RUU HIP Tembus 251 Ribu Percakapan di Twitter

RUU HIP atau Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Negara barangkali menjadi momentum politik paling ramai selama masa pandemi Corona 19. Bagaimana tidak, sepanjang pantauan pada Juni 2020 (1-24), percakapan bertema RUU HIP mencapai 251.417 tweet. Jumlah akun yang terlibat dalam percakapan RUU HIP terbilang cukup besar. Mencapai angka 65.540 akun twitter.

Kesimpulan tersebut diperoleh setelah Evello melakukan pembandingan keramaian percakapan antara RUU HIP dengan Covid19 pada periode yang sama. Hasilnya, Covid19 diperbincangkan sebanyak 522.270 kicauan melibatkan 123.298 akun twitter.

Keramaian percakapan RUUP HIP berdasarkan pembandingan tersebut mencapai hampir 50% percakapan Covid19 di Indonesia.

Meskipun demikian, pemberitaan antara RUU HIP dan kasus Covid19 di Indonesia tidak berimbang. Jumlah berita RUU HIP pada periode 1 -24 Juni 2020 mencapai 5.499 artikel berita. Sementara, kasus Covid19 di Indonesia diberitakan sebanyak 160.049 artikel berita.

Sementara itu, keterlibatan pengguna Facebook terhadap berita-berita RUU HIP juga terbilang tinggi. Pantauan pada periode 1 -24 Juni 2020 memperlihatkan terdapat 167.743 keterlibatan (menyebar, berkomentar dan bereaksi) terhadap berita-berita RUU HIP.

Jumlah ini terbilang tinggi untuk pemberitaan yang hanya mencapai 5.499 artikel. Dilain pihak, keterlibatan warga Facebook terhadap berita-berita Covid19 mencapai 319.240 keterlibatan. Jumlah ini bisa dikatakan tidak terlalu besar jika dibandingkan keterlibatan warga Facebook terhadap berita-berita RUU HIP.

Kesimpulan

  1. RUU HIP adalah badai politik pertama paling ramai mendapat perhatian publik selama pandemi Corona berlangsung. Sejumlah ukuran hasil pantauan Evello menunjukkan tingginya perhatian publik atas polemik RUU HIP.
  2. Meskipun demikian, perhatian publik terhadap RUU HIP belum mampu mendorong keterlibatan publik lebih tinggi dalam konteks politik. Penelitian Evello sebelumnya menunjukkan jika publik masih enggan dengan politik.

Big Data: Corona Menjauhkan Masyarakat Dari Politik

Keramaian Percakapan PSBB DKI Jakarta

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menyebutkan tetap yakin bisa mempertahankan jumlah pemilih pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak meskipun ada pandemi virus corona. Dikutip dari CNN Indonesia pada Sabtu (13 Juni 2020), keyakinan Arief Budiman ini didasarkan pada dua hal.

Pertama peraturan perundangan yang menjamin profesionalitas dan integritas pelaksanaan pemilu. Kedua jaminan kesehatan dan keselamatan oleh KPU terhadap seluruh pemangku kepentingan pemilu, baik peserta, panitia dan pengguna hak pilih.

Lalu benarkah keyakinan Arief Budiman ini? Hasil penelitian menggunakan big data Evello akan memberikan persepektif lain terhadap pendapat KPU bagaimana paparan virus corona tak hanya mengancam kesehatan masyarakat, melainkan juga merubahan perhatian prioritas hidup masyarakat.

Temuan Terdahulu

Penelitian Evello pada 27 Januari 2020 melalui artikel “Big Data: Masyarakat Indonesia & Vietnam Tertinggi Waspadai Virus Corona” terdapat sejumlah temuan dimana masyarakat Indonesia dan Vietnam adalah penyebar berita tertinggi di dunia melalui jejaring Facebook tentang sebaran virus Corona. Hanya 2 berita dari 30 berita dengan sebaran tertinggi di facebook terdeteksi oleh evello menggunakan bahasa Inggris.

Dalam penelitian tersebut, reaksi pengguna Facebook terhadap berita berbahasa Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan media berbahasa Vietnam. Bahkan jumlah komentar pengguna Facebook berbahasa Indonesia juga lebih tinggi. Berita berbahasa Vietnam hanya unggul dalam jumlah sebaran dibandingkan berita berbahasa Indonesia.

