Pergolakan di Papua: Kerusuhan Berlatar Free West Papua

Isu rasisme dinilai sebagai pemicu terjadinya konflik di tanah Papua. Big Data Evello turut membenarkan hal itu dengan menampilkan percakapan tentang rasis, masih merajai perbincangan dan pemberitaan sepanjang periode pemantauan Agustus 2019.

Distribusi percakapan seputar pergolakan Papua, periode 1-31 Agustus 2019

Perhatikan bahwa pada tanggal 21, isu rasis menjadi semacam trigger yang memicu terjadinya kerusuhan di berbagai wilayah di Papua. Sementara itu, sepanjang periode pemantauan percakapan warganet di linimasa twitter juga terlihat masih menyoal rasisme. Isu rasisme mulai surut pada akhir periode pemantauan, berganti dengan isu “Free West Papua”.

Pergolakan di Papua Bukan Sekedar Rasisme dan Diskriminasi

Presiden Jokowi angkat bicara soal kerusuhan yang terjadi di Papua, Jokowi baru-baru ini menghimbau agar warga Papua dapat meredam gejolak amarah. Lewat pernyataannya Jokowi juga meminta agar public di Papua bisa memaafkan terkait ujaran rasis. Jokowi selaku pemimpin negara tentu mengetahui akar masalah yang sebenarnya terjadi di Papua, bukan sekedar ujaran rasis namun juga persoalan-persoalan lain.

Sejalan dengan pernyataan Presiden Jokowi tersebut, Gubernur Lukas Enembe pun mengungkap hal sama. Namun demikian, Enembe menegaskan bahwa persoalan dan masalah di Papua jauh lebih rumit, tak bisa disederhanakan atau diselesaikan hanya dengan cara seperti itu.

(Baca juga: http://evello.co.id/politik/reaksi-warganet-terhadap-pergolakan-papua-setara-hut-ri-74/)   

Kerusuhan di Papua bukan sekedar rasisme belaka? Simak hal menarik dalam Peta sebaran percakapan pergolakan di Papua berikut ini:

Sebaran percakapan di ranah digital pada topik pergolakan Papua. Perbincangan “rasis” dan “diskriminasi” justru tersebar hanya di luar pulau Papua

Terlihat bahwa sebaran percakapan warganet tentang “rasis” dan “diskriminasi” justru tersebar hanya di luar pulau Papua. Menariknya, kedua frasa tersebut ternyata memang tidak diperbincangkan publik di lingkup wilayah Papua. Warga Papua baik pendatang maupun warga asli, warga yang terlibat dan yang tidak terlibat aktivitas demo dan kerusuhan, seluruhnya nyaris hanya berbincang tentang Sorong, Fakfak dan Jayapura di mana titik kerusuhan terjadi. Lalu, apa alasan sebenarnya yang mendasari kerusuhan di Papua hari ini?

Kerusuhan Papua Dilatari Kehendak “Free West Papua”

Sebanyak 9,636 akun unik terlibat membicarakan tentang Free West Papua, sementara rasis menempatkan hanya 7,975 akun twitter, dan Jayapura dengan 4,791 akun. Keterlibatan sejumlah besar akun unik dalam percakapan isu-isu tersebut membuktikan adanya pergeseran isu dari rasisme, menuju isu Free West Papua.

Kerterlibatan akun unik didominasi dari Free West Papua di Isu Pergolakan Papua, pada periode pemantauan 23-30 Agustus 2019

Adanya anomali unik ini juga diperkuat dengan data jumlah persebaran berita dan percakapan warganet di media dan media sosial, di mana isu “Free West Papua” di seluruh media membuktikan tumbangnya dominasi isu Rasis pada sepekan terakhir Agustus 2019, atau sejak rusuh Jayapura terjadi pada 29 Agustus hingga hari ini.

Data analisa Evello ini menyimpulkan alasan utama dibalik setiap kerusuhan yang terjadi di wilayah Papua hingga hari ini. Isu Rasisme bukanlah sebenarnya, melainkan kehendak untuk memerdekakan diri merupakan alasan utama yang mendasari pergolakan di wilayah paling timur Indonesia itu.

