang cinta Prabowo dan pihak yang benci Joko Widodo. Tampak dari tidak masifnya dukungan terhadap keputusan Prabowo. Jadi siapapun nanti yang berseberangan dengan Joko Widodo, dalam hal ini pemerintah, akan mendapat dukungan sebagian golongan kampret.
  6. Dua kubu ini memiliki die hard promotor yang sangat solid, akan sangat menguntungkan bagi pihak yang bisa mengambil benefit.

PAPUA BELUM SELESAI ?

Papua dalam tiga bulan terakhir ini seakan tidak bisa kering dari tumpahan darah dan air mata, Manokwari, Sorong, Jayapura, terakhir di Wamena tgl 23 September 2019. Menurut investigasi Komas Ham, kerusuhan dipicu ucapan guru ke muridnya yang disalahpahami sebagai tindakan melecehkan dengan perkataan bernada rasial. Meskipun telah ada upaya konfirmasi, namun massa terkadung terprovokasi. Isu bergulir bak bola salju, pecah menjadi pembakaran, kekerasan dan kerusuhan.  Tercatat korban kerusuhan Wamena 32 tewas, 67 luka-luka, dan kerusakan bangunan rumah warga, kantor, kios, serta fasilitas umum.  

Gambar 1. Puncak percakapan dan liputan media seputar pergolakan Papua, periode 22 September- 5 Oktober 2019

Seperti yang terlihat di gambar 1 di atas, Wamena masih memuncaki perbincangan warganet dan topik pilihan sejumlah artikel media pada interest ‘Pergolakan Papua’. Lonjakan tertinggi yang terjadi pada tanggal 29 September berasal dari banyaknya netizen dan publikasi media yang membahas imbas dari kerusuhan 23 September, seperti aliran ribuan pengungsi dan sejumlah informasi dari pemerintah mengenai kondisi perkembangan Wamena. Periode pemantauan 22 September s.d. 5 Oktober, terdapat 3,708 pemberitaan media melibatkan isu Wamena, 107,915 cuitan pengguna Twitter & 510 unggahan video di kanal Youtube. Data ini tergolong tinggi, untuk kejadian yang bukan berlokasi di Ibu Kota.

Telah ada himbauan dari Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw yang menjamin keamanan di wilayah Wamena. Dia meminta kepada para pengungsi untuk kembali ke tempat tinggal mereka di `Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, lantaran kondisi keamanannya sudah mulai kondusif. “Ayo kembali ke Wamena, karena kami menjaga keamanan seluruh warga,” kata Paulus Waterpauw kepada warga yang mengungsi di halaman Masjid Al Aqsa Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, Selasa (1/10). Dikutip dari Antara.

Namun pasca kejadian yang merenggut korban jiwa itu, Sabtu 5 Oktober 2019, kondisi Wamena masih belum sepenuhnya kembali normal. Warga masih waspada berjaga, gelombang pengungsi keluar dari Wamena masih memadati Bandara. Belum semua penduduk Wamena kembali ke rumah masing-masing. Mereka masih tinggal di lokasi yang dirasa aman.

“Sebanyak 11.646 orang terdata eksodus sejak 23 September hingga 2 Oktober 2019,” kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat, Kamis (3/10) seperti dilansir Antara. Ia mengatakan, sebanyak 7.467 orang meninggalkan Wamena dengan penerbangan Hercules TNI AU dan 4.179 orang menggunakan penerbangan komersial.

Pengungsi di Wamena saat ini sebanyak 4.844 orang, dengan rincian 2.102 orang di Kodim 1702/Jayawijaya, 726 orang di Polres Jayawijaya, 216 orang di Koramil 1702-03/Wamena. Lalu, sebanyak 118 orang di Sub Den Pom, 180 orang di Gereja Betlehem, 35 orang di Kantor DPRD, 96 orang di Yonif 756/WMS, 112 orang di Gereja Efata, 20 orang di Gedung Cipta Jaya, 63 orang di Masjid LDII. Terdata juga sebanyak 125 orang mengungsi ke Gereja Advent, 60 orang di Gereja El-Shadday, 61 orang di Masjid Pasar baru, 42 orang di Kalan TNI AU Wamena dan 426 orang tersebar di beberapa titik di Wamena.

Via aplikasi chat WA, saudara penulis di Wamena mengirimkan foto saat ronda dengan warga sekitar, mereka berjaga sambil membawa parang. Menurutnya warga sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Namun masih bersliweran informasi tentang kerusuhan lanjutan. Jadi masih belum sepenuhnya aman, katanya. Kerusuhan Wamena ini menurutnya lagi lebih parah dari kejadian serupa ditahun 2000. Dimana keluarga penulis juga turut mengungsi keluar Jayapura.   

Isu terkini yang melibatkan Wamena

Gambar 2. Awan tema seputar isu yang melibatkan Wamena, periode 4-5 Oktober 2019. Menampilkan konten apa saja yang di turunkan portal berita, terkait Wamena.

Dari gambar 2, pada tanggal 4-5 Oktober 2019, portal berita masih ada yang menurunkan artikel tentang kerusuhan, pengungsi, korban. Belum ada atau belum banyak berita yang menulis tentang Wamena aman, situasi kondusif, jaminan pemerintah pulihkan rasa aman warga dan sejenisnya. Ini berarti kondisi memang belum normal sepenuhnya di Wamena.

Bandingkan awan tema dari Sorong di bawah ini, dimana sebagian besar media menurukan berita tentang pariwisata Sorong.

Gambar 3. Awan Tema dari Sorong yang sudah terlihat pulih sepenuhnya dari publikasi kerusuhan 19-20 Agustus 2019

Penyebabnya bisa jadi karena tidak ada korban jiwa di Sorong dan tidak sampai menyebabkan gelombang eksodus massal, sehingga kondisi Sorong lebih cepat pulih.