Gambar 1. Reaksi Pengguna Facebook Berbahasa Indonesia dan Vietnam Terhadap Sebaran Virus Corona
Gambar 1. Reaksi Pengguna Facebook Berbahasa Indonesia dan Vietnam Terhadap Sebaran Virus Corona (Data Terakhir Diambil pada 27 Januari 2020)

Temuan ini sekaligus menunjukkan sejak awal masyarakat Indonesia menaruh perhatian terhadap sebaran dan dampak virus Corona. Data ini sekaligus memperlihatkan pada saat itu, perhatian masyarakat negara lain terhadap sebaran virus Corona tidak terlalu tinggi.

Dalam penelitian yang sama, tren berita tentang virus Corona juga meningkat tajam. Hanya dalam waktu sepekan, masyarakat disuguhkan kenaikan berita dari kurang 150 berita pada 20 Januari 2020 menjadi 1.400 berita pada 27 Januari 2020.

Sejalan dengan temuan tersebut, pada Maret 2020, Evello menemukan bahwa masyarakat Indonesia telah dibombardir lebih dari 227 ribu berita virus Corona. Jumlah berita tentang Corona pada Maret 2020 meningkat 530 persen dibandingkan pemberitaan tema sejenis sepanjang Februari 2020. Hasil penelesuran Evello menemukan pemberitaan corona pada Februari mencapai 43.009 artikel berita.

Perbandingan Jumlah Artikel Berita Bulan Februari dan Maret 2020
Gambar 2. Perbandingan Jumlah Artikel Berita Bulan Februari dan Maret 2020

Interaksi masyarakat Indonesia pada Februari – Maret 2020 juga sangat fantastis. Melalui  penelitian bertajuk “Masyarakat Indonesia Dibombardir 227 Ribu Berita Corona Sepanjang Maret 2020“, Evello memilih 10 berita dari 227.584 berita dengan sebaran tertinggi di Facebook. Kesepuluh berita tersebut tersebar 130.207 kali di facebook.

Bandingkan dengan nilai sebaran pemberitaan Presiden Joko Widodo di Facebook selama Maret 2020 misalnya. Sepanjang Maret 2020, untuk mencapai sebaran 96.975 kali dibutuhkan berita sebanyak 27.547 artikel. Disisi lain, 10 berita virus corona mencapai angka sebaran sebanyak 130.207 kali.

Pada Februari 2020, 10 berita tentang virus corona mencapai nilai sebaran sebesar 60.051 kali dikanal facebook. Angka ini kemudian meningkat lebih dari 100% pada Maret 2020.

Perbandingan Sebaran 10 Berita Terbanyak Tersebar di Facebook Periode Februari & Maret 2020
Gambar 3. Perbandingan Sebaran 10 Berita Virus Corona Terbanyak Tersebar di Facebook Periode Februari & Maret 2020

Berita-berita virus corona sepanjang Maret 2020 juga memiliki sebaran yang sangat fantastis di Facebook. Berdasarkan penelusuran Evello, sebaran berita corona mencapai 766.877 sebaran. Sementara, pada Februari 2020, berita-berita virus corona tersebar sebanyak 173.264 kali.

Pada penelitian tersebut juga ditemukan keramaian komentar terhadap sebaran virus Corona meningkat tajam.

Perbandingan Jumlah Komentar Berita Virus Corona di Facebook Periode Februari & Maret 2020
Gambar 4. Perbandingan Jumlah Komentar Berita Virus Corona di Facebook Periode Februari & Maret 2020

Melihat Keluar

Survei yang dilakukan oleh lembaga PEW Research di Amerika Serikat menemukan hanya 52% responden mengaku masih mengikuti berita-berita tentang pemilihan presiden AS pada November 2020. Temuan survei yang dilakukan pada 20-26 April 2020 ini menunjukkan adanya penurunan perhatian masyarakat dibandingkan survei pada Februari 2020. Saat itu, 59% responden menyatakan memperhatikan berita-berita tentang pemilihan Presiden AS.

Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya perhatian masyarakat Amerika Serikat terhadap penyebaran virus Corona. Sebanyak 87% responden mengaku menyimak berita-berita penyebaran virus Corona dengan intensitas sering dan cukup sering. Mengacu pada survei tersebut, PEW Research menyebutkan pandemi virus Corona menguasai peningkatan berita dan intensitas perhatian publik AS.