Reaksi Warganet Terhadap Pergolakan Papua Setara HUT RI 74

Hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus adalah momen spesial bangsa Indonesia. Sayangnya, saat bangsa Indonesia bersukacita, tragedi protes atas perlakukan tidak adil mengguncang masyarakat Papua. Analisa evello perlihatkan bahwa sebaran protes ini terbilang tidak kecil.

Sebagai momen spesial bangsa, perayaan HUT RI ke-74 tentu ramai menjadi topik berita. Evello mencatat jumlahnya mencapai lebih dari 17 ribu berita. Pun demikian, berita protes masyarakat Papua terbilang tidak kecil. Prosentasenya mencapai 35% atau setara dengan 9 ribu berita berbanding berita perayaan HUT RI ke-74.

10 berita terbanyak tentang protes masyarakat Papua juga memiliki sebaran lebih tinggi di media sosial dibandingkan berita perayaan HUT RI ke-74. Data ini perlihatkan animo masyarakat tentang protes masyarakat Papua setara perayaan kemerdekaan RI.

Perbandingan sebaran seluruh berita kedua isu menunjukkan tren yang sama. Baik pergolakan di Papua dan HUT RI sangat tinggi. Pun demikian, isu Papua nampaknya membuat masyarakat Indonesia terperangah. Saling berbagi spontan menunjukkan isu tersebut viral. Data pada gambar memperlihatkan animo “kaget” masyarakat ditujukan pada pergolakan di Papua dibandingkan HUT RI.

Lalu bagaimana dengan sebaran unggahan di media sosial? Evello akan membahasnya berdasarkan media sosial terbesar di Indonesia, saudara tua Twitter yang hingga saat ini masih dipakai hingga ke kampung-kampung.

Kedua topik, baik HUT RI ke-74 dan protes masyarakat Papua tersebar lebih dari 1 juta kali hingga 23/8/2019 pukul 11:23 WIB. Ada 1.198.444 kali tombol shared diketuk oleh warganet berisikan isu Papua. Jika rata-rata pertemanan di media sosial mencapai 500, maka jumlah sebaran berpotensi dilihat sebanyak 1.198.444 dikalikan 500. Jumlah yang sangat besar bukan?

Protes masyarakat Papua pun banjir komentar warganet melalui media sosial. Jumlahnya mencapai 38% dari komentar seluruh warganet Indonesia saat perayaan HUT RI ke-74.

Jumlah reaksi yang diberikan warganet terhadap protes masyarakat Papua juga terbilang besar. Jumlahnya lebih dari 1,3 juta kali.

Jika seluruh metrik reaksi publik melalui kenal media sosial ini dibandingkan, maka terlihat protes keras masyarakat Papua adalah isu yang benar2 membutuhkan perhatian serius. Jumlah engagement (reaksi dll) mencapai angka 3 juta.

Dalam periode pantauan yang sama, evello juga mencatat gejolak di tanah Papua memiliki reaksi yang lebih tinggi dibandingkan isu-isu lainnya seperti Pendidikan, Kesehatan dan Pekerjaan.

Berdasarkan data yang telah disajikan, apa yang disampaikan Gubernur Papua, Lukas Enembe agar tidak menyederhanakan masalah Papua menjadi benar adanya. Seluruh metrik yang dipantau melalui analisa evello mendukung pernyatan Lukas Enembe.

Ada Bayang-bayang Ahok di Kasus “Hina Salib” UAS

Nama Ahok mencuat ditengah isu miring yang kini mendera Ustadz Abdul Somad (UAS). Munculnya Ahok, meski hanya untuk memberikan wawasan kepada mereka yang tak paham tentang simbol salib, tak pelak meruncingkan perbincangan publik terhadap kedua tokoh nasional ini tentang penistaan agama.

Sebuah analisia menarik didapat melalui platform Big Data Evello di media dan media sosial terhadap 13 tokoh nasional. Ada Abdul Somad, Rizieq Sihab, Ahok, Mahfud Md, Rocky Gerung hingga Sri Mulyani. Hasil analisis ini menghasilkan, mencuatnya dua nama tokoh besar paling menarik perhatian publik.

