Peluang Nurdin Abdullah Di Kancah Politik Nasional – Perspektif Big Data

Alasan pemilih suka atau tidak suka dengan kandidat peserta pemilu, bisa digolongkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu:

  1. Performa individu dalam memimpin/bekerja
  2. Faktor Personal (agama, suku, karakter, latar belakang, dll)
  3. Respon terhadap isu-isu spesifik

Seperti untuk Prabowo Subianto, aspek sentimen positif yang muncul dari pantauan Big Data Evello, dan setelah digolongkan menjadi seperti di Gambar 1 ini :

Gambar 1. Aspek sentimen positif Prabowo Subianto

Terlihat bahwa aspek sentimen positif disini juga merupakan alasan mengapa mereka memilih Prabowo Subianto. Sedangkan aspek sentimen negatif pada Gambar 2. yang juga merupakan isu yang dikemukakan oleh masyarakat yang tidak suka dengan Prabowo.

Gambar 2. Aspek sentimen negatif  Prabowo Subianto

Dengan memperhatikan dua gambar diatas, bisa kita ketahui bahwa alasan pemilihan kandidat presiden masih ditentukan oleh Faktor Personal. Bagaimana kinerja menjadi penyebab kedua, dan selanjutnya bagaimana respon kandidat terhadap suatu isu. Inilah alasan mengapa presiden untuk saat ini Islam dan Jawa. Sehingga pilihan Parpol saat menjaring bakal calon, dua faktor ini menjadi pertimbangan utama.

Sementara itu, di Sulawesi Selatan ada Nurdin Abdullah. Sosok yang sukses merubah Bantaeng. Bantaeng berubah dari awal masuk dalam 199 daerah tertinggal di Indonesia, sekarang menjadi pusat kekuatan ekonomi baru di Sulawesi Selatan, hanya dalam waktu 10 tahun. Jika diurai apa saja prestasinya, tidak cukup lima lembar folio untuk menjabarkannya.

Namun dalam pantauan Evello, popularitasnya masih kalah dengan Anies Baswedan. Padahal kisah sukses ini harusnya bisa menasional, agar bisa menginspirasi orang banyak. Memang sepi ing pamrih rame ing gawe Nurdin Abdullah ini.

Grafik Result dan Share Index Evello Pantauan Gubernur Periode 1 Januari s.d. 31 Juli 2019

Dari dua grafik di atas terlihat jelas, bagaimana gap ramainya percakapan pengguna media sosial dan publikasi wartawan, antara kepala daerah di Jawa dan diluar Jawa-tanpa mengecilkan prestasi RK, Ganjar dan kawan kawan. Namun jika yang terkenal hanya itu-itu saja, hanya dari Jawa saja, maka khalayak tidak tau betapa besar potensi yang dimiliki dari luar Jawa.

Selama ini faktor Jawa dan Islam menjadi sangat dominan. Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air menurut sensus BPS tahun 2010. Suku Jawa adalah kelompok terbesar di Indonesia dengan jumlah yang mencapai 41% dari total populasi. Islam menjadi agama dengan pemeluk terbanyak di negara dengan kode area +62 ini. Saat ini ada lebih dari 207 juta muslim di Indonesia.

Pemilihan Islam dan Jawa ini merupakan manifestasi dari rasa aman. Padahal jika dirunut dari alasan terpenting memilih pemimpin seharusnya adalah:

  1. Performa individu dalam memimpin/bekerja
  2. Respon terhadap isu-isu spesifik
  3. Faktor Personal (agama, suku, karakter, dll)

Untuk point 2 dan 3 bisa bertukar, karena yang terpenting adalah kinerja. Seperti yang sudah dibuktikan Nurdin Abdullah dan nanti menyusul Nurdin Nurdin lainnya, yang siap memperbaiki negeri ini, asal diberikan kepercayaan. Waktunya Nurdin Abdullah untuk berkontestasi dengan gubernur-gubernur di Tanah Jawa. Jadilah terkenal, gaungkan succes story Bantaeng, dan Sulawesi Selatan.