Dalam lanjutan survei tersebut, publik Amerika sebanyak 55% menyatakan tidak terlalu penting atau kurang penting mengikuti kampanye calon Presiden Amerika Serikat. PEW juga menyebutkan tinggal 18% publik Amerika Serikat yang menyatakan penting untuk mengetahui kampanye calon Presiden AS.

Corona dan Partai Politik

Sepanjang bulan Mei 2020, seluruh Partai Politik (PDIP, Gerindra, Golkar, PKS, Nasdem, PKB, PAN, PPP dan Demokrat) mendapat porsi pemberitaan media sebanyak 18.923 artikel berita. Sementara pada periode yang sama, penyebaran virus Corona di Indonesia diberitakan sebanyak 257.337 artikel berita.

Pada bulan yang sama sebaran berita seluruh partai politik di jejaring media sosial Facebook mencapai total 28.182 sebaran. Sementara, 10 artikel berita virus Corona terbanyak disebar melalui jejaring Facebook mencapai 69.410 sebaran. Seluruh artikel berita virus Corona berdasarkan penelusuran Evello tersebar 314.814 kali.

Lalu bagaimana dengan Presiden Joko Widodo? Jokowi adalah bandul politik saat ini. Total pemberitaan Jokowi selama periode Mei 2020 mencapai 22.781 artikel berita. Sementara sebaran berita Jokowi di jejaring Facebook mencapai 67.623 sebaran atau hampir 3 kali sebaran berita partai politik.

Virus Corona dan Dampaknya Masih Menjadi Perhatian Publik

Lalu benarkah perhatian masyarakat Indonesia terhadap pandemi virus Corona terbilang masih tinggi?. Untuk menjawabnya, Evello melakukan penelusuran terhadap publikasi update kasus persebaran virus Corona oleh Kementerian Kesehatan melalui Facebook Page https://www.facebook.com/KementerianKesehatanRI. Hasil penelusuran pada periode 9-13 Juni menunjukkan 2020 menunjukkan tingginya perhatian masyarakat Indonesia.

Reaksi Pengguna Facebook Terhadap Update Perkembangan Persebaran Virus Corona di Facebook Page Kementerian Kesehatan
Gambar 5. Reaksi Pengguna Facebook Terhadap Update Perkembangan Persebaran Virus Corona di Facebook Page Kementerian Kesehatan

Setiap kali Kementerian Kesehatan melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 mengumumkan perkembangan kasus ini, seketika publik bereaksi dengan cepat. Hal ini terlihat dari tingginya sebaran, komentar dan ratusan ribu reaksi pengguna Facebook.

Sementara itu, tema Kesehatan dan Ekonomi pada Mei 2020 adalah tema terbanyak menghiasi pemberitaan daring. Penelusuran Evello memperlihatkan tema tentang kesehatan masih menjadi berita paling diminati dengan jumlah berita mencapai 137.194 artikel dan ekonomi sebanyak 51.316 artikel berita.

Dengan cakupan berita sebesar ini, Evello menyimpulkan bahwa pendapat Ketua KPU bahwa politik masih menarik perhatian publik semakin jauh panggang dari api. Upaya untuk tetap mempertahankan kesehatan dan memperbaiki kondisi ekonomi akibat pandemi virus Corona masih menjadi perhatian publik.

Jejak Digital: Senjakala PPP dan PAN di Mata Warganet

Nilai Pengaruh Facebook di Indonesia

Survei lembaga We Are Social menempatkan Facebook sebagai media sosial paling banyak digunakan oleh penduduk bumi pada Januari 2020. Lembaga ini menuturkan, pengguna media sosial besutan Zuck ini tembus nyaris 2,5 Miliyar pengguna.

Survei yang sama pada Januari 2020 menyebutkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia mencapai angka 160 juta. Jumlah ini mengalami kenaikan sekira 12 juta pengguna baru dari April 2019 hingga Januari 2020. We Are Social juga menyebutkan rata-rata penggunaan media sosial di Indonesia mencapai 3 jam 26 menit per hari.

Lalu berapa pengguna Facebook aktif di Indonesia? Dalam laporan tersebut, We Are Social menyebutkan angka 130 juta. Rentang umur 18-34 tahun merupakan pengguna Facebook terbesar di Indonesia.

Jejak Digital Partai Politik Indonesia di Facebook

Tingginya jumlah pengguna menyebabkan Facebook menjadi sarana bersosialisasi terbaik di ranah digital. Tak pelak, kondisi ini menarik Evello sebagai lembaga riset digital berbasis big data untuk mengetahui sebaran situs partai politik pemilik kursi di DPR RI di jejaring Facebook.