Isu Sensitif

Siapa yang tak kenal Abdul Somad (UAS) dan Ahok? dalam sepekan terakhir ini saja, keduanya telah terbukti paling ramai mendapat perbincangan maupun pemberitaan. Di Twitter misalnya, UAS menorehkan angka 48,555 ribu percakapan, angka ini lebih tinggi dari Ahok dengan 41,905 tweet. Selain twitter, UAS unggul jauh di facebook, namun tidak dengan media online dan youtube, Ahok rajanya.

Lonjakan pemberitaan tentang UAS mulai terjadi pada tanggal 17 hingga akhir periode pemantauan, yakni 20 Agustus, dengan total sebaran berita 5,549 berita. Di periode yang sama, Ahok juga muncul dan berita tentang dirinya melonjak pada tanggal 19 – 20 Agustus, dengan seluruh total sebaran berita Ahok sebanyak 1.267.

Berita-berita tersebut, salah satunya menonjolkan isi ceramah UAS membahas tentang symbol salib. UAS menjelaskan bahwa salib adalah tempat bersarangnya jin kafir. Isu ini sensitif, terbukti berita UAS ceramah tentang salib memantik reaksi keras public. Ragam opini tentang salib, tentang penistaan agama dan akhirnya kabar pelaporan terhadap UAS pun gencar bertebaran.       

Gencarnya tudingan penghinaan penistaan agama membuat UAS harus mengklarifikasi terkait ceramahnya tersebut. UAS pun menyebut poin klarifikasi lewat okezone.com, terbit pada 19 Agustus 2019, diantaranya ia menjelaskan bahwa dirinya hanya menjawab pertanyaan dari seorang jamaah yang hadir di kajiannya.

UAS juga mengaku bahwa kajian yang diselenggarakan pada waktu itu tertutup, alias tidak untuk umum. “Itu pengajian di dalam masjid tertutup, bukan di stadion, bukan di lapangan sepak bola. Bukan di TV, tapi untuk intern umat Islam menjelaskan pertanyaan umat Islam mengenai patung dan tentang kedudukan Nabi Isa. Untuk orang Islam dalam sunah Nabi Muhammad,” jelasnya

Intersepsi Ahok

Nama Ahok turut mencuat ditengah isu miring yang kini mendera UAS. Munculnya Ahok, meski hanya untuk memberikan wawasan kepada mereka yang tak paham tentang simbol salib, tak pelak meruncingkan perbincangan publik terhadap kedua tokoh nasional ini tentang penistaan agama.

Kemunculan Ahok dapat terlihat jelas dengan jumlah akun unik yang terlibat membicarakan Ahok berselisih tipis dengan UAS. Ini membuktikan adanya peluang terjadinya intersepsi isu tentang Ahok dan UAS oleh public. Sebuah intersepsi yang tajam berupa isu tunggal terkait kedua tokoh ini.

Ternyata, awan tema yang melingkupi kedua tokoh ini dapat memperjelas bahwa tema tunggal yang mengitersepsi itu adalah “penistaan agama”. Perhatikan juga adanya akun TeddyGusnaidi, permadiaktivis, detikcom sama-sama ternyata mengulas kedua tokoh ini.

Lebih jauh, Ahok seperti diketahui bersama pernah merasakan “dibui” akibat penistaan agama, bagaimanapun Ahok jugalah salah seorang yang mendapat fatwa menistakan agama oleh MUI kala itu. Kini pendapat MUI dalam menyikapi kasus UAS mendapat sorotan netizen, misalnya oleh akun @kis-miyanto dengan membandingkan bagaimana MUI bersikap terhadap Ahok dan Mui terhadap kasus UAS. Disinilah bayang-bayang Ahok muncul di kasus “hina salib” UAS, meski sebelumnya Ahok sudah menegaskan tak ingin kasusnya disamakan dengan UAS.

Saat Prabowo Mulai Dilupakan

“Kami menghargai kesadaran kolektif yang sekarang tumbuh di internal Gerindra. Kami apresiasi sikap dan langkah Pak Prabowo yang tegas bersikap terhadap mereka-mereka yang selalu mendorong Gerindra pada posisi kombatif dan konfrontatif,” demikian ungkapan Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno tepat seminggu sebelum perayaan HUT Kemerdekaan RI yang ke-74.