Jangan hanya berikan ‘rasa’ itu pada warga Sulawesi, biarkan masyarakat Indonesia juga berbahagia.

Ikan Asin Tayang 23 Juta Kali di Youtube Bukti Masyarakat Suka Gosip

Selain menyebut miss v Fairuz A Rafiq bau ikan asin, Galih Ginanjar juga menyebut kalau ia merasakan ukuran miss v sang mantan berbeda. Dari ukuran berbeda itu, Galih yakin kalau sang mantan sering gonta-ganti pasangan.

“Pas gue bukan ukurannya berbeda. Misalnya gini deh, misal lu suka pakai mobil Pablo (suami Rey Utami), ukuran jok berubah dong. Pablo masuk nih, nih siapa yang make nih mobil, nah gitu. Kok ngeblong. Semakin sempit kan semakin bagus, tapi ini makin blong. Perawatan apa yg makin blong?” kata Galih Ginanjar.

Demikian kutipan pernyataan Galih Ginanjar, seorang pesinetron dan mantan suami Fairuz A Rafiq seperti telah dirangkum oleh media Suara.com mengisahkan prahara rumah tangga mereka.

Ungkapan tak pantas dari masalah rumah tangga ini pun bergulir menjadi kasus hukum dengan tema “Ikan Asin”. Media, baik berita daring maupun elektronik pun tak urung ramai mengangkat kasus ini.

Evello mencatat, sejak kasus ini mencuat sejak awal Juli 2019, tercatat pemberitaan dengan tema ikan asin telah dimuat sebanyak 6.755 berita.

Berita dan unggahan status tentang kasus ikan asin tercatat telah disebar sebanyak 275.805 kali di media sosial. Jumlah sebaran kasus ikan berdasarkan penelitian Evello lebih banyak disebar masyarakat di media sosial dibandingkan isu Pendidikan, Kesehatan, Budaya, Keamanan dan Ekonomi.

Video bertemakan polemik Ikan Asin dengan jumlah View berdasarkan data Evello
Video bertemakan polemik Ikan Asin dengan jumlah View berdasarkan data Evello

Di kanal Youtube, video-video bertemakan kasus ikan asin telah diunggah sebanyak 214 video. Jumlah penayangan mencapai 23.353.407 view. Komentar pun berhamburan disampaikan Youtubers. Jumlahnya mencapai 52.643 komentar.

Video kasus ikan asin juga disukai sebanyak 220.202 jempol dan 21.227 jempol menyatakan tidak suka. Tingginya jumlah jempol pada video-video ikan asin mencapai jumlah lebih banyak dibandingkan jumlah jempol suka pada video-video politik pada periode pantau yang sama.

Menilai Tingkat Kepuasan Demokrasi Kita ; Perspektif Big Data

Ketidakpuasan berdemokrasi

Demokrasi telah berjalan cukup lama. Tercatat sejak tahun 508-507 SM, saat warga Athena membentuk negara yang dianggap sebagai negara demokrasi pertama. Kini di abad 21, bagaimana jalannya berdemokrasi ini secara umum di beberapa negara? Bagaimana Indonesia ?


Gambar 1. Hasil survei Pew Research Center seputar kepuasan berdemokrasi di 27 negara

Marah pada elit politik, ketidakpuasan keadaan ekonomi dan kecemasan tentang perubahan sosial yang cepat telah memicu pergolakan politik di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Seperti yang ditunjukkan temuan dari survei Pew Research Center, pandangan tentang performa sistem demokrasi terungkap buruk di banyak negara. Di 27 negara yang disurvei, rerata sebanyak 51% menyatakan tidak puas dengan bagaimana demokrasi berjalan di negara mereka; hanya 45% yang puas.