Popularitas Partai Politik Berdasarkan Nilai Balik Pengguna di Jejaring Facebook.
Gambar 1. Popularitas Partai Politik Berdasarkan Nilai Engagement Pengguna di Jejaring Facebook.

Penelitian dilakukan sejak pertama kali url masing-masing partai politik di unggah ke jejaring Facebook hingga terakhir pada 12 Mei 2020. Hasil penelitian terhadap sebaran ini memperlihatkan bahwa tidak semua partai politik dikenal melalui website mereka sebagai representasi parpol di jejaring Facebook.

Jika mengacu pada Gambar 1, belum ada partai politik dengan nilai engagement ideal. Meskipun demikian, dari data penelusuran Evello, keseluruhan partai politik dapat dibagi menjadi tiga besar. Partai tiga besar ditempati Gerindra, PKS dan PDI Perjuangan. Di kelompok menengah ada Demokrat, Nasdem dan Golkar. Sementara PAN dan PPP adalah partai dengan jejak digital paling rendah.

Gerindra adalah partai dengan nilai engagement terbesar. Nilai tersebut diperoleh berdasarkan sebaran url partaigerindra.or.id dan reaksi yang tinggi. Sayangnya, kualitas konten dari sebaran url partaigerindra.or.id tidak mampu mendulang komentar yang banyak.

Berada pada posisi kedua adalah PKS. Nilai engagement PKS terbilang cukup bagus. Walaupun disokong oleh nilai sebaran dan komentar yang tinggi. Sayangnya, reaksi yang diberikan oleh warganet alias penggguna Facebook sangat kecil dibandingkan sebarannya. Jika mengacu pada jumlah sebaran, PKS adalah partai terpopuler.

Partai pemenang pemilu, PDI Perjuangan berada pada peringkat ketiga berdasarkan nilai engagement. Partai dengan jargon pembela wong cilik ini memiliki jejak digital dengan sebaran sangat tinggi. Sayangnya umpan balik pengguna melalui komentar dan reaksi terbilang sangat kecil.

Di papan tengah ada Demokrat dengan nilai engagement lumayan bagus. Dengan sebaran lebih kecil dibandingkan Gerindra, Demokrat memiliki umpan balik komentar yang hampir sama.

Posisi partai Golkar terbilang cukup unik. Jika digunakan acuan nilai reaction, maka Golkar berada pada posisi kedua setelah Gerindra dan mengalahkan PKS. Permasalah klasik selalu terjadi di Golkar. Ganti Ketua Umum, maka ganti pula semua atribut digital. Baik website dan akun media sosial.

Posisi paling buncit dialami oleh PAN dan PPP. Jika website PPP dikunjungi di alamat ppp.or.id, pengelolaan website dilakukan seadanya. Sementara, PAN melalui alamat PAN.or.id terlihat serius mengelola website mereka. Sayangnya kualitas konten dan greget pengguna Facebook terhadap partai reformasi ini melemah.

Big Data: Masyarakat Amerika Butuh Empati Pemimpinnya

Unjuk rasa dan protes keras atas pembunuhan George Floyd oleh seorang polisi kulit putih menyebar dari Minneapolis ke seluruh Amerika Serikat (AS). Tak hanya aksi protes di jalanan sejumlah kota-kota di Amerika Serikat, kematian Floyd menuai kecamanan luas di media sosial.

Pantauan Evello sampai dengan Sabtu 30 Mei 2020, percakapan dengan kata kunci George Floyd di media sosial twitter tembus lebih dari 11 juta kicauan. Tak hanya itu, sejumlah tagar menyebar menjadi trending topic dunia. Salah satu tagar terbanyak dipakai adalah #BlackLivesMatters.

Dari penelusuran Evello, tagar tersebut selama 3 hari berturut-turut menjadi bagian dari trending topic dunia. Dalam berbagai aksi demo, massa juga banyak membawa poster bertuliskan tagar #BlackLivesMatters.

Seperti diketahui, Black Lives Matter adalah sebuah gerakan aktivis internasional, yang dimulai dari komunitas Afrika Amerika dan aktif menentang kekerasan maupun rasisme sistemik terhadap orang kulit hitam.