Apresiasi yang dimuat dalam media detik pada Minggu 11 Agustus 2019 terbilang menjadi berita yang biasa-biasa saja. “Tidak banyak yang memperhatikan”, demikian analisis platform Big Data Evello.

Berita tersebut menjadi berita dengan peringkat sebaran ke-21 dari 100 berita tentang Prabowo yang paling banyak disebar netizen. Pantauan tersebut dilakukan pada periode 11-18 Agustus. Berapa jumlah sebarannya? Evello menemukan angka 21. Artinya tautan berita tersebut hanya dibagikan sebanyak 21 kali di media sosial.

Melalui analisa terhadap efek viral 100 berita tentang Prabowo pada 11-18 Agustus 2019, diperoleh sebarannya hanya 2.690. Sementara, pada periode yang sama 100 berita tentang Jokowi disebar sebanyak 24.429 kali.

Gambar I. Share Index Sebaran Berita Prabowo Subianto Periode 11-18 Agustus 2019 Berbanding Sebaran Berita Joko Widodo.

Tak hanya sebaran berita, analisa melalui media sosial paling ramai alias twitter menunjukkan kecenderungan yang sama. Pada periode pantau yang sama, jumlah akun yang terlibat dalam membicarakan Prabowo adalah 10.526. Sementara jumlah kicauan ditemukan sebanyak 25.552.

Pada periode yang sama, jumlah akun yang terlibat memperbincangkan Jokowi adalah 92.318 dengan jumlah kicauan mencapai 200.605 tweet.

Gambar II. Perbandingan Jumlah Akun Unik Prabowo dan Jokowi di Twitter.

Pada periode pantau yang sama, Evello juga menemukan bahwa jumlah akun unik yang terlibat dalam percakapan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lebih besar dibandingkan Prabowo. Pantauan pada kanal twitter menemukan Anies diperbincangkan oleh 41.114 akun twitter.

Pada periode yang sama, jumlah akun yang terlibat dalam percakapan tentang Rocky Gerung mencapai 14.843 akun unik. Lebih besar dibandingkan Prabowo.

Demikian juga mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Percakapan tentang Ahok melibatkan 17.901 akun twitter.

Hasil tersebut tidak berbeda dengan analisa Evello melalui metrik media sosial terbesar di Indonesia, Facebook. Jumlah sebaran untuk Prabowo tertinggal jauh dengan sebaran Jokowi.

Prabowo pada periode 11-18 Agustus 2019 memiliki sebaran sebanyak 126.147 berbanding Jokowi sebanyak 583.069 sebaran.

Gambar III. Perbandingan Jumlah Sebaran Percakapan Prabowo dan Jokowi Periode 11-18 Agustus 2019.

Benarkan Prabowo Mulai Dilupakan?

Data-data yang disampaikan sebelumnya menunjukkan bahwa rival Jokowi, Prabowo Subianto mulai sepi dari perhatian publik. Jika dibandingkan data pada periode 11-18 Juli 2019 penurunan perhatian publik terhadap Prabowo benar adanya.

Pada periode 11-18 Juli 2019, 100 berita Prabowo tersebar sebanyak 61.604. Jika dibandingkan pada periode yang sama dengan Agustus 2019 telah terjadi penurunan sebaran berita sebanyak 75% terhadap Prabowo.

Demikian pula pada keterlibatan jumlah akun unik di media sosial twitter. Pada 11-18 Juli 2019, jumlah akun unik yang terlibat membicarakan Prabowo mencapai jumlah 65.104 akun. Sementara pada periode yang sama di Agustus 2019 tersisa 10.526.

Kondisi yang sama juga terlihat dari sebaran percakapan Prabowo di media sosial terbesar di Indonesia, FB. Pada periode 11-18 Juli 2019, sebaran percakapan tentang Prabowo mencapai angka 943.855. Pada periode yang sama di Agustus 2019 sebaran percakapan Prabowo tersisa 126.147 sebaran.