Hasil riset Pew Research Center seperti pada Gambar 1 menunjukkan bahwa munculnya ketidakpuasan berdemokrasi dipicu dengan kondisi ekonomi yang buruk, ketidakpedulian elit politik pada aspirasi dan tidak adanya perlindungan kebebasan berpendapat. Temuan ini melibatkan 30.133 orang di 27 negara dari 14 Mei hingga 12 Agustus 2018.

Penilaian tentang seberapa baik demokrasi berjalan sangat bervariasi di berbagai negara. Di Eropa, misalnya, lebih dari enam dari sepuluh orang Swedia dan Belanda puas dengan keadaan demokrasi saat ini, sementara mayoritas besar di Italia, Spanyol dan Yunani tidak puas.

Delapan dari sepuluh orang Amerika yang mengatakan situasi ekonomi nasional buruk juga tidak puas dengan kinerja demokrasi negara itu, dibandingkan dengan hanya 46% dari mereka yang percaya bahwa situasi ekonomi baik. Mengenai jaminan kebebasan berpendapat, tujuh dari 10 (74%) warga Amerika menjawab tidak berjalan baik, berbanding dengan 51% yang percaya adanya perlindungan pada hak kebebasan berpendapat. Kekecewaan dengan politisi juga bisa bermuara pada ketidakpuasan kinerja demokrasi. Masih di Amerika, 67% warganya percaya bahwa politisi kurang perhatian dan tidak mendengar suara konstituennya berbanding 44%, yang menganggap hal itu tidak benar.

Di India, tujuh dari sepuluh warganya (68%) menyuarakan ekonomi yang buruk. Responden yang percaya dengan perlindungan hak kebebasan berpendapat ada 52%. Sedangkan isu elit politik yang tidak berani menyuarakan kepentingan orang banyak dipercaya empat dari sepuluh orang (45%)

Kondisi demokrasi yang berjalan buruk di banyak negara di anggap umum. Di seluruh dunia, lebih banyak orang tidak bahagia dengan suasana demokrasi di negara mereka, termasuk di Indonesia. Banyak juga yang mengatakan para politisi di negara mereka korup, dan mereka yang memiliki pandangan ini secara konsisten lebih tidak puas dengan bagaimana demokrasi mereka berfungsi.

Di Indonesia terkuak enam dari sepuluh orang (56%) menyatakan kondisi ekonomi buruk dan tidak senang dengan kinerja demokrasi, dibanding dengan hanya 21% dari mereka yang percaya situasi ekonomi baik-baik saja.

Di Indonesia terkuak bahwa enam dari sepuluh orang (56%) menyatakan kondisi ekonomi buruk dan tidak senang dengan kinerja demokrasi, dibanding dengan hanya 21% dari mereka yang percaya situasi ekonomi baik-baik saja.

Selain itu, empat dari sepuluh orang Indonesia beranggapan bahwa elit politik tidak aspiratif. Sedangkan yang percaya dengan wakil rakyat mendengar keluhan masyarakat hanya 31%. Semetara kebebasan berpendapat di muka umum dilindungi negara, hanya diyakini oleh 32% responden.

Sebaliknya, mereka yang percaya lembaga-lembaga negara memiliki kinerja baik – seperti, pengadilan yang berlaku adil bagi semua orang atau adanya kebebasan mengekspresikan pandangan di depan umum – cenderung lebih puas dengan cara kerja demokrasi.

KPU dan Bawaslu dalam Evello Virality

Situasi demokrasi kita tercermin dari persepsi masyarakat tentang Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat ini. Fakta berdasarkan Evello Virality effect, big data mengamini hasil riset Pew Research Center ini. Virality Evello menunjukkan konten yang paling banyak dishare di platform facebook. Mengapa ini menjadi krusial? Selanjutnya hal ini akan dibahas terpisah.

Pada periode pantau 1 Oktober 2018 s.d. 13 Mei 2019, total berita yang diamati untuk KPU sebanyak 88.586 artikel dan Bawaslu 46.423 berita. Konten news tentang KPU telah dibagikan lebih dari 2.9 juta kali sedangkan publikasi Bawaslu disebar pengguna Facebook 1,5 juta kali.