Jumlah Percakapan George Floyd di Media Sosial Twitter periode 25-30 Mei 2020
Jumlah Percakapan George Floyd di Media Sosial Twitter periode 25-30 Mei 2020*

Netizen Indonesia juga tak kalah ramai. Percakapan tentang George Floyd bahkan menyumbang 0,6% percakapan netizen dunia atau setara dengan 72.653 kicauan.

Tak kalah ramai, pemberitaan kematian George Floyd terbilang tinggi. Floyd diberitakan media Indonesia sebanyak 2.337 artikel berita. Pantauan pada periode 25 Mei – 3 Juni 2020 menunjukkan bahwa kematian Floyd lebih banyak diberitakan dibandingkan isu PHK, BPJS, Jiwasraya dan Omnibus Law.

Sementara itu, pantauan di media sosial memperlihatkan protes dilancarkan warga Amerika tidak hanya pada kematian Floyd, tetapi kepada cara polisi menangani demonstran. Tagar #PoliceBrutallity digunakan oleh pengguna Instagram untuk memprotes tindakan brutal aparat.

Kasus penabrakan terhadap demonstran yang dilakukan oleh dua mobil milik polisi di Brooklyn, New York, pada Sabtu 30 Mei 2020 makin menguatkan kemarahan publik Amerika.

Pun demikian, sejumlah aksi yang dilakukan oleh aparat kepolisian dan militer Amerika dengan memberikan empatinya terhadap kematian Floyd menuai dukungan publik. Tak jarang aparat kepolisian ikut berada ditengah aksi kerumunan massa dan memberikan dukungannya untuk menghentikan sikap rasis terhadap warga kulit hitam.

Sikap aparat Amerika, baik polisi dan militer berlutut ditengah aksi massa menuai pujian luas dari kalangan netizen.

https://www.instagram.com/p/CA9oKA-FASJ/

Menyusul maraknya aksi dukungan polisi terhadap massa demonstran, media Forbes.com melalui jurnalisnya Lisette Voytko mengangkat aksi empati aparat kepolisian di sejumlah kota Amerika Serikat. Melalui artikel berjudul “In Some Cities, Police Officers Joined Protesters Marching Against Brutality“, Forbes mengangkat berita sejumlah aparat kepolisian justru terlihat berdiri bersama demonstran mendukung penghentian kekerasan dan tindakan brutal aparat.

Forbes juga mengangkat hasil unggahan warganet melalui media sosial twitter tentang aksi aparat kepolisian mendukung demonstran. Bahkan Forbes juga menyematkan tautan kicauan warga twitter berisikan polisi mengangkat poster bertuliskan end police brutallity.

Sementara itu, hasil penelitian Evello menunjukkan jika artikel milik Forbes.com adalah artikel dengan nilai engagement terbesar di Facebook berkaitan dengan kematian Floyd. Total nilai engagement (dibagikan, dikomentari dan reaksi) berita tersebut mencapai 9.823.881.

Berita milik Forbes juga menjadi berita terbanyak dibagikan di Facebook sepanjang pantauan Evello sejak berita diterbitkan hingga Rabu 3 Juni 2020. Artikel berita ini dibagikan di jejaring Facebook sebanyak 1.206.280 sebaran. Jumlah komentar mencapai 577.046 percakapan dan panen emoji netizen sebanyak 8.040.532 reaksi.

Nilai Engagement Berita Forbes Berjudul "In Some Cities, Police Officers Joined Protesters Marching Against Brutality" Periode 31 Mei - 3 Juni 2020
Nilai Engagement Berita Forbes Berjudul “In Some Cities, Police Officers Joined Protesters Marching Against Brutality” Periode 31 Mei – 3 Juni 2020

Mengapa sebaran berita ini begitu besar? dari analisa terhadap ramainya komentar netizen, masyarakat Amerika sendiri lelah dalam situasi bersitegang karena perbedaan ras dan diskriminasi. Tidak sedikit warga Amerika yang menginginkan diskriminasi terhadap ras dihentikan. Seperti disuarakan oleh netizen asal Chicago, Rayon Survivor No one should be defined by the color of their skin or their economical background. Instead, each individual should be determined by the content of their own character!.”

Apalagi hubungan antar ras di Amerika dianggap sebagian besar warganya menurut survei PEW research center memburuk akibat politik Donald Trump. 56% publik di Amerika meyakini bahwa hubungan antar ras di Amerika memburuk karena Trump. Bahkan dalam penelitian yang sama, 20% simpatisan partai republik meyakini Trump turut andil membuat hubungan antar ras memburuk.