Pada dasarnya penurunan perhatian publik tidak saja terjadi pada Prabowo. Jokowi pun mengalami penurunan intensitas perhatian publik. Jika pada 11-18 Juli 2019 sebaran percakapan Jokowi mencapai 1.354.395, maka pada periode yang sama di Agustus 2019 turun menjadi 583.069 sebaran.

Meskipun demikian, penurunan pada Jokowi tidak seekstrim penurunan terhadap sebaran percakapan Prabowo.

Cebong dan Kampret Dalam Pertarungan Prabowo vs Jokowi

Dalam sebuah kesempatan, Prabowo dan Jokowi meminta agar penggunaan istilah cebong dan kampret dihentikan.

Pada 22 April 2019, dalam wawancara bersama wartawan senior iNews Ariyo Ardi, Jokowi menanggapi istilah cebong dan kampret.

“Sudahlah. Kehendak rakyat sudah ditentukan di 17 April kemarin, di hari pencoblosan sudah. Nah setelah itu, sudahlah enggak usah ada lagi istilah cebong, kampret. Stop,” ucap Jokowi kala itu.

“Sudahlah, enggak ada lagi cebong-cebong. Enggak ada lagi kampret-kampret,” ujar Prabowo saat konferensi pers bersama Joko Widodo di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7/2019).

Himbauan keduanya disebut-sebut banyak pihak akan menjadi momentum berhentinya pertikaian dan saling serang kelompok cebong dan kampret di media sosial.

Video I. Sejumlah Pengamat Menyebutkan Pertemuan Jokowi-Prabowo Menghentikan Pertikaian Kelompok Cebong dan Kampret.

Sementara Hasil penelitian Evello menunjukkan bahwa penurunan percakapan dan perhatian terhadap Jokowi dan Prabowo tidak menunjukkan bahwa kelompok cebong dan kampret telah bubar.

Melalui analisa terhadap kasus pembongkaran Getah-getih yang viral di media berita dan media sosial menunjukkan bahwa lapangan pertempuran kelompok cebong dan kampret tidak lagi didominasi rivalitas politik Jokowi dan Prabowo. Pertempuran cebong dan kampret justru makin seru dan spesifik dalam konteks perebutan pengaruh di DKI Jakarta. Posisi Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta menjadi lahan baru pertikaian cebong dan kampret.

https://twitter.com/EvelloCorp/status/1161604667735867393
Gambar IV. Berita Permintaan Maaf PSI Terkait Penyerobotan Trotoar Menjadi Berita ke-16 Terbanyak Disebar Pada Rabu, 14 Agustus 2019

Ramainya percakapan tentang polusi dan sampah di DKI Jakarta juga tidak lepas dari pindahnya pertarungan cebong dan kampret. Bahkan isu-isu spesifik seperti trotoar menjadi pertempuran kelompok cebong dan kampret.

Ternyata! Cebong Penguasa Youtube, Kampret Penguasa Medsos

Perbandingan Jumlah Sebaran Konten Bertemakan Cebong vs Kampret di Media Sosial

Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden 2019 melahirkan beragam istilah baru. Salah satu istilah yang kuat mengemuka adalah cebong dan kampret. Istilah cebong mengacu kepada pendukung Jokowi dan kampret identik dengan pendukung Prabowo.

Tak hanya cebong dan kampret, pilpres 2019 juga melahirkan banyak istilah. Kaum sumbu pendek, bani micin, kaum bumi datar, mukidi dan jaenudin naciro adalah beberapa istilah yang mendadak populer imbas dari pilpres 2019.

Fenomena ini tak luput dari perhatian Clara Endah Triastuti. Peneliti di Pusat Kajian Komunikasi UI seperti dikutip dari BBC Indonesia menyebutkan pengguna internet memang tidak hanya mengkonsumsi konten tapi juga menjadi menciptakan konten.

“Pergerakan politik menurut saya sekarang berubah. Mereka yang melakukan propaganda politik mulai melihat pasar juga dan mulai mengubah bentuk-bentuk propagandanya. Jadi politik itu tidak diletakkan dalam ranah formal, tapi dalam ranah yang populer,” ujar Clara menjelaskan fenomena lahirnya beragam istilah dalam Pilpres 2019.