Terungkap pada top eight news yang paling banyak dibagikan justru publikasi bernada negatif untuk KPU, seperti terlihat pada Gambar 2 di bawah ini

Gambar 2. Delapan berita seputar KPU yang paling banyak dibagikan netizen

Bagaimana dengan berita Bawaslu yang dibagikan di facebook? Lebih banyak berita positif yang dibagikan untuk Badan Pengawas Pemilu ini.

Berdasarkan Virality, kepercayaan dan dukungan bagi Bawaslu terlihat dari banyaknya berita yang berisi laporan. Delapan artikel Bawaslu pada Gambar 3 di bawah ini , merupakan berita yang paling mendapatkan atensi warganet.

Gambar 3. Berita BAWASLU yang paling mendapatkan atensi warganet.

 Facebook Sumber Informasi

Dewasa ini darimanakah pengguna internet mengakses berita? Apakah langsung ke portal berita atau dari media sosial? Pew Research Center melansir hasil survei di Amerika, Facebook menjadi tempat warganet mencari informasi. Pengguna internet lebih suka mengakses informasi dari media sosial, alih-alih langsung ke portal berita. Empat dari sepuluh orang Amerika (43%) mendapatkan berita dari Facebook. Disusul Youtube 21% dan Twitter ketiga 12%. Jelasnya seperti pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 4. Pilihan media sosial warganet Amerika untuk mengakses berita.

Reddit, Twitter, dan Facebook menonjol sebagai situs tempat sebagian besar pengguna menerima berita: 67% pengguna Facebook menerima berita di sana, seperti halnya 71% pengguna Twitter dan 73% pengguna Reddit . Namun, karena basis pengguna Facebook jauh lebih besar daripada Twitter atau Reddit, lebih banyak orang Amerika pada umumnya menerima berita di Facebook daripada di dua situs lainnya.

Sebaran berita Bawaslu sebanyak 2,9 juta dan KPU 1,5 juta kali menandakan tingginya respon publik terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia.

Di Indonesia juga mengalami hal yang mirip, dimana kencenderungan ini sudah disadari juga oleh perusahaan media. Perusahaan pers baik media cetak, elektronik maupun media online pun kini mempunyai akun resmi mereka di media sosial seperti fanpage Facebook, verified account Twitter, Instagram dan Youtube channel. Stasiun Televisi mempunyai ternakan akun media sosial untuk setiap acara atau program yang mereka siarkan. Sehingga media sosial sekarang menjadi channel tambahan bagi AE perusahan pers untuk mendulang cuan. Bahkan tersedia menu khusus media sosial di ratecard yang terpisah dari saluran inti bagi brand, jika ingin mendapatkan exposure di media sosial.

Sebaran berita Bawaslu sebanyak 2,9 juta dan KPU 1,5 juta kali menandakan tingginya respon publik terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia.

Kesimpulan

  1. Temuan Pew Research Center mengenai suasana berdemokrasi, di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menunjukkan peningkatan ketidakpuasan warga negara terhadap pelaksanaan demokrasi.
  2. Alasan tidak puas dengan demokrasi karena ekonomi yang buruk, elit politik yang tidak amanah dan menurunnya jaminan kebebasan berpendapat di muka umum.
  3. Analisis big data Evello membuktikan situasi demokrasi kita tercermin dari tingginya animo masyarakat pada lembaga penyelenggara pemilu. Masyarakat cenderung membagikan berita negatif tentang KPU dan berita positif Bawaslu.
  4. Pilihan konten Virality Evello yang disebarkan warganet pada poin 3 menunjukkan adanya ketidakpuasan dengan demokrasi kita. Sekaligus merupakan wujud dukungan untuk memperbaiki kondisi demokrasi Indonesia.
  5. Lembaga penyelenggara pemilu perlu menjawab ketidakpuasan masyarakat Indonesia, dalam bentuk perbaikan kinerja. Untuk meningkatkan kualitas demokrasi

Mengapa Getah Getih Anies Baswedan Viral?

