Kalau bicara minyak goreng, kita sedang membicarakan sesuatu yang sedang tidak baik-baik. Bukan sesuatu yang baik-baik saja. Buktinya, ada 70 ribu percakapan bertema minyak goreng hingga adanya temuan timbunan minyak goreng di Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara.
Percakapan itu terjadi di Tiktok. Tempat anak muda asyik joget-joget plus ibu-ibu berdaster mencurahkan isi hatinya soal minyak goreng langka. Di Instagram dan Youtube juga tak kalah ramai. Ada 30 ribu percakapan di Instagram dan 15 ribu lebih komentar di Youtube. Semuanya bertema minyak goreng.
Jumlah tayang soal minyak goreng langka juga tak kalah ramai. Di Tiktok soal minyak goreng telah ditonton sebanyak 21 juta kali. Jutaan kali tayang juga terjadi di Instagram dan Youtube. Masing-masing 2,6 juta kali ditonton dan 1,6 juta kali ditonton. Begitupun jumlah reaksi dalam bentuk likes/loves. Dari puluhan, ratusan ribu hingga jutaan reaksi.
Temuan timbunan minyak goreng hingga 1 juta liter memiliki skor sentiment negative hingga 70%. Sangat besar. Lebih besar dibandingkan temuan sentiment soal Desa Wadas, Polemik Wayang Haram, Penjualan Tiket Formula E dan Ramalan Faisal Basri soal ambruknya pemerintahan Jokowi (Silahkan telusuri data-data ini di IG @Evello_corp). Ini artinya, minyak goreng ditimbun hingga langka bukan soal baik-baik saja.
Lebih jauh, Evello melakukan analisa emosi yang menyertai temuan ini. Hasilnya? Pasti marah. Mesin #Evello memberikan skor Anger hingga 65% untuk kasus ini. Diikuti oleh emosi Sad 11% dan Disgust hingga 9%. Ketiganya adalah emosi dominan dan sekaligus menunjukkan soal timbunan minyak goreng adalah soal yang sedang tidak baik-baik saja.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari data-data ini. Diantaranya adalah memaknai Disgust 9%. Emosi disgust adalah emosi bawaan manusia yang mengharapkan agar sesuatu tidak terulang kembali. Siapa yang bisa menjamin bahwa minyak goreng langka tidak terulang kembali harusnya tampil paling depan dalam persoalan ini. Siapa ya?