Diantara banyaknya istilah baru dalam pilpres 2019, cebong dan kampret bisa dikatakan adalah istilah terpopuler. Para pelaku politik pun lekat dengan kedua istilah tadi. Tak terkecuali Jokowi dan Prabowo.

Pada 22 April 2019, dalam wawancara bersama wartawan senior iNews Ariyo Ardi, Jokowi menanggapi istilah cebong dan kampret.

“Sudahlah. Kehendak rakyat sudah ditentukan di 17 April kemarin, di hari pencoblosan sudah. Nah setelah itu, sudahlah enggak usah ada lagi istilah cebong, kampret. Stop,” ucap Jokowi kala itu.

Tak hanya Jokowi, istilah cebong dan kampret juga akrab bagi Prabowo. “Sudahlah, enggak ada lagi cebong-cebong. Enggak ada lagi kampret-kampret,” ujar Prabowo saat konferensi pers bersama Joko Widodo di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7/2019).

Dalam rekaman layanan Big Data Evello, istilah cebong dan kampret kerap mewarnai kerasnya para pendukung Pilpres 2019 di media sosial. Evello mencatat pada periode Juni 2019, video bertema cebong dan kampret menuai komentar lebih dari 77 ribu kali.

Asal Muasal Cebong dan Kampret

Dirangkum dari berbagai sumber, istilah cebong dan kampret merupakan kelanjutan dari istilah panasbung dan panastak pada gelaran Pilpres 2014. Saat itu, istilah Pasukan Nasi Bungkus (Panasbung) kerap dilekatkan pada kubu Prabowo-Hatta. Nasi bungkus mengacu pada dukungan ormas tertentu pada Prabowo-Hatta yang dianggap kerap melakukan demo dan mendapatkan jatah nasi bungkus.

Sementara Pasukan Nasi Kotak (Panastak) merupakan olok-olok yang dilekatkan pada kubu Jokowi-JK dengan baju kotak-kotak sebagai simbol kampanye mereka.

Penggunaan istilah-istilah dalam perhetalan politik pun berlanjut. Panasbung dan Panastak berganti menjadi cebong dan kampret. Istilah cebong lahir sebagai respon terhadap kebiasaan Jokowi kala itu yang dianggap gemar memelihara kodok. Akibatnya, label kecebong atau cebong kerap digunakan untuk mengolok pendukung Jokowi.

Tak mau kalah, istilah kampret mulai digunakan oleh pendukung Jokowi. Istilah ini lahir dikarenakan nama koalisi yang dipakai oleh Prabowo-Hatta saat Pilpres 2014, KMP atau Koalisi Merah Putih. Saat itu, KMP kerap diplesetkan menjadi KMPret yang kemudian berkembang menjadi kampret.

Cebong dan Kampret Dalam Potret Big Data di Kanal Youtube

Olok-olok cebong dan kampret bisa dikatakan sangat serius di media sosial. Pendukung Jokowi dan Prabowo tidak hanya menggunakan kedua istilah dalam bentuk kata di media sosial melainkan telah mengubahnya dalam bentuk konten yang diproduksi dengan niatan serius. Berbentuk gambar bergerak dan suara alias video.

Di kanal youtube, video-video dengan embel-embel cebong dan kampret beredar sangat luas. Jumlah komentar mencapai ribuan dan jumlah tayang mencapai jutaan seperti terekam dalam pantauan Big Data Evello.

Berdasarkan analisa pada periode 1-31 Juli 2019, evello menyimpulkan bahwa pendukung Jokowi atau cebong menguasai permainan di kanal Youtube. Metrik ukuran yang diambil memperlihatkan kelompok cebong berhasil meningkatkan sebaran audiens untuk video-video bertema kampret.

Kelompok cebong pada periode Juli 2019 mampu membuat konten video sehingga kelompok kampret lebih ramai menuai komentar/olok-olok.

Gambar 1. Perbandingan Jumlah Komentar Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-30 Juni 2019 di Kanal Youtube

Video-video bertemakan kampret juga lebih ramai ditonton di kanal Youtube. Tercatat, video bertemakan kampret ditonton 58% lebih banyak dibandingkan video bertemakan cebong.