Barangkali nama Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta adalah salah satu tokoh paling banyak diperbincangkan netizen. Melalui fasilitas yang dimilikinya, Evello sebagai aplikasi Big Data menjawab ya. Anies memang sedang ramai diperbincangkan netizen. Kapan ramainya?

Pada periode pantauan 14-21 Juli 2019 jumlah cuitan tentang Anies Baswedan mencapai jumlah 96.321 cuitan. Lalu berapa jumlah akun yang terlibat? cukup besar. Jumlahnya mencapai 38.278 akun twitter. Artinya, 96.321 cuitan Anies Baswedan berasal dari 38.278 akun twitter. Dengan rasio satu akun tiga cuitan (1:3), bisa dinilai bahwa bukan robot yang bekerja.

Gambar 1. Posisi Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI berbanding Gubernur Jabar, Jateng dan Jatim berdasarkan kuadran kicauan di twitter periode 14-21 Juli 2019.

Pada periode pantau yang sama, Anies diperbincangkan terpaut sedikit dengan Prabowo Subianto yang menjadi salah satu episentrum perbincangan politik di Indonesia. Prabowo dikicaukan oleh 43.279 akun twitter pada periode pantau yang sama. Berdasarkan pantauan Evello, perbincangan tentang Ketua Umum Partai Gerindra ini memiliki kecenderungan menurun.

Lalu apakah yang membuat Anies Baswedan ramai diperbincangkan netizen? Pertama adalah isu pembongkaran Instalasi seni bambu ‘Getah Getih’ di Bundaran HI. Kedua adalah isu politik yang berkaitan dengan jawaban Anies Baswedan soal impor besi dari Tiongkok.

Pembongkaran karya seni getah getih di bundaran HI meramaikan berita tentang Anies Baswedan berdasarkan pemantauan pada periode 14-21 Juli 2019. Bahkan berita pembongkaran getah getih adalah berita yang dominan disebar oleh netizen di media sosial berkaitan dengan Anies Baswedan.

Ramainya percakapan pembongkaran getah getih membuat Anies lebih ramai menarik perhatian publik dibandingkan isu lainnya berkaitan dengan Gubernur Jabar, Jateng dan Jatim seperti terlihat pada kuadran percakapan di twitter sesuai dengan Gambar 1.

Seberapa Viral Getah Getih di Media Sosial?

Pada periode 14-21 Juli 2019 jumlah berita tentang Anies tercatat mencapai 676 berita. Sebaran berita-berita tentang Anies di media sosial mencapai jumlah 16.709 kali. Dengan sebaran sebanyak itu, Anies Baswedan adalah Gubernur dengan link berita disebar terbanyak di media sosial.

Berikut adalah gambaran bagaimana sebaran berita Anies Baswedan di media sosial jika dibandingkan dengan Gubernur lainnya di pulau Jawa seperti Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo dan Khofifah Indar Parawangsa.

Gambar 2. Sebaran berita Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di media sosial jika dibandingkan dengan Gubernur Jabar, Jateng dan Jatim periode 14-21 Juli 2019.

Pertanyaannya, isu apakah yang membuat sebaran berita Anies di media sosial lebih tinggi. Berdasarkan penelusuran Evello dari 100 berita dengan sebaran terbanyak, pembongkaran instalasi bambu getah getih adalah berita dengan sebaran tertinggi di media sosial.

Gambar 3. Tiga berita tentang getah-getih dengan sebaran terbanyak di media sosial periode 14-21 Juli 2019.

Mengapa Getah-Getih Ramai?