Semoga jaminan pemerintah dan permintaan maaf Gubernur Papua bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat dan menghadirkan rasa aman bagi warga Wamena khususnya dan semua penghuni Papua umumnya. Mari kita jaga Papua bersama. Pace Mace, kam tra kosong. (*)

Jejak Big Data Global Warming di Indonesia

Global Warming menjadi isu lingkungan internasional, tak terkecuali di Indonesia. Sebagai negara yang dikelilingi laut, posisi Indonesia sangat terancam dengan global warming. Suhu bumi yang menghangat, akan melelehkan es di kutub, berakibat naiknya permukaan air laut. Air laut yang naik menggeser garis pantai menjadi beberapa meter ke daratan; beberapa kota yang dekat dengan laut akan tenggelam.

Semua berawal dari efek gas rumah kaca; Karbon dioksida, Metana, Dinitrogen oksida dan Gas-gas fluorin. Terbanyak adalah CO2, sisa pembakaran ini menjebak panas matahari. Penggunaan bahan bakar fosil tanpa kontrol dalam beberapa dekade ini meningkatkan Karbon dioksida secara signifikan. Sama seperti saat kita tertutup di dalam mobil tanpa AC. Panas matahari bisa masuk, tetapi tidak bisa keluar. Pada kondisi sebenarnya, panas matahari masuk ke bumi, kemudian diikat oleh gas rumah kaca. Rumah kaca sendiri merupakan wahana pembiakan tanaman yang biasa digunakan pada lingkungan sub-tropis.

Laporan perubahan cuaca dan pemanasan global PBB mengungkap 2019 menjadi tahun ‘terpanas’ dalam periode lima tahun terakhir. Laporan PBB tersebut menuliskan rata-rata suhu global pada 2015-2019 berada dalam jalur ‘terpanas’. Dikutip dari AFP, iklim periode ini diperkirakan naik 1,1 derajat Celcius di atas era pra-industri (1850-1900) dan 0,2 derajat Celcius lebih hangat sejak 2011-2015. Empat tahun terakhir ini sudah menjadi terpanas sejak pencatatan iklim dan cuaca dimulai pada 1850.

Sementara itu dari pemantauan Evello periode Januari-September 2019, sebaran percakapan seputar Perubahan Iklim dan Pemanasan Global secara bertahap terus naik (Gambar 1).

Gambar 1. Rekaman percakapan warganet di media sosial dan artikel yang dimuat portal berita
Share Index Juli untuk target Perubahan Iklim

Topik Perubahan Iklim mengalami lonjakan pada bulan Juli dan September. Di Bulan Juli ada pertemuan atara Anies Baswedan dan Dubes Denmark, Rasmus A. Kristensen, membicarakan perubahan iklim dan polusi udara. Respon pengguna Twitter mendongkrak publikasi pertemuan ini. Secara agregat perbincangan di Twitter terkait tema ini ada 947 cuitan. 737 Artikel coverage media dan 18 Video termuat di Youtube.

Sedangkan di bulan September ini, lonjakan percakapan netizen sebagai respon dari pernyataan Wapres Jusuf Kalla, bahwa kebakaran hutan di Indonesia diperparah dengan adanya perubahan iklim. Selain itu juga ada Greta Thunberg. Thunberg aktivis lingkungan mendapat kesempatan berbicara di markas PBB, Senin (23/9/2019). Gadis 16 tahun asal Swedia ini menyampaikan pidato emosional di depan 60 pemimpin negara. Dia bahkan berani memarahi para pemimpin dunia yang hadir di konferensi itu. Dalam pidatonya, Thunberg menuding para pemimpin dunia telah mengkhianati generasi muda karena gagal mengatasi masalah.

Artikel yang paling banyak dibagikan pengguna Facebook berasal dari viva.co.id. Berita bertajuk ‘Walhi Sebut Proyek OBOR RI-China Tambah Rusak Lingkungan’ telah di bagikan 1,200 kali, sepanjang tahun ini. Kemudian berita dari kompas.com, dengan judul Kurangi Polusi Udara, Anies Ingin Belajar dari China telah disebar 2.600 kali.

Kesimpulan

Secara keseluruhan Perubahan Iklim dan Pemanasan Global, baik percakapan di media sosial dan jumlah artikel yang dimuat portal berita tanah air angkanya bisa disimak pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Agregat percakapan dan jumlah publikasi terkait target Perubahan Iklim dan Pemanasan Global, periode Januari-September 2019

Petikan informasi sepanjang tahun 2019 ini terhadap Perubahan Iklim, pemberitaan sebanyak 5,293 kali, 3.517 cuitan di Twitter dan 40 video di Youtube. Sedangkan Isu Pemanasan Global ditulis media dalam 1,526 artikel, 360 cuitan pengguna Twitter dan 14 video di kanal Youtube.

Sebagai pembanding pada periode yang sama pengguna Twitter membincangkan Polusi 163.000 kali, dan mendapat ekspose di media online 14.000 kali. Topik Kebakaran Hutan dibagikan pengguna Twitter sampai 295,687 kali dan media coverage mencapai 49,996 berita. Keseluruhan topik Perubahan Iklim dan Pemanasan Global belum menarik perhatian publik.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia perlu menggencarkan informasi mengenai bahaya perubahan iklim dan global warming. Metode tercepat dan efektif saat ini dengan kampanye digital terintegrasi, dilakukan secara masif dan sistematis, untuk mencapai tujuan agar masyarakat secara sadar dengan sukarela mau menjalankan langkah-langkah pengurangan emisi gas rumah kaca dan menjaga lingkungan. (*)