Pada periode yang sama di bulan Juni 2019, kelompok cebong terlihat menguasai penggunaan kanal youtube. Sebaran komentar video bertemakan kampret lebih banyak di youtube dibandingkan cebong menunjukkan bahwa video-video bertema kampret lebih ramai mengundang perhatian youtuber.

Hasil pembandingan data evello pada periode Juni dan Juli 2019 menunjukkan bahwa aktivitas kelompok cebong meningkat dibandingkan kelompok kampret. Data pada Gambar 1 dan 2 menunjukkan dominasi kelompok cebong di kanal youtube dibandingkan kelompok kampret.

Gambar 2. Perbandingan Jumlah Komentar Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret. Kelompok cebong dominan menciptakan opini tentang kelompok kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Kanal Youtube

Dominasi kelompok cebong di kanal youtube juga terlihat dengan tingginya jumlah tayang video bertemakan kampret. Pada periode Juli 2019, video-video bertemakan kampret ditonton sebanyak 6.118.789 kali. Sementara, video bertemakan cebong ditonton sebanyak 4.409.420 kali.

Gambar 3. Perbandingan Jumlah Tayang Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Kanal Youtube

Pantauan pada Juni 2019 menunjukkan dominasi yang kuat kelompok cebong dibandingkan kelompok kampret. Data analisa evello memperlihatkan video bertemakan kampret ditonton 87% lebih banyak dibandingkan cebong. Jumlah ini tentu lebih besar dibandingkan pada periode Juli 2019.

Pada periode Juni 2019 Kampret ditonton sebanyak 9.297.327 kali. Sementara cebong ditonton lebih sedikit dengan jumlah tayang mencapai 1.313.238 kali.

Gambar 4. Perbandingan Jumlah Tayang Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-30 Juni 2019 di Kanal Youtube

Cebong dan Kampret Dalam Potret Big Data di Media Sosial

Pertarungan cebong dan kampret di media sosial (twitter & facebook) tak kalah ramainya. Produksi konten yang lebih mudah di media sosial membuat keramaian perseteruan cebong dan kampret tak kalah seru dibandingkan ramainya komentar di youtube.

Data Evello pada Juli 2019 menunjukkan bahwa perseteruan cebong dan kampret tak lantas surut karena pertemuan rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo pada 13 Juli 2019 di stasiun MRT Lebak Bulus. Hasil analisa pada media sosial memperlihatkan perseteruan cebong dan kampret ternyata sangat mendalam.

Sepanjang Juli 2019, aksi saling menertawakan antara kelompok cebong dan kampret mencapai jumlah luar biasa. Emoticon saling menertawakan mencapai angka 84.838.

Data evello menunjukkan emoticon tawa untuk cebong lebih tinggi 74% lebih banyak dibandingkan 26% untuk kampret. Emoticon untuk cebong 63.022 dan 21.816 untuk kampret. Angka-angka ini menunjukkan bahwa sebaran konten dengan nada ejekan untuk cebong lebih banyak ditertawakan dibandingkan dengan sebaran konten untuk kampret.

Gambar 5. Perbandingan Jumlah Emoticon Tawa Untuk Masing-Masing Kelompok Cebong vs Kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Media Sosial

Sejalan dengan tingginya penggunaan emoticon tawa, persebaran unggahan di media sosial tentang cebong dan kampret terbilang masih sangat tinggi pada Juli 2019. Total sebaran mencapai angka 508.219 shared.

Dalam hal sebaran konten, analisa data evello menunjukkan bahwa kelompok kampret dominan dibandingkan kelompok cebong. Kampret mampu membuat sebaran konten lebih tinggi 58% dibandingkan dengan sebaran yang dibuat oleh kelompok cebong dengan capaian 42%.

Gambar 6. Perbandingan Jumlah Sebaran Konten Bertemakan Cebong vs Kampret di Media Sosial
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Media Sosial

Lalu bagaimana warganet lainnya menanggapi sebaran konten cebong dan kampret. Analisa terhadap jumlah komentar di media sosial menunjukkan bahwa konten bertemakan cebong lebih banyak dikomentari dibandingkan kampret.