Berita dengan sebaran tertinggi menjawab mengapa pembongkaran getah getih makin ramai dibahas di media sosial. Berita dari media detik.com adalah berita terbanyak dibagikan di media sosial dengan judul “Bambu Getah Getih Dikritik, Anies: Kalau Pilih Besi Impor dari Tiongkok” menjawab pertanyaan tersebut. Anies dituding memberikan jawaban rasis atas pertanyaan besarnya biaya intalasi seni bambu getah getih.

Jika diperhatikan lebih jauh, berita ke-9 terbanyak disebar di media sosial mengangkat kritik kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany tentang sebutan dan impor besi dari Tiongkok oleh Anies Baswedan.

Gambar 4. Berita ke-9 terbanyak disebar di jejaring media sosial mengangkat kritik kader PSI tentang penggunaan nama Tiongkok. Dalam berita disebutkan pernyataan Anies mengangkat sentimen tertentu di mata publik.

Viralnya berita getah getih di media sosial sejalan dengan apa yang dikicaukan sebagian besar netizen. Menurut mereka Anies membangkitkan sentimen di publik dengan menyebutkan impor besi dari Tiongkok.

https://twitter.com/permadiaktivis/status/1152771599851909120

Pun demikian, kritik tersebut tidak diterima oleh sebagian netizen lainnya. Sebagian netizen menyebutkan tidak ada yang salah dengan ungkapan Anies Baswedan tersebut dan tidak berhubungan dengan sentimen tertentu.

Berdasarkan analisa di atas, maka pembongkaran instalasi getah getih berbiaya 550 juta bukan satu-satunya faktor penyebab ramainya percakapan publik. Jawaban Anies tentang impor besi dari Tiongkok menjadi isu lanjutan yang membuat “getah getih” ramai menjadi percakapan.

Lalu mengapa ungkapan impor besi dari Tiongkok ramai menjadi percakapan publik? Berdasarkan analisa keterlibatan netizen dalam theme clouds, hal ini tidak lepas dari politik Pilkada DKI 2017 lalu. Dalam analisa theme Clouds, muncul akun milik mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, @basuki_BTP. Munculnya akun twitter milik Basuki Tjahaja Purnama menunjukkan ada upaya untuk membandingkan era kepemimpinan saat Ahok menjabat sebagai Gubernur dan Anies saat ini.

Gambar berikut ini memperlihatkan siapa saja yang terlibat dalam percakapan pembongkaran getah getih dan impor besi dari Tiongkok dengan pengaruh terbesar.

Gambar 5. Keterlibatan akun-akun berpengaruh terhadap percakapan tentang Anies Baswedan.

Kesimpulan

Berdasarkan data-data yang muncul seputar Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, ramainya isu pembongkaran instalasi seni bambu getah getih tidak terlepas dari isu politik. Hal tersebut terlihat dari analisa sebaran berita di media media sosial dan keterlibatan akun-akun dengan pengaruh tinggi di seputar akun Anies Baswedan.

Nunung, Narkoba dan Reaksi Netizen

Nunung menambah panjang daftar para pemain grup lawak, Srimulat yang terjerat kasus narkoba. Tercatat empat anggota Srimulat sudah lebih dulu tertangkap atas kasus narkoba.

Seperti diketahui, Nunung ditangkap di rumahnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat siang, 19 Juli kemarin. Nunung tak bisa berkelit saat polisi menggeledah dan menemukan barang bukti sabu-sabu seberat 0,36 gram di dalam kamar Nunung.

Selain Nunung, polisi juga menangkap suami Nunung, July Jan Sambiran dan seorang kurir narkoba Hadi Moherianto alias Heri. Kepada polisi, Nunung mengaku baru membeli satu paket sabu seberat dua gram. Namun, barang bukti tersebut sempat dia buang ke toilet saat polisi menggerebek rumahnya.

https://twitter.com/Timhen4/status/1152370598762258432

Penangkapan Nunung membuat reaksi netizen Indonesia seperti terekam dalam sistem Evello meningkat. Narkoba menjadi isu dengan sebaran tertinggi dibadingkan tema lainnya seperti begal atau pembunuhan.