Konten-konten bertemakan cebong menuai komentar 67% lebih banyak dibandingkan dengan konten kampret. Jumlah tersebut setara dengan 159.320 komentar. Dilain pihak, konten bertema cebong dikomentari sebanyak 78.241 komentar.

Gambar 7. Perbandingan Jumlah Komentar Terhadap Sebaran Konten Bertemakan Cebong vs Kampret di Media Sosial
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Media Sosial

Kesimpulan

  1. Data periode Juli 2019 menunjukkan perseteruan antara cebong dan kampret tidak lantas menurun seiring dengan pertemuan rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo. Polarisasi cebong dan kampret ini diperkirakan akan terus berlangsung walaupun Jokowi dan Prabowo telah bersepakat tak ada lagi cebong dan kampret.
  2. Agenda politik lainnya selain Pilpres diperkirakan dapat menjadi pemicu perseteruan cebong dan kampret akan terus berlangsung. Misalnya dalam agenda Pilkada Gubernur DKI Jakarta (Baca: Mengapa Getah Getih Anies Baswedan Viral?)
  3. Data evello memperlihatkan bahwa kelompok kampret pada Juli 2019 dominan di media sosial dibandingkan cebong. Sementara, cebong memiliki kreativitas yang lebih dominan di kanal youtube dibandingkan kampret.

Pemadaman Listrik dalam Rekaman Big Data

Hari Minggu, 4 Agustus 2019, sekitar pukul 12.00 wilayah Cipedak Jagakarsa, Jakarta Selatan aliran listrik padam. Ternyata setelah lima belas menit, mulai ramai di WAG, pemadaman listrik ini bukan hanya di wilayah Jaksel, namun se-Jawa Bali. Artikel BBC menjelaskan bahwa penyebab pemadaman oleh gangguan pada jalur transmisi Ungaran dan Pemalang 500 kV, di Jawa Tengah, yang mengakibatkan kegagalan pasok energi dari timur ke barat Jawa, termasuk Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Penjelasan dari Pelaksana tugas direktur utama PLN, Sripeni Intan Cahyani, dalam keterangan pers di Jakarta, hari Minggu 4 Agustus 2019, mengatakan untuk kawasan ibu kota Jakarta, jika sesuai rencana dan sistem berjalan dengan baik, pasok listrik pulih dalam waktu sekitar tiga jam.

Dalam rekaman percakapan netizen, tampak adanya peningkatan mulai tanggal 4 Agustus 2019 pada target ‘Listrik Mati’ dan ‘PLN’. ‘Tensi’ turun seiring dengan normalnya kembali pasukan listrik. Dimana frekuensi percakapan mulai berkurang di tanggal 7 Agustus 2019.

Padamnya aliran listrik ini, berimbas pada gangguan internet, sinyal ponsel, transportasi publik dan transaksi perbankan. Besarnya skala percakapan seputar isu pemadaman listrik ini bisa kita ketahui dengan melihat Share Index. Jumlah agregat percakapan last seven days 79.560 ini cukup besar. Sebagai pembanding pada periode yang sama, pada interest IPOLEKSOSBUDHANKAM rerata total percakapan di angka 30 ribuan.

Bagaimana reaksi masyarakat ‘korban PLN’ ini bisa kita lihat jelas pada feed Result di Gambar 2 berikut.

Gambar 2. Feed result menggambarkan bagaimana respon masyarakat terhadap pemadaman listrik

Keluhan pengguna jasa PLN ini beragam, ada yang membandingkan dengan kejadian serupa di negara lain. Dimana setelah adanya insiden listrik padam di Taiwan, presidennya minta maaf dan menterinya minta undur diri.

Gambar 4. Sebaran percakapan Litrik mati dan PLN, periode 31 Juli-7 Agustus 2019

Menariknya, walaupun yang padam listrik terjadi pada area Jawa dan Bali, namun sebaran percakapan ke dua target ini merata di seluruh Indonesia. Seperti tersaji di Gambar 3 di atas. Ini membuktikan bahwa jika isu besar terjadi di Pulau Jawa, maka perbincangan warganet membesar dan akan menjadi isu nasional. (Ario)