Percakapan bertema Narkoba bisa dikatakan merata di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan. Di Medan, isu Begal masih menjadi perhatian utama dibandingkan isu Narkoba.

Sebaran percakapan netizen Indonesia berdasarkan tema kriminal pasca penangkapan terhadap komedian Nunung

Kasus begal sebelumnya ramai menjadi perhatian masyarakat setelah Tim Pegasus Polsek Medan Timur akhirnya berhasil meringkus komplotan begal sadis dengan cara menyamar menjadi emak-emak.

Sementara itu, berdasarkan data Evello, kasus pembunuhan ramai menjadi perbincangan netizen pada 18 Juli 2019. Hal ini dipicu oleh gugatan empat pengamen atas kasus pembunuhan Dicky Maulana (20) di kolong jembatan samping Kali Cipulir, Jakarta Selatan, pada 2013.

Dalam gugatan praperadilan, mereka meminta kepada PN Jaksel memerintahkan Polda Metro Jaya, Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, dan Kementerian Keuangan untuk mengaku bersalah dan memberikan ganti rugi secara material dan imateriil.

Begal dan Narkoba menjadi isu terbanyak diperbincangkan netizen Indonesia pada periode 13-20 Juli 2019.

Jika diperhatikan pada gambar di atas, jika tidak ada isu begal dan penangkapan terhadap komedian Nunung, maka isu Narkoba adalah isu yang konsisten ramai diperbincangkan netizen.

Pada periode pantauan yang sama, pemberitaan dengan tema narkoba menguasai jumlah berita hingga 37,7% lebih banyak dibandingkan dengan tema kriminalitas lainnya.

Berturut-turut kasus Begal, Pembunuhan dan Penipuan menjadi materi berita terbanyak diluar berita tentang narkoba.

Share Index jumlah berita isu-isu kriminal pada periode pantau 13-20 Juli 2019. Isu Narkoba menjadi topik terbanyak diberitakan dibandingkan isu kriminalitas lainnya.

Masyarakat Acuh Tanggapi Isu Poligami. Pendidikan Dianggap Lebih Penting

Wacana Pemerintah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) membuat rancangan Qanun Hukum Keluarga yang salah satu babnya membahas poligami ternyata tidak menjadi isu penting di masyarakat.

Dengan kata kunci “Poligami”, data evello menunjukkan pada periode 1-18 Juli 2019 Poligami hanya diberitakan sebanyak 361 kali berita. Sementara, tema pendidikan pada periode yang sama diberitakan sebanyak 16.100 berita.

Walaupun tidak sebanyak tema pendidikan, tema pekerjaan diberitakan sebanyak 7.389 kali berita.

Share Index tema poligami dalam pemberitaan mencapai 1.5% jika dibandingkan dengan tema Pendidikan dan Pekerjaan. Data Periode 1-18 Juli 2019.

Jika ketiga isu dibandingkan dalam perolehan berita pada periode 1-18 Juli 2019, prosentase isu poligami hanya mencapai 1.5%. Porsi berita pendidikan dominan hingga 67%.

Berita-berita berkaitan dengan pendidikan juga memiliki nilai populer/viral di masyarakat. Melalui fasilitas Virality, Evello menemukan bahwa berita pendidikan terbanyak dibagikan melalui media sosial sebesar 101.491 shared.

Tema pekerjaan dibagikan oleh pengguna media sosial mencapai 54.086 Shared. Sementara isu poligami dibagikan sebanyak 2.021 shared.

Popularitas tema berita berdasarkan jumlah sebaran berita di kanal Facebook periode 1-18 Juli 2019.

Berdasarkan sebaran sebanyak 1,2% dibandingkan tema pendidikan dan pekerjaan, tim peneliti evello menyimpulkan bahwa isu pendidikan lebih menarik masyarakat.

Kisah guru honorer dan wacana penghapusan pendidikan agama di sekolah menjadi isu yang dominan dibagikan masyarakat di kanal media sosial.